

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Di luar riuh rendah suara mesiu di medan laga, konflik soft power acap kali melahirkan gelombang reaksi yang sulit ditebak. Sejarah mencatat, setelah serangan 11 September 2001, dunia justru menyaksikan lonjakan minat baca Al-Qur’an yang tajam, memaksa penerbit-penerbit Barat merilis ulang kitab suci itu demi memuaskan rasa ingin tahu publik.