Pesan Tahun Baru Pemimpin Revolusi Islam dalam Rangka Memasuki Tahun 1405 H.S

Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei hf, Pemimpin Agung Revolusi Islam, dalam pesannya menyambut tahun 1405 Hijriah Syamsi, meninjau kembali peristiwa-peristiwa sepanjang tahun 1404, termasuk tiga perang militer dan keamanan yang dipaksakan terhadap bangsa Iran. Beliau mengenang para syuhada, khususnya Pemimpin Revolusi yang syahid dan agung, para tunas muda di sekolah Minab, para pejuang angkatan bersenjata, dan seluruh syuhada lainnya. Beliau menegaskan perlunya fokus berkelanjutan pada sektor ekonomi, pemenuhan kebutuhan hidup, dan produksi kekayaan bagi masyarakat luas di tahun yang baru. Dengan merujuk pada upaya-upaya yang telah dilakukan dalam merumuskan skema komprehensif untuk mengatasi masalah ekonomi, beliau menetapkan tahun 1405 sebagai tahun «Ekonomi Perlawanan di Bawah Naungan Persatuan Nasional dan Keamanan Nasional».

Bismillahirrahmanirrahim

Ya Muqallibal qulubi wal-abshar, ya Mudabbiral laili wan-nahar, ya Muhawwilal hauli wal-ahwal, hawwil halana ila ahsanil hal.

Tahun ini, musim spiritualitas dan musim semi alam—yaitu Idul Fitri yang mulia dan hari raya Nowruz—jatuh bertepatan. Saya mengucapkan selamat atas dua hari raya agama dan nasional ini kepada segenap lapisan masyarakat, dan secara khusus mengucapkan selamat Idul Fitri kepada seluruh umat Islam di dunia. Saya juga perlu menyampaikan selamat atas kemenangan-kemenangan gemilang pejuang Islam kepada kita semua, serta menyampaikan belasungkawa dan simpati yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga dan kerabat para syuhada agung dalam Perang yang Dipaksakan Kedua (13 Juni 2025), kudeta bulan Dey (Januari), Perang yang Dipaksakan Ketiga (28 Februari 2026), para syuhada keamanan dan penjaga perbatasan, serta para pejuang anonim yang gugur sebagai syahid.

Sehubungan dengan tibanya tahun 1405 Hijriah Syamsi, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai berikut:

Pertama, mari kita tinjau secara singkat peristiwa-peristiwa penting tahun lalu. Sepanjang tahun lalu, rakyat kita yang tercinta mengalami tiga perang militer dan keamanan. Perang pertama adalah perang bulan Khordad (Mei-Juni), di mana musuh Zionis, dengan bantuan khusus Amerika dan di tengah perundingan, melancarkan agresi pengecut yang menyebabkan syahidnya beberapa komandan terbaik dan ilmuwan terkemuka negara kita, serta berlanjut dengan gugurnya sekitar 1.000 rekan sebangsa. Karena kesalahan kalkulasi yang fatal, musuh mengira bahwa setelah satu atau dua hari, rakyatlah yang akan menggulingkan sistem Islam. Namun, berkat kewaspadaan Anda sekalian, keberanian pejuang Islam yang tiada tara, dan pengorbanan yang luar biasa, musuh segera menunjukkan tanda-tanda keputusasaan dan kehinaan. Dengan mencari perantara dan melakukan gencatan senjata, musuh menyelamatkan dirinya sendiri dari tepi jurang kehancuran.

Perang kedua adalah kudeta bulan Dey (Januari), di mana Amerika dan rezim Zionis—dengan anggapan bahwa rakyat Iran akan mewujudkan keinginan musuh akibat tekanan masalah ekonomi—menggunakan tentara bayaran mereka untuk melakukan berbagai kejahatan besar, yang menyebabkan lebih banyak rekan sebangsa kita yang syahid dibandingkan perang sebelumnya serta menimbulkan kerugian besar.

Perang ketiga adalah perang yang saat ini tengah kita lalui. Pada hari pertamanya, kita melepas sosok ayah penyayang umat, pemimpin agung kita—semoga Allah memuliakan kedudukannya yang mulia—dengan air mata dan hati yang hancur. Beliau tengah bergegas dengan penuh kerinduan, memimpin kafilah para syuhada dalam perjalanan surgawi menuju kedudukan yang telah dipersiapkan baginya di bawah naungan rahmat Ilahi, dekat dengan cahaya-cahaya suci, serta ditempatkan di antara kaum Shiddiqin dan para Syuhada. Sejak hari itu pula, kita dengan penuh duka melepas secara bertahap para syuhada lain dari perang ini, termasuk tunas-tunas muda sekolah Syajarah Tayyibah Minab, bintang-bintang pemberani nan tertindas dari kapal perusak Dena, para komandan dan pejuang syahid dari سپاه (Sepah), ارتش (Artesh), فراجا (FARAJA), Basij, para pejuang anonim, penjaga perbatasan, serta anggota masyarakat lainnya dari segala usia yang melintas di hadapan kita dalam kafilah cahaya. Perang ini terjadi setelah musuh gagal melihat pergerakan massa yang mereka harapkan untuk memihak mereka. Mereka berilusi bahwa dengan membunuh pimpinan sistem dan sejumlah tokoh militer yang efektif, mereka dapat menanamkan rasa takut dan putus asa pada rakyat kita, membuat Anda meninggalkan arena, dan dengan cara itu mewujudkan mimpi untuk menguasai serta memecah belah Iran. Namun, di bulan yang suci ini, Anda memadukan puasa dengan jihad, membangun garis pertahanan yang luas seluas negara ini, serta parit pertahanan yang kokoh di setiap lapangan, lingkungan, dan masjid. Anda memberikan pukulan yang membingungkan musuh hingga mereka melontarkan kata-kata kontradiktif dan ocehan tanpa dasar, yang merupakan tanda hilangnya kewaspadaan dan lemahnya persepsi mereka.

Baca Juga  Wasiat di Pusara Suci Imam Ridha as: Goresan Pena Imam Ali Khamenei Terungkap

Anda sebelumnya telah menumpas kudeta pada 22 Dey (12 Januari), menunjukkan kembali oposisi Anda terhadap arogansi global dan ketangguhan Anda pada 22 Bahman (11 Februari), dan pada 22 Isfand (13 Maret) yang bertepatan dengan Hari Quds, Anda memberikan pukulan yang menyadarkan musuh bahwa mereka tidak hanya berurusan dengan rudal, pesawat nirawak, torpedo, dan urusan militer; garis depan Iran jauh lebih besar dari mentalitas mereka yang rendah dan sempit. Sepatutnya saya di sini berterima kasih kepada setiap individu masyarakat tercinta atas terciptanya epik besar ini; begitu pula kepada Presiden yang pemberani, jujur, dan merakyat, serta para pejabat lain yang hadir di tengah masyarakat dalam upacara tersebut tanpa protokoler yang berlebihan. Cara bekerja seperti ini dan keterbukaannya pada hakikatnya merupakan hal yang sangat terpuji, yang semakin memperkuat kohesi antara rakyat dan pemerintah. Saat ini, berkat persatuan luar biasa yang tercipta di antara Anda semua dengan segala perbedaan latar belakang agama, pemikiran, budaya, dan politik, keretakan telah muncul di pihak musuh. Ini harus dianggap sebagai anugerah khusus dari Tuhan Yang Maha Esa, yang patut disyukuri baik dengan lisan, di dalam hati, maupun dalam tindakan nyata. Salah satu kaidah yang tidak mungkin diingkari adalah jika suatu nikmat disyukuri, maka sebanding dengan kadar syukurnya, akar nikmat tersebut akan semakin kokoh atau meningkat, dan anugerah yang lebih besar akan dilimpahkan kepada orang yang bersyukur. Apa yang diperlukan saat ini dalam bentuk syukur praktis adalah kita harus memandang anugerah agung ini semata-mata sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dengan cara ini, persatuan akan semakin kokoh seperti baja dan musuh-musuh Anda akan semakin hina dan terkucil. Demikian tinjauan atas beberapa peristiwa penting tahun 1404.

Kini, di ambang tahun 1405, kita menghadapi beberapa hal. Pertama, kita mengucapkan perpisahan selamanya kepada tamu kita yang terkasih, bulan suci Ramadhan 1447 H. Bulan di mana pada Lailatul Qadar-nya, hati Anda tertuju pada alam semesta yang tinggi dan Anda memanggil Allah Yang Maha Penyayang, dan Dia pun mengarahkan pandangan rahmat-Nya kepada Anda. Anda memohon kemenangan, keberhasilan, keselamatan, dan berbagai anugerah kepada junjungan kita ‘ajjalallahu ta’ala farajahusy-syarif dan Tuhannya. Insya Allah, dengan rekam jejak perhatian yang selalu diberikan kepada sistem dan bangsa ini, Anda akan menerima apa yang Anda mohonkan, atau bahkan yang lebih baik dari itu. Bersamaan dengan perpisahan ini—yang akan terasa lebih pahit dan menyedihkan bagi mereka yang memiliki makrifat lebih dalam—kita menyambut hilal Idul Fitri yang penuh berkah dengan tangan terbuka, menanti pemberian dari Allah swt dengan penuh harap dan cemas. Saya berharap setelah partisipasi Anda yang penuh dedikasi, baik siang maupun malam, serta terciptanya epik Hari Quds, Allah swt tidak memperlakukan kita selain dengan kemurahan, kesabaran, pengampunan, dan rahmat-Nya yang luas, sebagaimana yang telah kita rasakan bersama. Secara khusus, kita berharap segera datang kabar gembira mengenai terbukanya jalan bagi kemunculan umum junjungan kita, Hazrat Waliyyullah al-A’zham, yang akan memenuhi hati suci beliau dengan kebahagiaan, sehingga berbagai keberkahan akan turun kepada penghuni dunia, berkat kemurahan dan kedermawanan-Nya.

Baca Juga  Haji Bukan Sekadar Ritual: Seruan Imam Ali Khamenei tentang Misi Peradaban dan Persatuan Umat

Hal lain yang kita hadapi adalah momen penting hari raya Nowruz. Hari raya yang membawa karunia alam berupa pembaharuan, kesegaran, dan kehidupan, yang memiliki kesesuaian sempurna dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Di sisi lain, bagi masyarakat umum, ini adalah tahun pertama di mana Pemimpin kita yang syahid dan para syuhada agung lainnya tidak ada di antara kita. Secara khusus, hati keluarga dan kerabat para syuhada masih berduka atas orang-orang terkasih mereka. Namun demikian, saya secara pribadi, sebagai warga negara biasa yang juga kehilangan beberapa syuhada di lingkungan sekitar saya, membayangkan bahwa meskipun kita mengenakan pakaian duka dan hati kita menjadi sarang kesedihan atas para syuhada, kita akan merasa sangat bahagia jika pada hari-hari ini pengantin baru kita melangsungkan pernikahan. Insya Allah, doa Pemimpin kita yang syahid dan para syuhada agung perang ini akan menyertai langkah orang-orang terkasih ini. Saya menyarankan agar masyarakat tetap melakukan kunjungan silaturahmi seperti biasanya, tentu saja dengan tetap menjaga rasa hormat dan empati terhadap keluarga syuhada. Bahkan mungkin, warga di setiap lingkungan—jika koordinasi memungkinkan—dapat memulai kunjungan tahun baru mereka dengan memberikan penghormatan kepada keluarga syuhada di lingkungan tersebut. Tentu saja, masa berkabung yang ditetapkan pemerintah atas syahidnya pemimpin kita tercinta tetap berlaku, dan penghormatan serta kepatuhan terhadapnya dianggap sebagai bagian dari keagungan sistem dan negara ini.

Selain dari poin-poin tersebut, terdapat beberapa hal penting lain yang ingin saya sampaikan:

Pertama, saya secara khusus ingin menyampaikan terima kasih kepada mereka yang pada hari-hari ini, di samping hadir di lapangan, lingkungan, dan masjid, juga berperan aktif dalam memperkuat peran sosial mereka melalui usaha ekstra. Hal ini mencakup berbagai unit produksi, baik pemerintah maupun swasta, serta sejumlah profesi di sektor jasa, terutama mereka yang dengan sukarela memberikan berbagai layanan bermanfaat kepada masyarakat tanpa dituntut oleh kewajiban profesi mereka. Alhamdulillah, inisiatif semacam ini sangat melimpah di tengah-tengah kita.

Kedua, salah satu jalur operasi musuh adalah melalui perang media. Dalam hari-hari ini, musuh secara khusus membidik pikiran dan mentalitas masyarakat dengan tujuan merusak persatuan nasional dan, sebagai implikasinya, melemahkan keamanan nasional. Kita harus waspada agar niat buruk tersebut tidak terwujud akibat kelalaian atau tindakan kita sendiri. Oleh karena itu, pesan saya kepada media-media di dalam negeri kita—dengan segala perbedaan pemikiran, politik, dan budaya yang mungkin ada—adalah untuk secara serius menahan diri dari menonjolkan titik-titik kelemahan. Jika tidak, musuh akan memiliki peluang untuk mencapai tujuannya.

Ketiga, salah satu celah harapan musuh adalah memanfaatkan kelemahan ekonomi dan manajerial yang telah terbentuk sejak lama. Pemimpin kita yang syahid—a’lallahu maqamahusy-syarif—dalam berbagai kesempatan telah menjadikan isu ekonomi sebagai poros utama dan tema tahunan. Menurut pandangan sederhana saya, pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, peningkatan infrastruktur kesejahteraan, serta produksi kekayaan bagi khalayak luas harus dipandang sebagai titik fokus, sebagai bentuk pertahanan, bahkan sebagai kemajuan signifikan dalam menghadapi perang ekonomi yang dikobarkan musuh. Di antara karunia yang saya terima adalah kesempatan untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat tercinta dari berbagai lapisan sosial. Misalnya, dalam suatu kurun waktu, dengan menyamar dalam tim anonim, saya sering menaiki taksi yang saya siapkan sendiri untuk berkeliling di jalanan Teheran guna mendengarkan perkataan Anda sekalian; dan saya menganggap metode pengambilan sampel seperti ini jauh lebih unggul dibandingkan banyak survei pendapat yang ada. Dalam banyak hal, persepsi saya sejalan dengan apa yang Anda sampaikan—yang biasanya dinyatakan dalam bentuk kritik terkait aspek ekonomi dan manajemen. Dalam proses tersebut, saya banyak belajar dari Anda, dan saya masih terus berusaha untuk terus belajar. Termasuk pada hari-hari ini, sebelum dan sesudah 19 Ramadhan, saya kembali memetik pelajaran dari berbagai individu yang hadir di lapangan. Saya berharap tidak terhalang dari anugerah (mendengar aspirasi) ini. Berangkat dari pembelajaran, masukan, dan studi yang ada, telah dilakukan upaya untuk menyusun resep penyembuhan yang efektif, teruji secara profesional, dan komprehensif. Alhamdulillah, hal ini telah tercapai hingga tingkat yang memuaskan dan dalam waktu dekat akan siap diimplementasikan oleh para pejabat yang berdedikasi tinggi dengan kerja sama segenap rakyat, insya Allah Ta’ala. Akhirnya, dengan meneladani Pemimpin kita yang syahid, saya menetapkan slogan tahun ini sebagai «Ekonomi Perlawanan di Bawah Naungan Persatuan Nasional dan Keamanan Nasional».

Keempat, dan yang terakhir, apa yang saya sampaikan dalam pernyataan pertama saya mengenai pandangan dan kebijakan negara terkait hubungan dengan negara-negara tetangga adalah sesuatu yang serius dan nyata. Selain elemen ketetanggaan, kita juga memiliki elemen spiritual lainnya, terutama kesamaan dalam memeluk agama Islam yang mulia. Begitu pula keberadaan tempat-tempat ziarah dan situs suci di beberapa negara tersebut, kehadiran banyak warga Iran yang menetap dan bekerja di sana, serta kesamaan etnis, bahasa, atau kepentingan strategis—terutama dalam menghadapi front arogansi—adalah faktor-faktor yang masing-masing dapat menjadi penguat hubungan baik. Kami merasa sangat dekat dengan tetangga-tetangga Timur kami. Sejak lama saya mengetahui bahwa Pakistan adalah negara yang sangat dicintai oleh Pemimpin kita yang syahid; buktinya terlihat dari nada suara beliau yang tercekat saat menyampaikan khutbah salat Jumat ketika banjir dahsyat mengancam kehidupan saudara seiman kita di sana. Saya pun, karena berbagai alasan, senantiasa memiliki pandangan yang sama dan tidak ragu menyatakannya dalam berbagai kesempatan. Di sini, saya ingin meminta agar kedua negara saudara kita, yakni Afghanistan dan Pakistan, demi keridaan Ilahi dan demi menjaga kesatuan umat Islam, hendaknya membangun hubungan yang lebih baik lagi. Saya pribadi menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal ini.

Baca Juga  Pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi dalam Rangka Memperingati Dua Tahun Gugurnya Syahid Raisi dan Rombongan Pengiringnya

Saya juga ingin menegaskan bahwa serangan yang terjadi di beberapa titik di Turki dan Oman—yang keduanya memiliki hubungan baik dengan kita—sama sekali bukan dilakukan oleh angkatan bersenjata Republik Islam maupun kekuatan lain dari Front Perlawanan. Ini adalah muslihat musuh Zionis dengan menggunakan taktik false flag (bendera palsu) untuk menciptakan perpecahan antara Republik Islam dan para tetangganya, dan hal serupa mungkin terjadi di negara-negara lain. Penjelasan selebihnya terkait bagian ini telah saya sampaikan sebelumnya.

Saya berharap, dengan doa junjungan kita ‘ajjalallahu ta’ala farajahusy-syarif dan perhatian dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan menghadapi tahun yang baik, penuh kemenangan, serta terbukanya berbagai pintu kemudahan material dan spiritual bagi bangsa kita, seluruh negara tetangga, negara-negara Muslim, dan khususnya bagi para pejuang di Front Perlawanan. Semoga tahun ini menjadi tahun yang sebaliknya bagi musuh-musuh Islam dan kemanusiaan.

Wanu-ridu an namunna ‘alal-ladzina-studh’ifu fil-ardhi wa naj’alahum a-immatan wa naj’alahumul-waritsin. Wa numakkina lahum fil-ardhi wa nuriya Fir’auna wa Hamana wa junudahuma minhum ma kanu yahdzarun.

(Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi, dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu). Shadaqallahul ‘aliyyul ‘adzim wa shadaqa rasuluhul karim wa nahnu ‘ala dzalika minasy-syahidin.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei
29 Isfand 1404 (19 Maret 2026)

Bagikan:
Terkait
Komentar