Ketika Harta Telah Anda Tumpuk, Di Manakah Keislaman Itu Bersembunyi?

KHAMENEI.ID— Ada satu jenis kalimat yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam mengguncang cara manusia modern memandang hidup. Kalimat itu datang dari Imam Ja’far Shadiq a.s: “Tidaklah harta seseorang bertambah banyak, kecuali hujah (tuntutan) Allah atasnya juga bertambah besar.”

Di zaman ketika kekayaan dipandang sebagai simbol keberhasilan, ucapan itu terdengar nyaris asing. Kita hidup di era yang mengukur manusia dari jumlah aset, luas rumah, nilai saham, atau angka di rekening bank. Orang kaya dipuji karena berhasil “mengalahkan hidup”. Namun dalam pandangan moral Islam klasik, kekayaan justru bukan tanda bahwa seseorang telah selesai dari ujian, melainkan pertanda bahwa ujiannya baru saja dimulai.

Riwayat itu bermula dari sebuah pertemuan yang tampak biasa. Dawud bin Sirhan meriwayatkan bahwa ia sedang berada di hadapan Imam Ja’far Shadiq ketika seorang lelaki bernama Sadir ash-Shairafi masuk. Sadir adalah seorang penukar uang, dalam istilah sekarang mungkin semacam pedagang valuta atau pelaku bisnis keuangan. Singkatnya, ia orang berada. Ia datang, memberi salam, lalu duduk.

Namun sebelum ia sempat bertanya apa pun, Imam a.s langsung menegurnya dengan satu kalimat tajam: “Wahai Sadir! Tidaklah harta seseorang menjadi banyak kecuali hujah Allah atas dirinya menjadi besar.”

Kalimat itu seperti membalik logika umum manusia. Sebab biasanya orang merasa semakin banyak harta, semakin ringan hidupnya. Tetapi dalam hadis ini, semakin banyak harta, semakin berat pertanggungjawabannya.

Imam a.s lalu melanjutkan: jika kalian mampu “menolak” harta itu dari diri kalian, maka lakukanlah. Sadir tampak bingung. Apa maksudnya menolak harta? Apakah uang harus dibuang ke laut? Apakah kekayaan harus dimusnahkan? Imam a.s menjawab dengan sangat sederhana: penuhilah kebutuhan saudara-saudaramu dengan hartamu.

Baca Juga  Ketika Kampus Hanya Melahirkan Murid Abadi 

Di titik inilah kekayaan dipindahkan dari sekadar urusan ekonomi menjadi persoalan moral.

Dalam tradisi Islam, harta tidak pernah dipandang sepenuhnya milik pribadi. Ada hak orang lain yang tersembunyi di dalamnya. Karena itu Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa di dalam kekayaan orang kaya terdapat bagian untuk orang miskin. Kekayaan bukan hanya soal apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang siapa yang gagal ikut merasakan manfaatnya.

Imam Ali a.s pernah mengatakan dalam Nahjul Balaghah bahwa Allah Azza wa Jalla mengambil janji dari para ulama dan orang-orang berpengetahuan agar mereka tidak diam melihat “kekenyangan orang zalim dan kelaparan orang tertindas.” Kalimat ini sesungguhnya bukan hanya kritik kepada penguasa, melainkan kritik terhadap masyarakat yang mulai menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang normal.

Dan hari ini, ketimpangan itu memang sedang diperlakukan seperti kewajaran.

Di kota-kota besar, gedung pencakar langit berdiri hanya beberapa kilometer dari kampung-kampung sempit yang sesak dan pengap. Di media sosial, kemewahan dipamerkan sebagai gaya hidup, sementara di sudut lain orang antre bantuan pangan. Dunia modern berhasil menciptakan satu paradoks aneh: manusia semakin kaya, tetapi solidaritas semakin tipis.

Yang menarik, Imam Ja’far Shadiq a.s tidak meminta orang kaya membenci hartanya. Ia juga tidak mengatakan bahwa kemiskinan lebih suci daripada kekayaan. Yang dipersoalkan bukan hartanya, melainkan hubungan manusia dengan harta itu. Ketika uang berubah menjadi pusat hidup, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain.

Itulah sebabnya Imam menggunakan istilah “menolak” harta dari diri. Dalam makna yang lebih dalam, yang harus dijauhkan bukan uangnya, melainkan keterikatan berlebihan kepadanya.

Sebab ada banyak orang yang secara ekonomi berkecukupan, tetapi secara batin hidup dalam ketakutan kehilangan. Mereka terus menumpuk, menyimpan, menghitung, dan mengamankan, seolah hidup bisa dijamin oleh saldo rekening. Padahal semakin banyak yang dimiliki, sering kali semakin besar kecemasan yang mengikutinya.

Baca Juga  Dinding-Dinding di Jalan Keshvar Dost: Hikayat Kerinduan Bangsa Iran pada Sang Pemimpin yang Syahid

Di sinilah Islam memperkenalkan konsep infak dan sedekah bukan sekadar sebagai amal, tetapi sebagai cara menyelamatkan manusia dari diperbudak oleh miliknya sendiri.

Terdapat fenomena yang sering terjadi dan cukup aneh, namun orang-orang tidak menyadari hal tersebut, sebagai contoh;; Ada orang-orang kaya yang datang meminta bantuan dari baitulmal (semacam kas publik umat) untuk membantu orang miskin, padahal mereka sendiri mampu membantu. Mereka ingin kebaikan terjadi, tetapi berharap orang lain yang membayar biayanya.

Fenomena semacam ini tidak hilang di zaman modern. Banyak orang mendukung kepedulian sosial selama pengorbanannya tidak menyentuh kenyamanan pribadi mereka. Kita senang berbicara tentang kemanusiaan, tetapi sering keberatan ketika harus mengurangi sedikit kemewahan untuk orang lain.

Padahal dalam logika spiritual Islam, harta yang tidak bergerak kepada sesama justru akan berubah menjadi “beban hujah”. Ia menjadi sesuatu yang kelak dipertanyakan: dari mana diperoleh, dan ke mana dibelanjakan.

Karena itu, kekayaan dalam Islam sesungguhnya bukan privilese mutlak. Ia lebih mirip amanah yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi dakwaan moral.

Di tengah budaya modern yang mengajarkan manusia untuk terus membeli, terus memiliki, dan terus memamerkan, pesan Imam Ja’far Shadiq a.s terasa seperti tamparan keras namun tak tampak. Bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak yang bisa ia kumpulkan, tetapi pada seberapa banyak yang mampu ia lepaskan demi orang lain.

Dan mungkin di situlah letak ironi terbesar manusia modern: kita hidup di zaman dengan kekayaan paling melimpah dalam sejarah, tetapi juga di masa ketika berbagi terasa semakin berat.

Pada akhirnya, hadis tentang Sadir ash-Shairafi bukan sekadar nasihat tentang sedekah. Ia adalah kritik terhadap cara manusia memandang kepemilikan. Sebab yang membuat harta berbahaya bukan jumlahnya, melainkan ketika ia membuat manusia merasa cukup tanpa orang lain.

Baca Juga  Mengapa Kredibilitas Ulama Menjadi Fondasi Revolusi dan Masa Depan Umat?

Mungkin karena itu Imam tidak berkata bahwa orang kaya harus menjadi miskin. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap tambahan kekayaan selalu membawa tambahan pertanyaan moral.

Dan tidak semua orang siap menanggung beratnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar