KHAMENEI.ID– Ada kekalahan yang tidak bermula di medan perang. Ia lahir jauh sebelumnya, ketika orang-orang yang seharusnya saling menopang memilih diam. Ketika tangan yang mestinya terulur justru disimpan di balik punggung. Ketika setiap orang merasa urusan saudaranya bukan lagi urusannya.
Dalam pandangan Imam Ali bin Abi Thalib a.s, kekalahan seperti itu bukanlah kebetulan. Ia adalah akibat yang hampir pasti.
Dengan kalimat yang pendek namun menghentak, beliau bersumpah:
غُلِبَ وَاللهِ الْمُتَخَاذِلُونَ
“Demi Allah, orang-orang yang saling membiarkan dan enggan saling menolong pasti akan mengalami kekalahan”
Kata kunci dalam peringatan itu adalah mutakhādzilūn: orang-orang yang membiarkan satu sama lain. Bukan musuh yang membuat mereka lemah, melainkan sikap saling melepaskan tanggung jawab. Yang satu melihat saudaranya terjatuh, tetapi merasa bukan urusannya. Yang lain menyaksikan ketidakadilan, tetapi memilih aman dalam diam. Sedikit demi sedikit, ikatan yang menyatukan mereka pun rapuh.
Di titik inilah Imam Ali a.s mengingatkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak pertama-tama ditentukan oleh banyaknya senjata, melainkan oleh kuatnya solidaritas. Sebuah komunitas mungkin memiliki sumber daya melimpah, jumlah besar, bahkan kemampuan yang mengagumkan. Namun jika setiap orang berjalan sendiri-sendiri, kekuatan itu berubah menjadi sekumpulan potensi yang tercerai-berai.
Lebih dari seribu tahun lalu, Imam Ali a.s menyampaikan khutbah yang lahir dari situasi politik yang sulit. Sebagian pengikutnya enggan bergerak menghadapi ancaman dari Syam. Mereka lamban mengambil keputusan, mudah ragu, dan kehilangan keberanian. Namun jika ditarik lebih jauh, kritik itu ternyata melampaui zamannya. Ia berbicara kepada setiap masyarakat yang mulai kehilangan rasa kebersamaan.
Dalam khutbah tersebut beliau berkata:
أَنْتُمْ تُكَادُونَ وَلَا تَكِيدُونَ
“Mereka terus menyusun tipu daya terhadap kalian, sementara kalian tidak menyusun strategi menghadapi mereka”
Kalimat itu tidak sedang mengajarkan kelicikan. Yang ditekankan adalah pentingnya kesadaran, kecerdasan, dan kesiapan menghadapi tantangan. Ancaman tidak pernah berhenti bekerja. Persaingan tidak pernah tidur. Ketidakadilan terus mencari celah. Jika sebuah masyarakat memilih pasif, maka sesungguhnya ia sedang menyerahkan masa depannya kepada pihak lain.
Dalam kehidupan modern, bentuk ancaman itu tidak selalu hadir sebagai perang bersenjata. Ia bisa berupa perang informasi, manipulasi opini, polarisasi sosial, hingga ketergantungan ekonomi dan teknologi. Semua itu bergerak melalui perencanaan yang matang. Karena itu, masyarakat yang lengah akan selalu berada satu langkah di belakang.
Namun Imam Ali a.s tidak berhenti pada kritik terhadap musuh. Yang lebih keras justru diarahkan kepada pengikutnya sendiri. Beliau menggambarkan mereka seperti sekawanan unta yang kehilangan penggembala: setiap kali berhasil dikumpulkan dari satu arah, mereka kembali tercerai-berai dari arah lain. Gambaran itu terasa begitu relevan hingga hari ini.
Betapa sering sebuah komunitas gagal bukan karena kekurangan orang-orang baik, melainkan karena orang-orang baik tidak pernah benar-benar bekerja bersama. Masing-masing sibuk dengan lingkarannya sendiri, membawa agenda sendiri, dan merasa cukup dengan kesalehan pribadi. Akibatnya, energi yang besar habis dalam perpecahan kecil.
Dalam konteks yang lebih luas, solidaritas bukan hanya soal membantu ketika musibah datang. Solidaritas adalah kesediaan untuk menjaga kehormatan sesama, membela yang dizalimi, berbagi ilmu, menguatkan yang lemah, dan mengingatkan ketika ada yang mulai menyimpang. Ia adalah kesadaran bahwa nasib individu tidak pernah sepenuhnya terpisah dari nasib masyarakatnya.
Karena itulah Imam Ali a.s memandang kepemimpinan bukan sebagai hak untuk ditaati semata, tetapi sebagai amanah timbal balik. Di akhir khutbahnya beliau mengingatkan bahwa pemimpin memiliki kewajiban memberikan nasihat, mendidik masyarakat, membagikan hak-hak mereka secara adil, dan mencerdaskan mereka agar tidak hidup dalam kebodohan. Sebaliknya, masyarakat pun memiliki tanggung jawab untuk menjaga komitmen, memberikan dukungan yang jujur, memenuhi panggilan ketika diperlukan, dan menaati aturan yang ditegakkan demi kemaslahatan bersama.
Hubungan semacam itu bukan hubungan antara penguasa dan rakyat yang saling curiga. Ia adalah hubungan yang dibangun di atas kepercayaan. Ketika salah satu pihak mengabaikan tanggung jawabnya, bangunan sosial perlahan mulai retak.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: kekalahan sering kali bermula dari kelemahan karakter. Orang yang membiarkan kezaliman tumbuh karena takut kehilangan kenyamanan, sesungguhnya telah memberi ruang bagi kekalahan itu sendiri. Orang yang memilih diam ketika melihat saudaranya diserang sedang membuka pintu agar suatu hari dirinya mengalami nasib yang sama.
Mungkin karena itulah Imam Ali a.s menggunakan sumpah. Beliau tidak mengatakan bahwa orang-orang yang saling membiarkan mungkin akan kalah. Beliau berkata bahwa mereka pasti kalah. Sebab hukum kehidupan memang demikian. Sebuah bangunan yang setiap batanya enggan menopang batu lain tidak akan pernah bertahan lama.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang semakin terhubung, tetapi ironisnya semakin mudah terpecah. Teknologi membuat komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, tetapi tidak selalu menghadirkan kepedulian. Kita mengetahui begitu banyak persoalan, namun sering kali merasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap apa pun selain diri sendiri.
Di tengah situasi seperti itu, pesan Imam Ali a.s terasa seperti cermin yang memantulkan keadaan kita. Kekuatan umat tidak hanya diukur dari jumlah pengikut atau besarnya sumber daya, tetapi dari kemampuan mereka untuk saling menguatkan, menyusun strategi bersama, dan berdiri sebagai satu tubuh ketika menghadapi tantangan.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memiliki kekuatan terbesar. Sejarah juga mencatat siapa yang kehilangan kekuatan karena membiarkan persaudaraan berubah menjadi sikap saling meninggalkan. Dan mungkin, sebagaimana sumpah Imam Ali a.s berabad-abad silam, kekalahan paling menyakitkan bukanlah ketika musuh lebih kuat, melainkan ketika kita berhenti menjadi penolong bagi sesama.







