

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Suatu bangsa bisa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kalah dalam menjelaskan kebenaran. Kekalahan itu sunyi, tak berdarah, namun merambat pelan melalui kabut keraguan, simpang-siur informasi, dan kata-kata setengah hati dari mereka yang seharusnya berbicara. Di sinilah sebuah konsep penting mengemuka: Jihad Tabyin (Jihad Narasi) atau perjuangan dalam menjelaskan
