Baca Al-Qur’an, Berpikir, Lalu Bergerak: Pesan Sayyid Ali Khamenei untuk Generasi Muda

KHAMENEI.ID – Apa gunanya pengetahuan jika tidak pernah melahirkan tindakan? Dan apa artinya semangat perubahan jika tidak didasarkan pada pemikiran yang matang? Bagi Sayyid Ali Khamenei qs, dua pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang mampu memanfaatkan zamannya.

Ia tidak mengajak anak muda sekadar memenuhi kepala dengan informasi. Ia justru menekankan rangkaian yang lebih mendasar: berpikir, belajar, mengenali keadaan, kemudian bertindak ketika tindakan memang diperlukan.

Urutan ini penting. Sebab tindakan tanpa pemikiran dapat berubah menjadi tindakan yang salah arah. Sebaliknya, pemikiran tanpa tindakan dapat membuat pengetahuan berhenti sebagai wacana.

Menurut Imam Khamenei, agar manusia dapat merencanakan kehidupannya dengan benar, ia harus terlebih dahulu belajar berpikir dengan benar. Salah satu sumber utama yang ia tekankan adalah Al-Qur’an. Anak muda didorong untuk membaca Al-Qur’an, merenungkannya, dan belajar dari orang-orang yang telah lebih dahulu mendalami kandungannya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an dalam pandangan Syahid Imam Khamenei bukan sekadar kitab yang dibaca untuk memperoleh pahala. Ia juga merupakan sumber pembentukan cara pandang. Manusia diajak untuk tidak hanya membaca teks, tetapi bertanya tentang makna, tujuan, dan hubungan pesan ilahi dengan kehidupan nyata.

Namun, belajar dari Al-Qur’an tidak berarti menutup diri dari pengetahuan manusia. Justru Khamenei menegaskan bahwa belajar dari orang yang lebih dahulu memiliki pengalaman bukanlah sesuatu yang memalukan. “Belajar bukanlah aib, melainkan kehormatan,” demikian inti pesannya.

Pandangan ini relevan dengan persoalan generasi modern. Di tengah arus informasi yang begitu deras, tantangan terbesar bukan selalu kekurangan informasi. Sering kali masalahnya justru bagaimana memilah informasi, memahami konteks, dan menentukan mana yang layak dijadikan dasar tindakan.

Baca Juga  Islam dan Krisis Peradaban: Obat bagi Luka-Luka Manusia Modern

Karena itu, seorang anak muda membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengakses informasi. Ia membutuhkan kemampuan berpikir.

Membaca, mempelajari sejarah, memahami keadaan sosial, mengenali persoalan politik, dan mendalami agama menjadi bagian dari proses tersebut. Semua itu membantu seseorang mengetahui kapan ia harus berbicara, kapan harus belajar lebih dahulu, dan kapan harus bertindak.

Imam Khamenei kemudian memperluas makna “tindakan”. Ia tidak membatasinya pada satu bentuk perjuangan tertentu. Bagi seorang mahasiswa, tindakan dapat berlangsung di laboratorium atau ruang kelas. Bagi seorang akademisi, ia dapat berupa penelitian. Dalam lingkungan kampus, ia bisa berupa aktivitas intelektual dan sosial. Dalam kehidupan masyarakat, ia dapat berarti mengambil tanggung jawab sosial. Dalam ruang politik, ia dapat berupa keterlibatan terhadap persoalan bangsa.

Bahkan, dalam kerangka perjuangan Islam yang ia gunakan, tindakan dapat dikaitkan dengan perjalanan ke Karbala, dukungan terhadap Palestina, maupun menyuarakan tujuan-tujuan luhur Islam.

Artinya, tindakan selalu berkaitan dengan konteks. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Yang dituntut adalah kesadaran bahwa pengetahuan memiliki konsekuensi.

Seseorang yang mengetahui persoalan tetapi sama sekali tidak peduli terhadapnya pada akhirnya menjadikan pengetahuannya mandul. Sebaliknya, orang yang bertindak tanpa memahami persoalan dapat terjebak dalam reaksi spontan dan kehilangan arah.

Karena itu, pemuda yang ideal dalam pandangan Khamenei bukan sekadar pemuda yang aktif. Ia adalah pemuda yang berpikir sebelum bertindak dan bertindak ketika telah memahami apa yang harus dilakukan.

Gagasan ini juga terkait dengan pandangannya mengenai Revolusi Islam. Imam Khamenei menyebut Revolusi Islam sebagai peristiwa yang membuka jalan dan menciptakan kesempatan baru bagi masyarakat Iran. Generasi yang lebih tua, katanya, mengalami masa ketika jalan tersebut belum terbuka. Generasi muda setelah revolusi kemudian mewarisi ruang yang lebih luas untuk bergerak.

Baca Juga  Keadilan Imam Ali: Cinta Saja Tidak Cukup Tanpa Mengikuti Jejaknya

Tetapi warisan sejarah tidak otomatis menjadi masa depan. Jalan yang telah terbuka tetap membutuhkan orang yang mau berjalan di atasnya.

Di titik inilah pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi mana pun. Setiap zaman memiliki “jalan” dan “kesempatan”-nya sendiri. Ada laboratorium yang menunggu penelitian, ruang kelas yang menunggu gagasan, masyarakat yang membutuhkan kepedulian, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang menuntut keberanian untuk mengambil sikap.

Masa muda menjadi berharga bukan semata-mata karena seseorang memiliki energi lebih besar. Ia berharga karena masih tersedia waktu yang panjang untuk belajar, memperbaiki kesalahan, membangun kemampuan, dan mengubah pengetahuan menjadi karya.

Al-Qur’an menyebut keberhasilan orang beriman dengan kalimat yang ringkas namun mendalam: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun: 1).

Keberuntungan dalam kerangka ini bukan keberuntungan pasif. Ia berkaitan dengan pilihan dan usaha manusia. Kesempatan yang terbuka harus diisi dengan pembelajaran. Pembelajaran harus melahirkan pemahaman. Pemahaman harus membantu menentukan tindakan.

Maka, pesan Imam Khamenei kepada anak muda sesungguhnya dapat diringkas menjadi sebuah alur sederhana: baca, renungkan, belajar, kenali keadaan, lalu bertindak.

Sebab masa depan tidak dibentuk hanya oleh mereka yang memiliki kesempatan, tetapi oleh mereka yang mampu mengenali kesempatan itu dan menggunakannya sebelum waktu berlalu.

Bagikan:
Terkait
Komentar