

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Siapa sebenarnya yang berhak menentukan nasib dunia? Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun sejak berakhirnya perang-perang besar hingga hari ini, dunia terus hidup dengan sebuah kenyataan yang sulit dibantah: tidak semua negara memiliki suara yang sama. Ada negara yang keputusannya dapat mengubah nasib jutaan manusia di luar wilayahnya. Ada

KHAMENEI.ID – Kekuatan militer sering datang dengan sebuah alasan yang terdengar mulia. Menjaga keamanan. Melindungi perdamaian. Menstabilkan kawasan. Tetapi sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah kehadiran kekuatan asing benar-benar menciptakan stabilitas, atau justru membawa konflik baru? Pertanyaan itulah yang dikemukakan Imam Ali Khamenei qs ketika berbicara tentang kehadiran

KHAMENEI.ID – Ada sebuah kekuatan yang sering diremehkan oleh penguasa: rakyat yang tidak lagi takut. Selama ketakutan masih hidup, kekuasaan dapat bertahan dengan tentara, polisi, penjara, dan propaganda. Tetapi ketika rasa takut itu runtuh, senjata yang paling modern sekalipun mulai kehilangan pengaruhnya. Begitulah Imam Ali Khamenei qs menggambarkan salah satu

KHAMENEI.ID– Ada luka yang tak kunjung menutup bukan karena waktu berhenti, melainkan karena dunia terus menolak melihatnya. Palestina adalah salah satunya. Selama puluhan tahun, tanah itu menjadi tempat sebuah bangsa kehilangan rumah, tanah air, dan ruang hidupnya sendiri, sementara dunia yang mengaku menjunjung hak asasi manusia berkali-kali menyaksikannya dari kejauhan. Bagi

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus bertahan hingga hari ini: semakin jauh seseorang dari urusan dunia, semakin dekat ia kepada Tuhan. Rumah yang sederhana dianggap lebih suci daripada rumah yang nyaman. Pakaian lusuh dipandang lebih mulia daripada pakaian yang layak. Bahkan, ada yang mengira bahwa meninggalkan keluarga, harta, dan kenikmatan hidup merupakan

KHAMENEI.ID– Politik sering dipahami sebagai seni memenangkan pertarungan. Dalam arena itu, kecerdikan dipuji, strategi dielu-elukan, dan kemampuan membaca kelemahan lawan dianggap syarat mutlak seorang pemimpin. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: jika kemenangan hanya bisa diraih dengan tipu daya, masih pantaskah ia disebut kemenangan? Di tengah sejarah yang penuh intrik,

KHAMENEI.ID– Ada banyak orang yang rela mengorbankan harta, jabatan, bahkan waktu demi sesuatu yang mereka anggap berharga. Namun sejarah hanya mencatat sedikit manusia yang rela menyerahkan seluruh hidupnya, tanpa menyisakan ruang bagi kepentingan diri sendiri. Dalam tradisi Islam, sosok itu menemukan bentuk paling utuh pada Imam Ali bin Abi Thalib a.s.

KHAMENEI.ID– Ada kesedihan yang tidak lahir karena kekalahan. Ia justru muncul ketika kemenangan telah lewat, peperangan telah usai, tetapi sahabat-sahabat seperjuangan satu per satu telah tiada. Kesedihan semacam itulah yang pernah menyelimuti hati Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Bukan kesedihan seorang pemimpin yang kehilangan kekuasaan, melainkan duka seorang manusia yang

KHAMENEI.ID– Tidak semua peperangan lahir dari ambisi merebut kekuasaan. Sebagian justru bermula dari penolakan terhadap ketidakadilan yang telah dianggap biasa. Itulah yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali a.s. Tiga perang besar yang mengguncang dunia Islam; Perang Jamal, Perang Shiffin, dan Perang Nahrawan, bukan sekadar konflik politik. Di balik denting pedang

KHAMENEI.ID – Setiap tahun, dunia menyaksikan sebuah fenomena yang sulit ditemukan tandingannya dalam sejarah manusia. Jutaan orang berjalan menuju satu tujuan yang sama: Karbala. Mereka berasal dari berbagai negara, bahasa, budaya, bahkan mazhab. Mereka tidak disatukan oleh kepentingan politik ataupun ekonomi, melainkan oleh cinta kepada Imam Husain as dan keyakinan









