Demokrasi Tanpa Jiwa: Ketika Bangsa Dipaksa Membenci Mutiaranya Sendiri

KHAMENEI.ID— Ada satu pola yang terus berulang dalam sejarah bangsa-bangsa: musuh tidak selalu datang membawa senjata. Kadang mereka hadir lewat narasi. Mereka tidak menyerang dengan tank, tetapi dengan cara yang lebih halus; membuat sebuah bangsa meragukan dirinya sendiri. Prestasi diperkecil, pencapaian dihina, keberhasilan dianggap kebetulan, dan keyakinan publik perlahan digerogoti dari dalam.

Itulah yang sejak lama dialami Iran pasca revolusi Islam. Dalam sebuah pidato tahun 2005, pemimpin Iran menggambarkan bagaimana musuh-musuh politik global bekerja secara “rapi” dan penuh kepura-puraan. Mereka tidak pernah terang-terangan berkata, “Kami membenci kalian.” Sebaliknya, mereka memakai bahasa demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, sambil pada saat yang sama terus berusaha meruntuhkan rasa percaya diri sebuah bangsa.

Cara paling efektif untuk menjatuhkan sebuah masyarakat, menurut pidato itu, bukan selalu lewat perang ekonomi atau invasi militer. Yang lebih berbahaya justru membuat rakyat merasa bahwa apa yang mereka miliki tidak bernilai.

Di situlah propaganda bekerja.

Iran, dalam narasi pidato tersebut, merasa membawa sebuah pengalaman politik yang berbeda dari model demokrasi Barat. Mereka menyebutnya demokrasi religius atau demokrasi yang bertumpu pada spiritualitas dan agama. Sebuah sistem yang, menurut mereka, tidak memisahkan suara rakyat dari nilai moral dan keyakinan spiritual.

Di mata pengkritiknya, konsep itu dianggap kontradiktif. Demokrasi dianggap hanya mungkin lahir dari sekularisme. Tetapi Iran justru mencoba menawarkan tesis sebaliknya: bahwa demokrasi tanpa moral bisa berubah menjadi alat manipulasi kekuasaan.

Pidato itu kemudian menyinggung ironi politik global. Negara-negara yang paling keras berbicara tentang demokrasi, kata mereka, justru sering bersahabat dengan rezim-rezim diktator selama kepentingannya aman. Dunia modern berkali-kali menyaksikan bagaimana negara yang mengaku pembela kebebasan mendukung kudeta militer, membangun hubungan erat dengan penguasa represif, atau membenarkan manipulasi politik ketika itu menguntungkan mereka.

Baca Juga  Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya

Kritik semacam ini sebenarnya tidak hanya relevan bagi Iran. Ia menyentuh pertanyaan yang jauh lebih universal: apakah demokrasi cukup hanya dengan pemilu?

Banyak negara modern memang berhasil membangun prosedur demokrasi, tetapi gagal menjaga ruh etikanya. Pemilu berjalan, parlemen berdiri, partai politik bertarung, tetapi uang, media, dan oligarki diam-diam menentukan arah. Demokrasi akhirnya menjadi ritual administratif tanpa kedalaman moral. Rakyat memilih, tetapi pilihan mereka dibentuk oleh propaganda, ketakutan, dan rekayasa opini.

Di titik itu, demokrasi bisa kehilangan jiwanya.

Karena itu, pidato tersebut menekankan bahwa demokrasi yang dipisahkan dari spiritualitas berisiko berubah menjadi sekadar permainan kekuasaan. Kritik ini tentu bisa diperdebatkan, tetapi ia menyimpan satu kegelisahan penting tentang dunia modern: manusia hari ini memiliki teknologi politik yang maju, tetapi belum tentu memiliki kedewasaan moral yang sama.

Menariknya, bagian paling kuat dari pidato itu justru bukan kritik geopolitiknya, melainkan sebuah nasihat sederhana dari Imam Ja’far ash-Shadiq. Dalam riwayat yang dikutip, sang imam berkata:

“Jika di tanganmu ada mutiara, lalu seluruh dunia mengatakan itu hanya batu biasa, ucapan mereka tidak akan merugikanmu selama kau tahu itu mutiara. Sebaliknya, jika di tanganmu hanya batu, lalu semua orang menyebutnya mutiara, pujian mereka juga tidak akan mengubah hakikatnya.”

Dalam versi lain riwayat itu disebutkan:

يَا هِشَامُ … لَوْ كَانَ فِي يَدِكَ لُؤْلُؤَةٌ وَ قَالَ النَّاسُ إِنَّهَا جَوْزَةٌ مَا ضَرَّكَ وَ أَنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهَا لُؤْلُؤَةٌ
“Wahai Hisyam, jika di tanganmu ada mutiara lalu orang-orang mengatakan itu hanya kacang biasa, hal itu tidak akan merugikanmu selama engkau tahu bahwa itu mutiara.”

Nasihat itu terasa sangat relevan di zaman media sosial hari ini. Kita hidup dalam era ketika persepsi sering lebih kuat daripada kenyataan. Sebuah bangsa bisa dipermalukan terus-menerus hingga kehilangan rasa percaya diri. Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya rapuh bisa tampak hebat hanya karena dipoles citra dan propaganda.

Baca Juga  Netralitas yang Mematikan: Mengapa Ulama Tak Boleh Diam Menurut Imam Ali Khamenei

Bukan hanya negara. Individu pun mengalami hal serupa.

Ada orang yang terus-menerus merasa kecil karena standar dunia digital. Mereka melihat pencapaian orang lain, lalu menganggap hidupnya gagal. Ada masyarakat yang pelan-pelan kehilangan kebanggaan terhadap budaya, agama, atau identitasnya sendiri karena terus dicekoki bahwa semua yang datang dari luar pasti lebih modern dan lebih unggul.

Padahal belum tentu demikian.

Karena itu, inti pidato tersebut sebenarnya bukan sekadar soal Iran atau Barat. Ia berbicara tentang pentingnya kesadaran sebuah bangsa terhadap nilai dirinya sendiri. Bahwa penghargaan terhadap pencapaian tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh opini global.

Sebuah bangsa yang kehilangan kepercayaan diri akan mudah diarahkan. Ia akan terus mencari validasi dari luar. Apa pun yang dimiliki sendiri dianggap kuno, sementara apa pun yang datang dari pusat-pusat kekuasaan dunia otomatis dipandang maju.

Di sinilah propaganda menemukan lahannya yang paling subur: masyarakat yang ragu terhadap dirinya sendiri.

Tentu, ini bukan berarti sebuah negara tidak boleh dikritik. Kritik tetap penting agar kekuasaan tidak berubah menjadi kultus. Tetapi ada perbedaan besar antara kritik yang membangun dengan penghinaan sistematis yang bertujuan mencabut rasa percaya diri publik.

Sebab ketika sebuah masyarakat mulai malu terhadap identitas dan pencapaiannya sendiri, mereka sebenarnya sedang kehilangan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kebanggaan nasional. Mereka kehilangan kemampuan untuk berdiri tegak di hadapan dunia.

Dan mungkin itu sebabnya nasihat Imam Ja’far ash-Shadiq a.s tetap terasa hidup berabad-abad kemudian. Nilai sebuah mutiara tidak berubah hanya karena keramaian orang menolaknya. Hakikat tidak ditentukan oleh propaganda.

Yang paling berbahaya justru ketika pemilik mutiara itu sendiri mulai percaya bahwa yang ada di tangannya hanyalah batu biasa. 

Baca Juga  Di Hadapan Tuhan Ia Bersujud, di Hadapan Kezaliman Ia Berdiri Tegak
Bagikan:
Terkait
Komentar