KHAMENEI.ID— Ada kematian yang berhenti di liang kubur. Ada pula kematian yang justru memulai sejarah panjang tentang perlawanan, ingatan, dan nurani manusia. Kesyahidan Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s termasuk jenis yang kedua. Tubuh mereka memang terkubur, tetapi darah mereka terus bergerak melintasi zaman, menggugat kekuasaan, menampar kemunafikan, dan membangunkan hati manusia yang tertidur.
Dalam tradisi Islam, khususnya dalam khazanah Ahlulbait, ada satu istilah yang terdengar sangat mengguncang: tsārullāh darah yang penuntut balasnya adalah Tuhan sendiri. Gelar ini paling sering dilekatkan kepada Imam Husain a.s melalui salam yang begitu terkenal:
السلام عليك يا ثار الله وابن ثاره
“Salam atasmu wahai darah Allah, dan putra dari darah Allah.”
Ungkapan itu bukan bahasa emosional biasa. Ia bukan sekadar puisi duka. Ia adalah pernyataan teologis yang dalam: ada darah yang nilainya begitu agung hingga urusannya tidak lagi menjadi sekadar konflik politik manusia. Tuhan sendiri mengambil alih pembelaannya.
Menariknya, konsep itu tidak hanya dilekatkan kepada Imam Husain a.s. Dalam sebuah teks klasik pembahasan ini dijelaskan bahwa darah Imam Ali a.s pun disebut sebagai tsārullāh. Artinya, kesyahidan Imam Ali a.s bukan sekadar tragedi sejarah awal Islam, melainkan luka besar kemanusiaan yang gema moralnya terus hidup sampai hari ini.
Imam Ali a.s dibunuh bukan karena miskin gagasan, lemah strategi, atau kalah kekuatan. Ia justru diserang karena terlalu besar untuk ukuran zamannya. Kejujurannya mengganggu elite politik. Keadilannya meresahkan orang-orang rakus. Keteguhannya membuat kaum oportunis merasa terancam.
Sejarah sering memperlihatkan ironi yang sama: manusia kadang tidak membunuh orang jahat karena kejahatannya, tetapi membunuh orang baik karena kebaikannya terlalu menyilaukan.
Di situlah tragedi Imam Ali a.s menjadi relevan bagi dunia modern. Hari ini, manusia hidup di zaman yang memuja citra, tetapi takut pada kejujuran. Banyak orang mengagumi moralitas di atas panggung ceramah, tetapi memusuhinya ketika moralitas itu menyentuh kepentingan mereka. Imam Ali a.s menjadi simbol bahwa kebenaran sering kali tidak dibenci karena salah, tetapi karena terlalu benar.
Sementara itu, Imam Husain a.s melanjutkan jalan yang sama di Karbala. Ia tidak sedang mengejar kekuasaan, melainkan menyelamatkan makna agama dari tangan rezim yang menjadikan agama sekadar alat legitimasi politik. Karena itu, tragedi Karbala tidak pernah benar-benar dipahami sebagai perang biasa. Ia lebih menyerupai benturan antara nurani dan kerakusan.
Salah satu riwayat yang dikutip dalam teks menggambarkan betapa luasnya duka atas wafatnya Imam Husain a.s. Diceritakan bahwa ketika beliau syahid, langit-langit menangis, bumi bersedih, bahkan seluruh makhluk yang tampak maupun yang tak tampak ikut berduka. Riwayat itu tentu tidak perlu dipahami secara sempit dan harfiah semata. Ia ingin mengatakan bahwa ada tragedi yang begitu besar hingga alam semesta pun terasa kehilangan keseimbangannya.
Namun yang paling menarik justru bagian setelahnya. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ada tiga kelompok yang tidak menangisi Imam Husain a.s: Basrah, Damaskus, dan keluarga politik tertentu yang saat itu berada dalam orbit kekuasaan.
Pesannya sangat tajam. Ketika nurani masyarakat mati karena propaganda, fanatisme politik, atau kepentingan dunia, manusia bisa kehilangan kemampuan paling dasar: menangis untuk kebenaran.
Dan bukankah itu juga penyakit dunia modern?
Hari ini orang dapat menyaksikan ketidakadilan setiap hari di layar telepon genggam, tetapi tetap melanjutkan hidup tanpa getaran empati. Kita hidup di era banjir informasi, tetapi kekurangan kepekaan. Tragedi kemanusiaan berubah menjadi sekadar konten lewat yang hilang dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti itu, kisah Karbala sebenarnya bukan cerita masa lalu. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia bisa perlahan kehilangan rasa.
Karena itu, ziarah kepada Imam Husain a.s dalam tradisi Islam tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik menuju makam. Dalam riwayat tersebut, Imam Ja‘far al-Shadiq a.s menggambarkan adab ziarah dengan sangat khusyuk: mandi di tepi Efrat, mengenakan pakaian bersih, berjalan tanpa alas kaki, memperbanyak takbir, tasbih, tahmid, dan shalawat.
Semua itu bukan ritual kosong. Ia adalah latihan batin. Manusia diminta memasuki ruang suci dengan merendahkan ego dan membersihkan hati. Sebab Karbala bukan sekadar tempat geografis; ia adalah wilayah spiritual tempat manusia diuji: apakah ia masih mampu berpihak kepada kebenaran meski harus kehilangan kenyamanan?
Di situlah makna terdalam dari tsārullāh. Ketika darah orang-orang suci disebut sebagai “darah Tuhan”, itu bukan berarti Tuhan memiliki darah sebagaimana manusia. Maksudnya adalah bahwa perjuangan mereka begitu suci sehingga pembelaannya menjadi urusan ilahi. Luka mereka bukan luka pribadi, tetapi luka nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Karena itu pula, mengenang Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s bukan semata menangisi masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah membaca pesan moral di balik kesyahidan mereka. Imam Ali a.s mengingatkan bahwa keadilan selalu punya harga. Imam Husain a.s mengajarkan bahwa martabat lebih penting daripada keselamatan yang dibeli dengan kompromi.
Dan mungkin, dunia modern memang semakin membutuhkan dua suara itu.
Sebab hari ini manusia hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi krisis keberanian moral yang mengerikan. Banyak orang tahu mana yang benar, tetapi takut mengatakannya. Banyak yang memahami ketidakadilan, tetapi memilih diam demi keamanan diri. Dalam suasana seperti itu, Karbala seolah terus berulang dalam bentuk yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, darah Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s bukan sekadar cerita tentang kematian tragis. Ia adalah simbol bahwa kebenaran kadang kalah secara fisik, tetapi menang secara abadi dalam kesadaran manusia. Pedang mungkin mampu menghentikan detak jantung seseorang, tetapi tidak pernah benar-benar mampu membunuh makna.
Dan mungkin itulah sebabnya mengapa hingga hari ini manusia masih terus mengucapkan:
السلام عليك يا ثار الله وابن ثاره
“Salam atasmu wahai darah Tuhan, dan putra dari darah Tuhan.”
Sebab sebagian luka memang tidak pernah sembuh, selama dunia masih menyisakan ketidakadilan.







