Di Antara Kekuasaan dan Air Mata Palestina 

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan yang diam-diam menentukan arah sebuah peradaban: di mana agama harus ditempatkan ketika manusia berbicara tentang kemajuan?

Di ruang modern, pertanyaan itu sering dianggap telah selesai. Kemajuan dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, kebebasan individu, pertumbuhan ekonomi. Agama, jika masih diperlukan, cukup ditempatkan di ruang batin di masjid, gereja, rumah, atau hati seseorang. Ia boleh dipercaya, tetapi jangan terlalu jauh ikut menentukan bagaimana kehidupan bersama diatur.

Di situlah, pada pidato yang disampaikan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs dalam pertemuan dengan para imam shalat Jumat Iran, terletak salah satu ciri pokok identitas peradaban Barat: pemisahan agama dari kehidupan sosial dan politik. Dalam logika tersebut, seseorang masih boleh beragama secara pribadi. Tetapi ketika masyarakat hendak menentukan arah kehidupan, agama dianggap sebaiknya menepi.

Republik Islam Iran, dalam pidato tersebut, justru dibangun sebagai sanggahan terhadap pemisahan tersebut. Revolusi Iran tidak sekadar hendak mengganti penguasa, melainkan membawa agama kembali ke pusat percakapan tentang negara, masyarakat dan kemajuan. Keberadaan republik Islam dipandang sebagai eksperimen historis: mungkinkah agama tidak hanya bertahan di tengah modernitas, tetapi juga menjadi salah satu sumber gagasan tentang bagaimana sebuah masyarakat bergerak maju?

Di sinilah perdebatan menjadi lebih menarik daripada sekadar pertentangan antara “agama” dan “Barat”.

Sebab sejarah modern menunjukkan bahwa hubungan agama dan kemajuan tidak pernah sesederhana dua kutub yang saling meniadakan. Modernitas melahirkan kebebasan, ilmu pengetahuan dan institusi politik yang mengubah dunia, tetapi juga membawa pertanyaan tentang batas moral kekuasaan, ketimpangan, kolonialisme, perang dan martabat manusia. Sebaliknya, agama dapat menjadi sumber etika dan solidaritas, tetapi sejarah juga memperlihatkan bagaimana agama dapat dipakai untuk membenarkan kekuasaan.

Baca Juga  Mengapa Nabi Muhammad saw Ditakuti? Pelajaran Besar dari Sejarah yang Masih Menggetarkan Dunia 

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan sekadar apakah agama boleh hadir dalam kehidupan publik. Pertanyaannya: agama seperti apa, dan kemajuan untuk siapa?

Syahid Ali Khamenei qs mengutip ayat Al-Qur’an yang menggambarkan kalimat yang baik seperti pohon yang baik:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik?”
(QS. Ibrahim: 24)

Perumpamaan pohon itu menarik bila dibaca dalam konteks yang lebih luas. Pohon tidak hidup karena batangnya saja. Ia bertahan karena akar yang menancap, cabang yang tumbuh, dan kemampuan untuk menghadapi musim. Sebuah gagasan pun demikian. Ia tidak menjadi kuat hanya karena diteriakkan. Ia harus berakar dalam pengalaman manusia.

Bagi Iran, keberadaan republik Islam dipandang sebagai pembuktian bahwa gagasan politik yang berangkat dari agama tidak otomatis lenyap ketika berhadapan dengan modernitas. Ia dapat bertahan, berkembang, bahkan memengaruhi perdebatan di luar batas negaranya.

Tetapi dari titik ini, narasi tersebut bergerak menuju medan yang jauh lebih getir: Palestina.

Hari Al-Quds, yang diperingati untuk menunjukkan solidaritas terhadap Palestina, ditempatkan dalam pidato itu bukan semata sebagai sebuah agenda tahunan. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap sesuatu yang dianggap lebih besar daripada persoalan wilayah. Palestina dipandang sebagai ujian bagi cara dunia memahami keadilan.

Di sana muncul sebuah paradoks yang kuat: Palestina disebut sebagai bangsa yang tertindas sekaligus memiliki daya. Lemah dalam menghadapi kekuatan militer dan politik yang jauh lebih besar, tetapi kuat karena tidak membiarkan persoalannya menghilang dari ingatan dunia.

“Yang tertindas tetapi kuat” adalah gambaran yang sulit dicerna oleh logika kekuasaan. Dalam ukuran konvensional, kekuatan ditentukan oleh senjata, ekonomi, teknologi dan aliansi. Namun sejarah juga mengenal jenis kekuatan lain: kemampuan sebuah bangsa untuk bertahan ketika hampir semua orang berharap ia menyerah.

Baca Juga  Mengapa Langit Memilih Muhammad? Rahasia Hati yang Siap Menerima Wahyu 

Karena itu, persoalan Palestina dalam pidato tersebut tidak berhenti pada simpati. Ia berubah menjadi pertanyaan tentang strategi dan keberpihakan. Syahid Ali Khamenei mengkritik anggapan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel otomatis menjadi jalan menuju berkurangnya kekerasan terhadap Palestina. Ia menunjuk pengalaman Mesir dan Yordania yang menjalin hubungan dengan Israel sebagai contoh bahwa diplomasi, dalam pandangan tersebut, tidak dengan sendirinya menghapus konflik ataupun menghentikan penindasan.

Namun sejarah Palestina menunjukkan persoalan yang lebih rumit. Diplomasi, perlawanan, normalisasi, boikot, bantuan kemanusiaan dan tekanan internasional semuanya berada dalam arena yang saling bertabrakan. Tidak ada satu jalan sederhana yang mampu menjelaskan seluruh konflik yang telah berlangsung puluhan tahun itu.

Justru karena itulah Palestina terus kembali sebagai cermin.

Ia memantulkan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai tentang apa arti kekuatan. Apakah kuat berarti mampu menguasai? Apakah kemajuan berarti mampu membuat lawan diam? Apakah perdamaian hanya berarti tidak adanya perang, atau juga berarti adanya keadilan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kembali ke awal: hubungan agama dan kemajuan.

Sebab di balik perdebatan tentang Barat, Iran dan Palestina terdapat persoalan yang lebih universal tentang bagaimana manusia menentukan batas antara kekuasaan dan moralitas. Sebuah peradaban dapat memiliki teknologi paling canggih, tetapi tetap menghadapi pertanyaan sederhana tentang penderitaan manusia. Sebuah negara dapat memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi kekuatan itu tidak otomatis membuat tindakannya menjadi benar.

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan Palestina tidak pernah benar-benar menjadi sekadar persoalan Palestina. Ia telah berubah menjadi ujian bagi nurani politik dunia.

Dan di tengah dunia yang semakin pandai menghitung kekuatan, barangkali yang paling sulit dihitung justru adalah daya tahan sebuah keyakinan. Sebuah bangsa bisa kehilangan rumah, wilayah dan banyak hal yang tampak nyata. Tetapi selama ingatan tentang keadilan belum mati, selalu ada sesuatu yang belum berhasil ditaklukkan.

Baca Juga  Taqwa: Saat Kita Benar-Benar Memegang Kendali Hidup

Seperti pohon dalam ayat itu, gagasan yang memiliki akar tidak mudah tumbang hanya karena angin datang dari arah yang lebih kuat.

Bagikan:
Terkait
Komentar