KHAMENEI.ID – Ada cara sederhana untuk mengenang Nabi Muhammad: memperbanyak pujian, menggelar perayaan, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Tetapi bagi Imam Khamenei, cara semacam itu terlalu kecil untuk seorang Nabi yang pengaruhnya melampaui zamannya.
Dalam sebuah pidato di hadapan para peziarah dan warga sekitar Haram Imam Ali Ridha, Imam Ali Khamenei qs menggambarkan Nabi Muhammad saw bukan sekadar sebagai tokoh agama, melainkan sebagai pusat dari sebuah gagasan besar tentang manusia, masyarakat, pemerintahan, ilmu pengetahuan, keadilan, dan peradaban.
Beliau menyebut Nabi Muhammad saw sebagai sosok yang menghimpun keutamaan para nabi dan orang-orang saleh sebelumnya. Dalam diri beliau, menurut Imam Khamenei, kualitas yang tersebar dalam sejarah kenabian menemukan bentuk yang utuh.
Ada Ibrahim as dengan keteguhannya. Ada Nuh as dengan kesabarannya. Ada Musa as dengan perjuangannya. Ada Isa as dengan kelembutannya. Semua itu, dalam pandangan tersebut, seakan bertemu dalam satu pribadi.
Karena itu, Imam Khamenei menggunakan perumpamaan yang menarik. Nabi Muhammad saw bukan sekadar seperti matahari yang berdiri sebagai satu benda langit yang terang. Beliau lebih menyerupai galaksi: sebuah jagat yang di dalamnya terdapat ribuan titik cahaya.
Perumpamaan itu bukan sekadar retorika. Ia menjelaskan cara Imam Khamenei membaca kepribadian Nabi Muhammad saw: tidak ada satu sisi yang boleh dipisahkan dari sisi lainnya.
Ilmu, misalnya, tidak berdiri sendirian. Ia berjalan bersama akhlak. Kekuasaan tidak dipisahkan dari kebijaksanaan. Ibadah kepada Allah swt tidak membuat manusia menjauh dari pelayanan kepada sesama. Jihad tidak menghapus kasih sayang. Kecintaan kepada Allah swt berjalan bersama kecintaan kepada makhluk-Nya.
Bahkan terdapat pasangan-pasangan yang sekilas tampak bertentangan: kemuliaan bersama kerendahan hati, kecanggihan membaca zaman bersama pandangan jauh ke depan, kejujuran bersama kecerdasan politik, dan perhatian terhadap kehidupan dunia bersama orientasi kepada akhirat.
Di sinilah gagasan tentang Nabi Muhammad menjadi relevan bagi dunia modern.
Kita hidup dalam zaman ketika kualitas manusia sering dipisahkan ke dalam kotak-kotak. Seorang ilmuwan tidak selalu dituntut memiliki kedalaman moral. Seorang pemimpin dapat dianggap berhasil meski kebijaksanaannya miskin. Ekonomi dapat tumbuh tanpa keadilan. Teknologi dapat berkembang tanpa pertanyaan tentang dampaknya terhadap manusia.
Imam Khamenei justru melihat Nabi Muhammad saw sebagai antitesis dari keterpisahan tersebut.
Kesempurnaan manusia tidak terletak pada satu kemampuan yang berkembang secara ekstrem, tetapi pada kemampuan menyatukan berbagai dimensi kehidupan tanpa kehilangan pusat moralnya.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan misi Nabi dengan rangkaian peran yang luas:
اِنّا اَرسَلناکَ شاهِدًا وَ مُبَشِّرًا وَ نَذیرًا وَ داعِیًا اِلَى اللّهِ بِاِذنِهٖ وَ سِراجًا مُنیرًا
“Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, pemberi peringatan, dan sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya serta sebagai pelita yang menerangi.” (QS Al-Ahzab: 45–46)
Ayat itu memperlihatkan bahwa misi kenabian tidak berhenti pada ritual. Nabi menjadi saksi atas manusia dan sejarah, pembawa harapan sekaligus peringatan, penyeru menuju Tuhan, serta cahaya yang membantu manusia menemukan jalan.
Maka ketika sebuah masyarakat mengaku mencintai Nabi, pertanyaannya bukan hanya seberapa sering nama beliau disebut. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: seberapa jauh kehidupan masyarakat itu mencerminkan nilai yang beliau bawa?
Itulah sebabnya Imam Khamenei menilai tahun yang didedikasikan untuk Nabi Muhammad semestinya menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Negara dan masyarakat harus berusaha menyesuaikan kehidupan mereka dengan apa yang disebutnya sebagai hikmah kenabian, ilmu kenabian, pemerintahan kenabian, keadilan kenabian, akhlak, kemuliaan, kerendahan hati, serta perpaduan jihad dan rahmat.
Tentu saja, membangun masyarakat semacam itu bukan pekerjaan satu tahun.
Justru di situlah letak pesannya.
Nabi Muhammad saw bukan “milik” tahun atau hari peringatan tertentu. Beliau bukan tokoh yang relevansinya muncul karena sebuah kalender menetapkan hari atau momen tertentu sebagai peringatan. Seluruh sejarah umat Islam memiliki hubungan dengan beliau. Setiap zaman harus menemukan kembali makna keteladanan Nabi dalam persoalan zamannya sendiri.
Ada dimensi lain yang juga penting. Bagi Imam Khamenei, Nabi Muhammad saw merupakan titik temu umat Islam. Perbedaan mazhab, bangsa, bahasa, dan latar belakang tidak menghapus satu kesamaan fundamental: kecintaan kepada Rasulullah saw.
Dalam dunia Islam yang sering berhadapan dengan perpecahan politik dan identitas, gagasan ini memiliki konsekuensi besar. Nabi bukan sekadar figur yang diperebutkan dalam perdebatan identitas. Beliau dapat menjadi titik temu yang memungkinkan umat melihat kepentingan bersama yang lebih besar.
Bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi merancang masa depan. Bukan hanya berbicara tentang keutamaan Nabi, tetapi menerjemahkannya menjadi kerja sosial. Bukan hanya mengagungkan sejarah, tetapi membangun masyarakat yang memiliki ilmu, keadilan, martabat, kasih sayang, dan visi peradaban.
Beliau menyebut hal ini sebagai pandangan yang jauh, harapan, kerja, pengabdian, perjuangan, dan perencanaan cerdas untuk masa depan.
Pesannya menjadi semakin relevan justru karena dunia modern memiliki begitu banyak kemajuan tetapi juga begitu banyak keterpecahan. Teknologi berkembang cepat, tetapi manusia belum tentu menjadi lebih bijaksana. Kekayaan bertambah, tetapi ketimpangan tetap ada. Informasi melimpah, tetapi kebenaran semakin sulit dibedakan dari manipulasi.
Dalam situasi seperti itu, keteladanan Nabi Muhammad saw dapat dibaca bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai pertanyaan tentang arah.
Kemajuan macam apa yang ingin dibangun? Pemerintahan seperti apa yang layak disebut berhasil? Seperti apa hubungan antara ilmu dan moral? Bagaimana kekuatan dapat berjalan bersama kasih sayang? Dan bisakah sebuah masyarakat mengejar kemajuan tanpa kehilangan martabat manusianya?
Bagi Imam Khamenei, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar berada di masa depan. Sebagiannya telah ditunjukkan dalam kehidupan Nabi Muhammad saw.
Maka memperingati Nabi pada akhirnya bukan hanya soal mengingat siapa beliau.
Ia adalah soal memutuskan ingin menjadi masyarakat seperti apa setelah kita mengingatnya?







