Shalat atau Perjuangan? Mengapa Dakwah Pertama Nabi Justru Bukan Jihad

KHAMENEI.ID– Di masa-masa paling panas sebuah perjuangan, sering kali manusia tergoda untuk menganggap ibadah sebagai sesuatu yang sekunder. Ketika ketidakadilan merajalela, ketika penindasan harus dilawan, dan ketika perubahan tampak begitu mendesak, muncul pertanyaan yang terdengar logis: mengapa masih sibuk berbicara tentang shalat?

Pertanyaan semacam itu ternyata bukan hanya milik zaman modern. Ia pernah muncul di tengah para aktivis dan pejuang yang hidup dalam suasana perlawanan politik yang keras. Dalam sel-sel penjara rezim otoriter, tempat berbagai kelompok perjuangan berkumpul, ada suara-suara yang mempertanyakan fokus agama pada shalat. Mereka mengkritik seruan azan yang berulang-ulang memanggil manusia kepada shalat melalui kalimat “Hayya ‘alash-shalah” Marilah menuju shalat.

Menurut mereka, bukankah lebih relevan jika seruan itu diubah menjadi “Hayya ‘alal-jihad” Marilah menuju perjuangan? Bukankah masyarakat lebih membutuhkan semangat perlawanan daripada ajakan beribadah?

Sekilas, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun sejarah justru menunjukkan hal sebaliknya.

Pengalaman zaman membuktikan bahwa ketika shalat dianggap remeh, bukan hanya ibadah yang rusak. Perjuangan pun ikut kehilangan arah. Gerakan yang awalnya lahir untuk membela kebenaran perlahan berubah menjadi perebutan kekuasaan. Perlawanan yang seharusnya menjadi jihad berubah menjadi ambisi pribadi. Yang tersisa hanyalah kompetisi kepentingan, bukan lagi pengabdian kepada Tuhan.

Di sinilah letak rahasia besar shalat.

Shalat bukan sekadar ritual yang mengisi jeda di antara aktivitas penting manusia. Ia adalah kompas yang menjaga arah seluruh aktivitas itu. Tanpa kompas tersebut, seseorang mungkin tetap bergerak, tetapi tidak lagi tahu ke mana tujuan akhirnya.

Karena itulah, perhatian kepada Allah Ta’ala menjadi syarat utama agar sebuah perjuangan tetap bernilai sebagai jihad. Dan perhatian kepada Tuhan menemukan bentuk paling nyata dalam shalat.

Baca Juga  Mengapa Langit Memilih Muhammad? Rahasia Hati yang Siap Menerima Wahyu 

Barangkali inilah alasan mengapa kewajiban besar pertama yang ditegaskan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah membangun negara, mengumpulkan pasukan, atau memenangkan peperangan. Yang pertama kali ditegaskan justru shalat.

Al-Qur’an mengabadikan perintah itu dengan sangat jelas:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki darimu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini menarik karena tidak berbicara tentang kemenangan politik, ekspansi wilayah, atau keberhasilan materi. Yang ditekankan justru kesabaran menjaga shalat. Seolah-olah Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa fondasi seluruh keberhasilan manusia bukan terletak pada kekuatan lahiriah, melainkan pada hubungan yang terpelihara dengan Tuhan.

Hubungan itulah yang kemudian melahirkan keteguhan moral.

Kita sering menyaksikan orang-orang yang memulai perjuangan dengan niat mulia, tetapi berakhir sebagai tiran. Mereka datang membawa slogan keadilan, lalu berubah menjadi penguasa yang menindas. Mereka berbicara tentang rakyat, tetapi akhirnya sibuk memperkaya diri sendiri.

Mengapa itu terjadi?

Karena perjuangan tanpa spiritualitas sangat mudah berubah menjadi penyembahan terhadap ego. Ketika Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi, manusia secara perlahan menempatkan dirinya sendiri sebagai pusat segalanya.

Dalam kondisi seperti itu, kemenangan tidak lagi diukur berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan siapa yang paling berkuasa.

Shalat hadir untuk mencegah proses itu.

Lima kali sehari, manusia dipaksa keluar dari pusat dunianya sendiri. Ia meninggalkan kesibukan, jabatan, proyek, bahkan perjuangannya, lalu berdiri menghadap Tuhan. Dalam momen itu, ia diingatkan bahwa dirinya bukan penguasa alam semesta. Ia hanyalah seorang hamba.

Baca Juga  Shalat Tiang Agama: Mengapa Kehidupan Spiritual Bisa Runtuh Tanpa Shalat?

Kesadaran sederhana ini ternyata memiliki dampak yang sangat besar.

Tidak mengherankan jika Al-Qur’an ketika menggambarkan masyarakat beriman yang berhasil memperoleh kekuasaan justru tidak menyebut pembangunan ekonomi atau dominasi politik sebagai ciri pertama mereka.

Firman Allah:

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Mereka adalah orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (QS. Al-Hajj: 41)

Menariknya, ciri pertama yang disebut adalah “aqamush-shalah” mendirikan shalat.

Bukan karena shalat lebih penting daripada seluruh urusan sosial, melainkan karena shalat menjadi sumber energi bagi seluruh urusan sosial itu. Dari shalat lahir kejujuran. Dari shalat lahir keberanian moral. Dari shalat lahir kesadaran bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang suatu hari akan dipertanggungjawabkan.

Di era modern, pesan ini terasa semakin menemukan tempatnya. Kita hidup di zaman yang sangat menghargai aktivisme, produktivitas, dan pencapaian. Banyak orang ingin mengubah dunia. Banyak yang ingin memperjuangkan keadilan. Banyak yang ingin menjadi agen perubahan.

Semua itu baik.

Namun ada satu pertanyaan yang perlu terus diajukan kepada diri sendiri: siapa yang sedang kita perjuangkan sebenarnya? Kebenaran, atau diri kita sendiri?

Pertanyaan itulah yang dijaga oleh shalat.

Shalat bukan penghalang perjuangan. Ia justru menjaga agar perjuangan tetap menjadi perjuangan yang suci. Ia bukan lawan jihad, melainkan ruh yang memberi makna pada jihad itu sendiri.

Mungkin karena itulah azan tidak pernah berkata, “Marilah menuju kekuasaan.” 

Azan mengajak manusia kepada sesuatu yang tampak sederhana namun sesungguhnya paling mendasar:

Baca Juga  Jihad yang Terlupakan: Pelajaran Besar dari Perjuangan Menyeluruh Imam Ali

“Hayya ‘alash-shalah.”

Marilah menuju shalat.

Sebab dari sanalah segala perjuangan menemukan arah, dan dari sanalah manusia belajar agar tidak tersesat oleh kemenangan yang diperolehnya sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar