

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Masa muda sering dipahami sebagai masa untuk menikmati hidup sebelum tanggung jawab semakin berat. Padahal, dalam pandangan Syahid Sayyid Ali Khamenei qs, masa muda justru merupakan salah satu kesempatan paling menentukan dalam perjalanan manusia. Di hadapan seorang pemuda terbentang medan yang luas: puluhan tahun kehidupan, pekerjaan, pembelajaran, perjuangan,

KHAMENEI.ID– Pernikahan sering dimulai dengan sesuatu yang sederhana: dua manusia saling memilih, lalu berjanji untuk berjalan bersama. Tetapi sebelum janji itu sempat menjadi kehidupan, ia kadang telah dikelilingi terlalu banyak angka, pesta, tuntutan, dan perhitungan. Pernikahan yang semestinya menjadi awal perjalanan justru berubah menjadi proyek besar yang menguras tenaga, uang, bahkan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika menjadi revolusioner terasa mudah. Suasana sedang bergolak, perubahan menjadi bahasa sehari-hari, dan keberanian mendapat tepuk tangan. Orang-orang muda berdiri dengan keyakinan, mengucapkan kalimat-kalimat yang menyala, menentang kemapanan dan merasa berada di sisi sejarah. Namun sejarah memiliki ujian yang jauh lebih panjang daripada keberanian sesaat: bertahan. Di sinilah

KHAMENEI.ID –Perempuan telah menjadi salah satu komoditas paling mahal dalam ekonomi modern. Tubuhnya dijual melalui iklan, kecantikannya dikemas dalam industri hiburan, citranya diperdagangkan oleh media, dan hasrat terhadapnya menjadi bahan bakar bisnis yang nyaris tak pernah berhenti. Di balik bahasa tentang kebebasan dan pilihan individual, ada pasar yang terus menghitung:

KHAMENEI.ID – Rumah semestinya menjadi tempat pertama seorang perempuan menemukan rasa aman. Di sanalah ia pulang setelah berhadapan dengan dunia, melepaskan lelah, dan merasa terlindungi. Tetapi ketika rumah justru berubah menjadi ruang ketakutan—karena makian, penghinaan, ancaman, atau kekerasan fisik—maka ada sesuatu yang mendasar dalam kehidupan sosial yang telah runtuh. Dalam

KHAMENEI.ID – Perdebatan tentang perempuan tidak pernah benar-benar hanya soal perempuan. Di balik pembicaraan tentang hak, kebebasan, kewajiban, pakaian, pekerjaan, keluarga, dan ruang publik, terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar: manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh sebuah masyarakat? Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, persoalan perempuan memiliki cakupan yang luas.

KHAMENEI.ID – Setiap kali isu perempuan Iran muncul dalam pemberitaan internasional, narasi yang paling sering diangkat adalah tentang “penindasan” dan “pembelaan hak-hak perempuan”. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, di balik slogan-slogan tersebut tersembunyi persoalan yang jauh lebih mendasar. Yang dipersoalkan Barat bukan semata-mata hak perempuan, melainkan posisi strategis perempuan

Menjawab hiruk-pikuk perdebatan global tentang kedudukan perempuan, Islam menghadirkan pilihan konkrit melalui teladan agung yang tak pernah lekang oleh waktu. Kelahiran putri Rasulullah Saw, Sayyidah Fatimah az-Zahra, bukan sekadar peristiwa historis. Tetapi lebih tepat digambarkan sebagai momen untuk merenungkan kembali hakikat martabat kemanusiaan yang selama ini terabaikan. Imam Ali Khamenei,

Dalam dialektika yang terus bergulir mengenai relasi gender, sering kali perdebatan kehilangan esensi proporsionalitas yang ditawarkan oleh ajaran Islam. Islam tidak memosisikan laki-laki dan perempuan dalam arena kompetisi yang saling meniadakan, melainkan dalam bingkai harmoni pelengkap yang saling menguatkan. Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, dalam serangkaian khutbah

Perjalanan membina rumah tangga adalah kanvas kehidupan yang dilukis dengan warna-warni kasih sayang, pengertian, dan usaha bersama dari suami dan istri. Keindahan hidup berumah tangga bukanlah anugerah yang jatuh begitu saja, melainkan hasil dari keterampilan dan pemeliharaan yang konsisten oleh kedua belah pihak. Generasi muda yang baru melangkah diawal bahtera









