

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika profesi guru sering diukur dari gaji, sertifikasi, atau jabatan administratif, kita kerap lupa bahwa pendidikan sesungguhnya adalah pekerjaan yang mengubah nasib manusia. Seorang guru bukan sekadar penyampai informasi. Ia adalah penunjuk jalan. Dan dalam pandangan Islam, posisi itu begitu mulia hingga hubungan antara murid dan guru

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika profesi guru sering diukur dari gaji, sertifikasi, atau jabatan administratif, kita kerap lupa bahwa pendidikan sesungguhnya adalah pekerjaan yang mengubah nasib manusia. Seorang guru bukan sekadar penyampai informasi. Ia adalah penunjuk jalan. Dan dalam pandangan Islam, posisi itu begitu mulia hingga hubungan antara murid dan guru

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang sering muncul dalam percakapan publik modern. Ketika sebuah negara memperkuat angkatan bersenjatanya, sebagian orang segera mencurigainya sebagai tanda ambisi perang. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan kenyataan yang berbeda: bangsa yang kuat justru sering kali lebih mampu menjaga perdamaian dibanding bangsa yang rapuh. Keamanan adalah kebutuhan yang sering

KHAMENEI.ID– Ada sebuah ironi yang sering luput kita sadari dalam dunia pendidikan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal, pendidikan sejatinya lahir dari perjumpaan manusia dengan manusia, bukan dari hubungan antara penguasa dan yang dikuasai. Kita terbiasa mendengar bahwa murid harus

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa yang memudar seiring berjalannya waktu. Ia datang seperti riak air setelah batu dilempar ke kolam: sesaat mengembang, lalu perlahan hilang tanpa jejak. Namun ada pula peristiwa yang justru mengalami hal sebaliknya. Semakin jauh dari hari kejadiannya, semakin besar gaungnya. Semakin lama berlalu, semakin jelas maknanya. Di antara

KHAMENEI.ID – Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi tokoh-tokoh besar, ada satu sosok yang keagungannya melampaui batas-batas usia, gender, dan zaman. Ia bukan seorang panglima perang, bukan pula penguasa sebuah negeri. Namun ketika ia memasuki ruangan, manusia paling mulia di muka bumi berdiri menyambutnya. Bukan sekadar berdiri, tetapi melangkah mendekat

KHAMENEI.ID – Siapa bilang Islam membatasi ruang gerak wanita? Fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Topik mengenai kehadiran sosial kaum wanita dan kontribusi mereka dalam berbagai persoalan kemasyarakatan senantiasa menjadi titik perdebatan yang menarik sekaligus penuh tantangan di tengah masyarakat dan peradaban yang berbeda-beda. Di bumi Iran sendiri, beragam sikap yang cenderung

KHAMENEI.ID – Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut tampil memukau setiap saat—bukan karena kebahagiaan pribadi, melainkan agar dinikmati oleh pandangan laki-laki. . Apakah itu bentuk kebebasan atau justru perbudakan modern? Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam beberapa pertemuan khusus dengan peseerta perempuan menyatakan bahwa fenomena ini tak lain merupakan “ketidakadilan”

KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, nama Ali bin Abi Thalib a.s disebut dengan penuh cinta. Majelis-majelis dipenuhi pujian tentang keberanian, ilmu, dan ketakwaannya. Air mata mengalir ketika kisah hidupnya dibacakan. Namun sebuah pertanyaan penting sering luput diajukan: apakah mencintai Ali a.s sudah cukup? Pertanyaan itu terasa tajam di zaman sekarang, ketika simbol

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang terus berulang dalam kehidupan politik modern: bahwa kekuasaan adalah tujuan. Karena itu, pemilu diperlakukan sebagai medan perang, kursi jabatan dianggap puncak pencapaian, dan kemenangan menjadi ukuran utama keberhasilan. Namun, dalam pandangan Islam, politik sesungguhnya dimulai dari titik yang berbeda. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah.

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahan yang kerap berulang dalam sejarah: ketika sebuah gerakan besar berhasil mengubah nasib bangsa, selalu muncul kelompok yang merasa paling berhak atas warisan perubahan itu. Mereka menganggap diri sebagai pemilik rumah, sementara generasi berikutnya hanya tamu yang menumpang. Padahal, justru di titik itulah banyak revolusi kehilangan ruhnya.