

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Jutaan manusia bergerak menuju satu arah yang sama. Mereka meninggalkan rumah, pekerjaan, rutinitas, bahkan identitas sosial yang selama ini melekat kuat. Di hadapan Ka’bah, manusia kembali menjadi manusia—tanpa gelar, tanpa status, tanpa batas. Seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi hati untuk mengingat sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.