

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Sepanjang sejarah, perang sering kali lebih dari sekadar konflik militer semata—perang adalah momen menentukan yang membentuk kembali masa depan tatanan global. Beberapa perang menandai bangkitnya suatu kekuatan, sementara yang lain menjadi sinyal keruntuhannya. Perang Amerika Serikat dengan Iran termasuk dalam kategori terakhir: sebuah pertempuran yang dimaksudkan untuk memamerkan kekuatan Amerika,

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan babak baru dalam peta kekuatan di kawasan Teluk Persia. Melalui pesan resmi yang dirilis Jumat malam, IRGC menegaskan bahwa “aturan main” dan formula manajemen baru di wilayah perairan strategis tersebut telah dirumuskan dan siap dijalankan berdasarkan instruksi bersejarah dari Pemimpin Tertinggi Revolusi

Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei hf, dalam sebuah pesan memperingati 10 Ordibehesht (30 April), Hari Nasional Teluk Persia, menekankan bahwa setelah dua bulan berlalu sejak mobilisasi militer dan agresi terbesar oleh para penguasa zalim dunia di kawasan ini, sebuah babak baru bagi Teluk Persia dan Selat Hormuz telah dimulai. Beliau menilai


Brigadir Jenderal Reza Talaee Nik menyampaikan pernyataan tersebut setibanya di Kirgistan untuk menghadiri pertemuan menteri pertahanan negara-negara anggota SCO (Organisasi Kerja Sama Shanghai). Kedatangannya disambut oleh Jenderal Talantbek Talipov, komandan Pasukan Pertahanan Udara Kirgistan. Jenderal Iran tersebut menyatakan bahwa AS tidak lagi berada dalam posisi untuk mendiktekan kebijakan-kebijakannya kepada negara-negara




