Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 31): Keindahan Al-Qur’an Tak Pernah Habis, Mukjizat pada Lafaz, Irama, dan Makna

KHAMENEI.ID – Ada teks yang semakin lama dibaca semakin terasa biasa. Ada pula teks yang justru seperti menyimpan sesuatu di balik setiap kalimatnya. Sekali dibaca, ia memberi kesan. Dibaca kembali, muncul makna lain. Digali lebih dalam, seakan masih ada ruang yang belum tersentuh.

Dalam penjelasan Imam Ali Khamenei qs tentang mukjizat Al-Qur’an pada Surah Al-Baqarah ayat 23–24, salah satu sisi kemukjizatan itu terletak pada sesuatu yang tampak sederhana: kata-kata yang dipilih Al-Qur’an. Bukan hanya apa yang dikatakan, melainkan bagaimana sesuatu dikatakan. Keindahan lafaz, susunan kalimat, irama, keluasan tema, dan kedalaman maknanya bertemu dalam satu kitab.

Bahasa Arab memiliki tradisi sastra yang panjang. Para penyair dan sastrawan mengenal betul bagaimana sebuah kalimat dapat dibuat indah. Karena itu, orang-orang yang menguasai bahasa Arab menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu ukuran ketika berbicara tentang ketepatan dan keindahan bahasa. Ayat-ayatnya dikutip untuk menunjukkan bagaimana sebuah kata digunakan secara tepat, bagaimana suatu makna disampaikan, dan bagaimana susunan kalimat menghasilkan keindahan.

Di sini letak persoalannya: keindahan Al-Qur’an bukan sekadar keindahan bunyi. Ia adalah pertemuan antara lafaz dan makna.

Bukan Puisi, tetapi Memiliki Irama

Ketika Al-Qur’an dibaca, ada sesuatu yang segera terasa pada telinga. Susunan kata dan perpindahan dari satu ayat ke ayat berikutnya menghasilkan irama khas. Ia bukan syair dalam pengertian puisi yang terikat oleh pola metrum tertentu. Namun, ia juga bukan susunan kalimat biasa yang berjalan tanpa irama.

Ada keteraturan bunyi, panjang-pendek ungkapan, pengulangan tertentu, dan susunan kata yang membuat bacaan Al-Qur’an memiliki resonansi tersendiri.

Tentu, seseorang perlu mampu membedakan kata dan rangkaian kalimat untuk merasakan irama itu secara utuh. Orang yang tidak memahami bahasa Al-Qur’an mungkin tetap menangkap keindahan suaranya, tetapi ketika sedikit saja memahami maknanya, batas antara satu ungkapan dan ungkapan lainnya menjadi lebih jelas. Bunyi dan makna kemudian tidak berdiri sendiri. Keduanya saling menguatkan.

Baca Juga  Ketika Tauhid Menjadi Kekuatan yang Mengguncang Dominasi Kekuatan Dunia

Al-Qur’an seolah tidak meminta manusia memilih antara keindahan suara dan kedalaman pesan. Keduanya hadir bersamaan.

Keistimewaan itu semakin tampak ketika Al-Qur’an berbicara tentang hal-hal yang sangat berbeda. Ia dapat berbicara tentang kehidupan dunia:

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.”

Kalimat yang singkat itu tetap memiliki kekuatan bahasa. Namun pada bagian lain Al-Qur’an dapat membawa pembaca ke dalam kisah, ancaman, gambaran kenikmatan, perdebatan dengan orang-orang yang mengingkari kebenaran, atau uraian tentang kehidupan manusia. Perubahan tema tidak membuat kualitas bahasanya kehilangan daya.

Ketika Tema Tidak Mengalahkan Keindahan

Dalam karya sastra manusia, seorang pengarang sering memiliki wilayah yang paling kuat. Seorang penyair mungkin sangat unggul ketika menggambarkan peperangan, tetapi tidak selalu sama kuat ketika berbicara tentang tema lain.

Ferdowsi, misalnya, dikenal dengan kekuatan kisah-kisah kepahlawanan dan peperangan. Saadi memiliki keindahan dalam banyak wilayah, tetapi bagian tertentu dalam penggambaran perang dapat dinilai tidak sekuat karya-karyanya yang lain. Hafez mencapai puncak keindahan dalam ghazal, tetapi karya-karyanya dalam bentuk lain tidak selalu memberikan kesan yang sama.

Begitulah karya manusia. Ada puncak-puncak tertentu. Ada wilayah yang menjadi kekuatannya, dan ada wilayah lain yang mungkin tidak sekuat itu.

Al-Qur’an, menurut pandangan Imam Khamenei, menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara tentang surga dan azab, tentang orang beriman dan orang yang mengingkari, tentang ketidakpedulian terhadap dunia, tentang kehidupan manusia, bahkan tentang situasi yang sangat intim dan menggoda seperti kisah istri Al-Aziz ketika mengejar Yusuf di ruang tertutup. Namun perubahan tema itu tidak membuat keindahan ungkapannya runtuh.

Di sinilah salah satu sisi mukjizatnya terlihat: Al-Qur’an tidak hanya indah ketika membicarakan tema tertentu. Keindahan lafaznya menyertai berbagai tema yang dibicarakannya.

Baca Juga  Syuhada dan Makna Pengorbanan: Ketika Iman Menjadi Garis Pertahanan

Indah Tanpa Harus Mengarang

Ada persoalan lain yang lebih dalam: hubungan antara keindahan dan kenyataan.

Dalam sastra, imajinasi sering menjadi sumber keindahan. Semakin jauh seseorang dapat mengembangkan gambaran dari kenyataan, semakin luas pula ruang artistiknya. Nizami Ganjavi, misalnya, memilih kisah-kisah seperti Layla-Majnun, Khosrow-Shirin, dan Iskandarnameh sebagai bahan karya sastra. Dunia imajinasi memberikan ruang yang luas bagi penyair untuk mengembangkan gambaran, perasaan, dan peristiwa.

Ada ungkapan Nizami:

در شعر مپیچ و در فن او
چون اکذب اوست و احسن او

Kurang lebih, dalam dunia puisi terdapat hubungan yang menarik antara keindahan dan kebebasan imajinasi; bahkan ungkapan yang paling indah sering kali lahir dari ruang yang paling jauh dari kenyataan literal.

Namun Al-Qur’an menempuh jalan yang berbeda.

Ia tidak membutuhkan kebohongan atau rekayasa imajinatif untuk menjadi indah. Kisah-kisahnya tetap berada dalam kenyataan yang hendak disampaikannya. Ia tidak perlu menambahkan sesuatu yang tidak terjadi demi menghasilkan efek sastra.

Di sinilah keindahan makna Al-Qur’an menjadi persoalan yang lebih besar. Ia dapat mencapai keindahan tanpa meninggalkan kebenaran.

Kisah tetap menjadi kisah. Kenyataan tetap menjadi kenyataan. Tetapi ketika disampaikan melalui susunan lafaz Al-Qur’an, ia memperoleh daya bahasa yang luar biasa.

Kitab yang Seakan Tidak Memiliki Dasar

Kemukjizatan itu tidak berhenti pada kata dan irama. Ada pula sesuatu yang terasa ketika seseorang terus-menerus menggali maknanya: Al-Qur’an seakan tidak memiliki dasar.

Secara fisik, Al-Qur’an bukanlah kitab yang sangat tebal. Jumlah halamannya terbatas. Ayat-ayatnya juga terbatas. Tetapi keterbatasan jumlah itu tidak otomatis berarti keterbatasan makna.

Seseorang dapat membaca terjemahannya saja dan menemukan sesuatu untuk direnungkan. Orang yang kemudian mempelajari bahasanya dapat menemukan lapisan lain. Orang yang mendalami tafsir dapat menemukan lapisan berikutnya. Demikian pula mereka yang menghabiskan hidupnya dalam ilmu dan perenungan terhadap Al-Qur’an.

Baca Juga  Membaca Al-Qur'an, Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Semakin dalam seseorang masuk, semakin luas pula cakrawala yang terbuka.

Ia seperti laut. Permukaannya dapat dilihat siapa saja. Tetapi semakin jauh seseorang menyelam, semakin banyak pula yang belum dijangkaunya.

Karena itu, kedalaman Al-Qur’an menjadi bagian lain dari kemukjizatannya. Bukan karena manusia tidak dapat memahami apa yang dikatakannya, tetapi justru karena manusia dapat terus memahami dan menemukan kedalaman baru tanpa sampai pada titik yang membuat kitab itu kehilangan daya renungnya.

Para ulama dan orang-orang yang mendalami jalan pengenalan kepada Allah swt pun berbicara tentang kedalaman Al-Qur’an yang tidak berujung. Setiap generasi datang dengan pertanyaan dan pengalaman zamannya sendiri, lalu kembali kepada kitab yang sama.

Kitabnya tidak berubah. Yang berubah adalah manusia yang membacanya.

Mungkin di situlah salah satu rahasia mengapa mukjizat Al-Qur’an tidak selesai hanya dengan keindahan satu ayat atau kekaguman pada satu susunan kata. Mukjizat itu hadir dalam keseluruhan bangunan: lafaz yang indah, irama yang khas, makna yang dalam, kemampuan berbicara tentang berbagai keadaan manusia, dan keluasan yang tidak habis ketika terus direnungkan.

Surah Al-Baqarah kemudian menutup rangkaian ayat ini dengan peringatan:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Jika kamu tidak melakukannya—dan kamu tidak akan mampu melakukannya—maka takutlah terhadap neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”

Ayat ini membawa pembahasan kembali pada konteks mukjizat Al-Qur’an. Namun setelah melihat keindahan lafaz, irama, keluasan tema, kesatuan antara keindahan dan kebenaran, serta kedalaman maknanya, tantangan itu tidak lagi tampak sekadar sebagai persoalan membuat rangkaian kata yang indah.

Yang dipersoalkan adalah keseluruhan kemampuan manusia untuk menghadirkan sesuatu yang memiliki karakter seperti Al-Qur’an.

Dan mungkin karena itu, setiap kali manusia merasa telah sampai pada dasar maknanya, Al-Qur’an justru seperti membuka satu pintu lagi.

Bagikan:
Terkait
Komentar