

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Perdebatan tentang perempuan dalam Islam tak pernah benar-benar sunyi. Ia muncul di ruang akademik, media sosial, hingga meja makan keluarga modern. Sebagian melihat Islam sebagai pembatas ruang gerak perempuan, sebagian lain memandangnya sebagai sistem yang justru mengangkat martabat perempuan. Di tengah tarik-menarik tafsir ini, pemikiran yang kerap disampaikan oleh Imam