

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Pidato Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs dalam Pertemuan dengan Menteri dan Wakil Menteri Pendidikan dan Pengajaran serta Sejumlah Guru dan Para Pelajar Provinsi Teheran 16 Juni 1989 Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Sesungguhnya peristiwa pahit dan musibah berat kehilangan pemimpin besar kita dan imam agung kita,

Pidato Imam Khamenei dalam Pertemuan dengan Berbagai Lapisan Masyarakat pada Peringatan Tahunan ke-47 Kemenangan Revolusi Islam Pembukaan بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله ربّ العالمين، والصّلاة والسّلام على سيّدنا ونبيّنا أبي القاسم المصطفى محمّد وعلى آله الأطيبين الأطهرين المنتجبين، [ولا] سيما بقية الله في الأرضين. Dengan nama Allah Yang Maha

Maedeh Zaman Fashami, Jurnalis dan Peneliti Saat meninjau transformasi sosial dan politik besar, salah satu indikator terpenting adalah tingkat dan kualitas partisipasi perempuan. Revolusi Islam Iran tidak terkecuali. Meskipun banyak catatan resmi cenderung berfokus pada tokoh laki-laki dan aksi politik yang terlihat, pengamatan lebih dekat menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah