KHAMENEI.ID – Setiap kali terjadi serangan teroris, konflik global, atau ketegangan politik di dunia Islam, gelombang Islamofobia kembali menguat. Media internasional ramai menampilkan wajah Islam yang keras, menakutkan, dan penuh kekerasan. Namun dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs justru melihat fenomena ini dari sudut yang berbeda: serangan terhadap Islam, menurutnya, bisa berubah menjadi pintu kebangkitan kesadaran global tentang Islam itu sendiri.
Bagi beliau, kampanye Islamofobia yang dilakukan media dan jaringan kekuatan global tidak selalu berakhir sesuai keinginan para pelakunya. Sebaliknya, semakin besar serangan terhadap Islam, semakin besar pula rasa ingin tahu generasi muda dunia. Orang mulai bertanya: mengapa Islam begitu ditakuti? Mengapa agama ini terus-menerus menjadi sasaran pemberitaan negatif?
Imam Khamenei menyebut bahwa pertanyaan semacam itu justru membuka ruang baru. Ketika masyarakat dunia—terutama anak muda—mulai penasaran, maka terbentuklah peluang untuk memperkenalkan “Islam yang sebenarnya”. Ancaman, dalam logika ini, bisa berubah menjadi kesempatan.
Beliau mengkritik keras media-media yang, menurutnya, berada di bawah pengaruh kekuatan politik dan ekonomi besar, termasuk jaringan Zionis internasional. Islam, kata beliau, terus-menerus dijadikan target serangan melalui surat kabar, televisi, dan berbagai instrumen propaganda modern. Tetapi justru karena intensitas serangan itu, publik global mulai mempertanyakan motif di baliknya.
Di titik inilah Imam Khamenei menegaskan pentingnya memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai Islam Nab—Islam murni atau Islam sejati. Islam yang dimaksud bukan Islam yang identik dengan ekstremisme, kekerasan buta, atau fanatisme sempit. Sebaliknya, beliau menggambarkannya sebagai Islam yang berpihak kepada kaum tertindas dan melawan kezaliman.
Dalam narasinya, seorang anak muda di Eropa atau Amerika akan tertarik ketika mengetahui bahwa Islam membawa gagasan pembelaan terhadap kaum lemah dan kritik terhadap penindasan global. Islam, menurut beliau, bukan sekadar agama ritual, tetapi kekuatan moral yang memiliki komitmen sosial.
Pandangan ini kemudian diperluas ke aspek intelektual Islam. Imam Khamenei menekankan bahwa Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, menggunakan akal, dan merenung. Ia merujuk pada banyak ayat yang mengangkat pentingnya ‘aql dan lubb—akal sehat dan kejernihan berpikir.
«إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ»
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Az-Zumar:21)
Dalam perspektif beliau, Islam sejati adalah agama rasionalitas, bukan agama taklid buta. Karena itu, ia menolak dua ekstrem sekaligus: sekularisme yang meminggirkan agama dari kehidupan, dan kejumudan yang membelenggu agama dalam fanatisme anti-akal.
Kritiknya terhadap “Islam sekuler” cukup tajam. Imam Khamenei menggambarkannya sebagai model agama yang terkurung di sudut masjid atau ruang ibadah pribadi, tanpa kehadiran nyata dalam persoalan sosial dan kehidupan manusia. Ia membandingkannya dengan pengalaman sekularisme dalam tradisi Kristen Barat, ketika agama dipisahkan dari urusan publik.
Padahal, menurut beliau, Islam sejak awal hadir di tengah kehidupan. Islam bukan hanya urusan doa personal, tetapi juga keadilan sosial, kepedulian terhadap kaum lemah, dan perjuangan melawan penindasan. Karena itu, beliau menegaskan perlunya memperkenalkan Islam sebagai agama yang aktif dalam realitas sosial—Islam yang hadir dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Di sisi lain, Imam Khamenei juga mengkritik budaya permisif modern yang mendorong generasi muda kepada sikap serba bebas dan tanpa tanggung jawab. Dalam pandangannya, banyak sistem budaya global hari ini mendorong manusia pada gaya hidup yang longgar terhadap nilai dan komitmen moral. Islam, katanya, hadir dengan konsep tanggung jawab: manusia bukan makhluk tanpa arah, tetapi pribadi yang memiliki amanah moral.
Yang menarik, penekanan ini tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum, tetapi juga kepada para ulama, intelektual, dan lembaga pendidikan Islam. Imam Khamenei menilai bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk memperkenalkan wajah Islam yang autentik kepada dunia. Dakwah, dalam konteks ini, bukan sekadar ceramah ritual, tetapi upaya membangun pemahaman global tentang Islam yang rasional, adil, dan manusiawi.
Pada akhirnya, beliau mengajak kita untuk merebut kembali narasi tentang Islam. Di tengah dunia digital yang dipenuhi citra dan propaganda, Imam Khamenei percaya bahwa rasa ingin tahu generasi muda dapat menjadi titik awal perubahan. Serangan terhadap Islam mungkin terus berlangsung, tetapi pertanyaan yang muncul akibat serangan itu justru bisa membuka jalan bagi pencarian yang lebih jujur.
Dan mungkin di situlah ironi terbesar Islamofobia hari ini: semakin Islam diserang, semakin banyak orang ingin mengetahui apa sebenarnya Islam itu.







