Iman yang Dipinjam: Mengapa Keyakinan Bisa Hilang Saat Ujian Datang?

KHAMENEI.ID– Ada orang yang begitu lantang berbicara tentang iman. Kata-katanya menggetarkan, semangatnya menyala, bahkan tampak paling teguh ketika membela nilai-nilai agama. Namun waktu berjalan, keadaan berubah, godaan datang silih berganti. Perlahan suaranya meredup. Lalu suatu hari, bukan hanya semangatnya yang hilang, melainkan juga keyakinan yang dulu begitu dibanggakan.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah iman memang bisa lenyap?

Pertanyaan itu telah dijawab berabad-abad silam oleh Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam salah satu khutbahnya, ia membedakan dua jenis iman: iman yang menetap di dalam hati dan iman yang hanya singgah untuk sementara.

Beliau berkata:

فَمِنَ الْإِيمَانِ مَا يَكُونُ ثَابِتًا مُسْتَقِرًّا فِي الْقُلُوبِ وَمِنْهُ مَا يَكُونُ عَوَارِيَّ بَيْنَ الْقُلُوبِ وَالصُّدُورِ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

“Di antara iman ada yang kokoh dan menetap di dalam hati, dan ada pula iman yang hanya dipinjamkan, berada di antara hati dan dada hingga batas waktu tertentu”

Ungkapan “iman yang dipinjam” terdengar ganjil. Bukankah seseorang yang beriman berarti sudah memiliki keyakinan? Imam Ali a.s tidak sedang berbicara tentang kemunafikan. Orang yang memiliki iman pinjaman tetaplah seorang mukmin. Ia percaya kepada Allah, mengakui ajaran agama, bahkan mungkin rajin beribadah. Hanya saja, keyakinan itu belum menjadi bagian dari dirinya. Ia belum berakar.

Iman semacam ini ibarat tanaman yang baru ditancapkan ke tanah, tetapi belum pernah disiram. Dari kejauhan tampak hijau, tetapi akarnya belum mencengkeram bumi. Sekali diterpa angin kencang, ia mudah tercabut.

Di titik inilah letak perbedaan mendasar antara keyakinan yang kokoh dan keyakinan yang rapuh. Iman yang menetap lahir dari pemahaman yang mendalam, disangga oleh perenungan, lalu dipelihara melalui amal saleh. Sementara iman yang sementara sering kali tumbuh karena suasana, lingkungan, atau ledakan emosi. Ia bersemangat ketika berada di tengah keramaian, tetapi kehilangan tenaga ketika harus berjalan sendirian.

Baca Juga  Pesan Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Agung Revolusi Islam, dalam Rangka Peringatan 40 Hari Syahidnya Pemimpin Agung Revolusi

Karena itu, amal saleh bukan sekadar pelengkap keimanan. Ia adalah air yang menjaga agar akar iman terus hidup. Setiap perjuangan melawan hawa nafsu, setiap kejujuran yang dipilih meski merugikan diri sendiri, setiap kesabaran yang dipertahankan ketika keadaan sulit, sesungguhnya sedang menyiram pohon iman agar tidak mengering.

Namun jika amal itu tidak pernah dilakukan, iman hanya tinggal slogan. Ia terdengar indah, tetapi tidak memiliki daya tahan.

Dalam konteks yang lebih luas, manusia hampir tidak pernah kehilangan iman pada saat hidup sedang tenang. Justru ketika ujian datang, kualitas keyakinan mulai terlihat. Saat seseorang harus memilih antara uang atau prinsip, jabatan atau integritas, syahwat atau kesucian diri, popularitas atau kebenaran, di situlah iman diuji.

Setiap orang memiliki titik lemahnya masing-masing. Ada yang mudah tergoda oleh harta. Ada yang runtuh karena kekuasaan. Ada yang takluk oleh pujian. Ada pula yang kehilangan arah karena hasrat yang tak terkendali. Itulah celah yang oleh banyak orang diibaratkan sebagai “tumit Achilles” bagian paling rentan yang bisa menjatuhkan seseorang.

Yang berbahaya, hilangnya iman hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba.

Tak ada orang yang bangun pagi lalu mengumumkan bahwa sejak hari ini ia berhenti beriman. Tidak ada lonceng yang berbunyi ketika keyakinan mulai meninggalkan hati. Semua berlangsung perlahan. Kompromi kecil dengan dosa. Pembenaran terhadap kesalahan. Kepekaan hati yang semakin tumpul. Ibadah yang mulai terasa beban. Hingga akhirnya seseorang tidak lagi menyadari bahwa sesuatu yang paling berharga dalam dirinya telah pergi.

Iman memang tidak hilang sekaligus. Ia memudar seperti warna kain yang terus-menerus terkena matahari.

Gagasan ini juga menjelaskan mengapa dalam perjalanan sejarah sering ditemukan perubahan yang begitu drastis pada diri seseorang. Ada orang yang pada awalnya dikenal sebagai pejuang yang tulus, penuh semangat membela agama dan keadilan. Namun bertahun-tahun kemudian, justru menjadi penentang paling keras terhadap nilai yang dahulu diperjuangkannya.

Baca Juga  Imam Husain dan Tanggung Jawab Melawan Kezaliman

Perubahan seperti itu sering membuat orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seseorang bisa berubah sejauh itu?

Jawabannya mungkin bukan karena ia tidak pernah beriman, melainkan karena imannya tidak pernah benar-benar berakar. Semangatnya menyala seperti api yang membakar jerami: besar, terang, tetapi hanya sesaat. Api jerami selalu tampak mengesankan di awal, namun cepat padam karena tidak memiliki bahan bakar yang kuat.

Sebaliknya, kayu yang kokoh mungkin tidak langsung berkobar besar, tetapi apinya bertahan jauh lebih lama.

Karena itu, ukuran iman bukanlah kerasnya suara ketika berbicara, bukan pula banyaknya slogan yang diucapkan. Ukurannya adalah keteguhan ketika tidak ada yang melihat, keberanian mempertahankan prinsip saat semua orang memilih jalan yang mudah, dan kesediaan terus memperbaiki diri meski tidak mendapat tepuk tangan.

Di sinilah makna taqwa menjadi begitu penting. Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah dalam pengertian yang sempit. Takwa adalah kewaspadaan yang terus-menerus terhadap diri sendiri. Ia adalah kemampuan mengawasi hati sebelum orang lain melihatnya, mengoreksi niat sebelum tindakan dilakukan, dan mengenali kelemahan diri sebelum kelemahan itu berubah menjadi kehancuran.

Setiap manusia memiliki sisi rapuh. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap godaan. Yang membedakan hanyalah siapa yang terus menjaga hatinya dan siapa yang membiarkannya tanpa penjagaan.

Pada akhirnya, iman bukanlah sesuatu yang cukup dimiliki sekali lalu selesai. Ia harus dirawat setiap hari. Ia membutuhkan ilmu agar tidak tersesat, membutuhkan amal agar tetap hidup, membutuhkan muhasabah agar tidak menyimpang, dan membutuhkan doa agar tidak dicabut dari hati tanpa disadari.

Sebab kehilangan harta masih bisa diganti. Kehilangan jabatan masih bisa dicari kembali. Tetapi ketika iman pergi diam-diam, sering kali seseorang baru menyadarinya setelah jaraknya dengan Tuhan telah terlampau jauh.

Baca Juga  Saat Agama Menemukan Penjaganya: Makna Ghadir bagi Hati dan Umat 
Bagikan:
Terkait
Komentar