

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Ada satu momen yang paling berbahaya dalam hidup manusia dan sering kali ia datang tanpa suara. Bukan ketika seseorang mencuri. Bukan ketika ia terang-terangan menindas. Bahkan bukan ketika ia meninggalkan agama secara terbuka. Bahaya itu justru muncul pada saat yang lebih halus: ketika seseorang merasa sedang membela kebenaran, tetapi diam-diam

Ada ironi yang berulang dalam sejarah manusia dan Al-Qur’an menyebutnya tanpa tedeng aling-aling. Ia bukan tentang orang-orang yang tak pernah mengenal kebenaran, melainkan tentang mereka yang pernah berada di puncak hidayah, lalu tergelincir mundur. Sebuah kemunduran yang bukan sekadar stagnasi, tetapi kemerosotan spiritual dan peradaban. Dalam bahasa yang tajam, ini