

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Ada masa ketika sebuah gagasan tampak kecil, bahkan rapuh—dibicarakan di ruang-ruang terbatas, diperdebatkan oleh segelintir orang, dan diragukan oleh banyak pihak. Tapi sejarah sering bergerak dengan cara yang tak terduga. Ia diam-diam mengumpulkan energi, menumbuhkan keyakinan, hingga pada satu titik berubah menjadi gelombang besar yang tak bisa dibendung. Gelombang itu

Pada 19 April 1939, di kota suci Mashhad—wilayah Khorasan, Iran—lahir seorang anak dari keluarga ulama miskin yang kelak mengubah arah politik negaranya. Namanya Sayyed Ali Khamenei. Ia bukan anak pejabat, bukan pula keturunan elite politik. Ia tumbuh di rumah kecil berukuran sekitar 65 meter persegi: satu ruangan sempit dan sebuah