

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Ada satu pertanyaan yang mungkin diam-diam pernah terlintas di benak banyak orang beriman: seandainya kita hidup di masa Nabi, melihat langsung sosoknya, menyaksikan mukjizatnya, berjalan bersamanya di medan perjuangan—bukankah itu puncak keimanan? Bukankah tak ada yang bisa melampaui generasi para sahabat? Sebuah riwayat lama justru mengguncang asumsi itu. Dikisahkan,