

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika manusia dinilai dari jumlah pengikut, gelar, jabatan, dan pencapaian yang terpampang di ruang publik, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apa sebenarnya yang membuat seseorang bernilai di hadapan Tuhan? Pertanyaan itu menjadi semakin jelas ketika kita berbicara tentang Fatimah Az-Zahra. Banyak orang mengenalnya sebagai putri Nabi

KHAMENEI.ID– Ada satu penyakit yang diam-diam sedang menggerogoti kehidupan modern: manusia semakin banyak bicara, tetapi semakin sedikit merasa harus mempertanggungjawabkan ucapannya. Orang bisa menyebar fitnah dalam hitungan detik lalu menghilang tanpa rasa bersalah. Pejabat bisa membuat keputusan besar yang menghancurkan hidup banyak orang, tetapi tetap tampil tenang di depan kamera.

KHAMENEI.ID– Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika hidup sedang terasa berat: mengapa saya harus mengalami semua ini? Pertanyaan itu lahir saat tubuh sakit, usaha gagal, rezeki terasa sempit, atau ketika seseorang harus memikul beban yang tampaknya tidak pernah selesai. Dalam dunia modern yang mengagungkan kenyamanan dan kecepatan, penderitaan

KHAMENEI.ID— Ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang dari sejarah manusia: takut jatuh ketika sedang meniti sesuatu yang sempit. Di zaman modern, manusia mungkin tidak lagi berjalan di atas jembatan kayu rapuh di atas jurang, tetapi setiap hari sebenarnya ia sedang meniti sesuatu yang jauh lebih berbahaya: jalan hidupnya sendiri.

KHAMENEI.ID— Ada ironi yang diam-diam tumbuh dalam kehidupan modern: manusia hari ini memiliki teknologi yang mampu mengendalikan dunia, tetapi gagal mengendalikan dirinya sendiri. Kita bisa memesan makanan dalam hitungan menit, melampiaskan amarah lewat satu unggahan, membeli apa pun hanya dengan sentuhan jari, tetapi semakin sulit berkata “cukup” kepada keinginan sendiri.

KHAMENEI.ID— Ada momen-momen dalam hidup ketika manusia kalah bukan karena lawannya terlalu kuat, melainkan karena dirinya sudah lebih dulu merasa kecil. Rasa takut datang diam-diam, membesar di kepala, lalu melumpuhkan langkah sebelum pertempuran benar-benar dimulai. Di zaman modern, bentuknya bisa bermacam-macam: takut gagal, takut kehilangan pekerjaan, takut melawan ketidakadilan, atau

KHAMENEI.ID— Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan modern: manusia semakin pandai menghitung waktu, tetapi semakin gagal menghargainya. Kita menciptakan jam digital, kalender elektronik, aplikasi produktivitas, bahkan kecerdasan buatan untuk menghemat menit demi menit kehidupan. Namun di tengah semua itu, manusia justru makin merasa hidupnya kosong, terburu-buru, dan kehilangan makna. Waktu

KHAMENEI.ID— Ada satu pertanyaan yang terus menghantui sejarah politik manusia: apakah sebuah pemerintahan otomatis menjadi benar hanya karena dipilih banyak orang? Dalam dunia modern, kita sering diajarkan bahwa legitimasi lahir dari suara mayoritas. Pemilu dianggap cukup untuk menentukan siapa yang berhak memimpin. Tetapi tradisi Islam klasik mengajukan pertanyaan yang lebih

KHAMENEI.ID— Ada masa ketika hidup terasa seperti badai yang tak selesai-selesai. Seseorang kehilangan pekerjaan, usaha runtuh, keluarga retak, kesehatan melemah, atau harga dirinya dihancurkan oleh keadaan. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi diam-diam merasa patah di dalam. Dunia modern bahkan melahirkan jenis kelelahan baru: tubuh masih berjalan, tetapi jiwa

KHAMENEI.ID—Setiap hari jutaan Muslim membaca Surah Al-Fatihah. Lisan mereka berulang kali mengucapkan: اهدِنَا الصِّراطَ المُستَقیمَ صِراطَ الَّذینَ أَنعَمتَ عَلَیهِم “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.” Tetapi ada pertanyaan yang jarang benar-benar direnungkan: siapa sebenarnya “orang-orang yang diberi nikmat” itu? Banyak orang membacanya sebagai doa









