Meminta Keyakinan dan Keselamatan: Dua Bekal Menghadapi Hidup

KHAMENEI.ID – Ada doa yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan tuntutan yang besar: meminta keyakinan kepada Allah Ta’ala. Sebab keyakinan bukan sekadar rasa tenang dalam hati. Ia adalah sesuatu yang menentukan bagaimana seseorang berdiri, memilih, takut, bertahan, bahkan ketika hidup memaksanya berjalan di tengah ketidakpastian.

Dalam sebuah khotbah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib a.s, terdapat pesan yang ringkas namun dalam:

عباداللّه، سلوا اللّه الیقین، فإنّ الیقین رأس الدّین و ارغبوا الیه فی العافیة فإنّ أعظم النعمة العافیة فاغتنموها للدنیا و الآخرة

“Wahai hamba-hamba Allah, mintalah kepada Allah keyakinan. Sesungguhnya keyakinan adalah kepala agama. Dan mintalah kepada-Nya keselamatan, karena keselamatan merupakan nikmat yang paling agung. Maka manfaatkanlah ia untuk kehidupan dunia dan akhirat”

Pesan itu dicatat dalam kitab Tuhaf al-‘Uqul. Di dalamnya, keyakinan ditempatkan bukan sebagai pelengkap kehidupan beragama, melainkan sebagai pusat yang menggerakkan seluruhnya. Seperti kepala yang mengarahkan gerak tubuh, keyakinan menentukan ke mana seseorang membawa dirinya.

Orang bisa saja memiliki banyak pengetahuan tentang agama, hafal banyak nasihat, atau terbiasa menjalankan berbagai ritual. Namun tanpa keyakinan yang kokoh, semua itu mudah kehilangan arah. Pengetahuan dapat memenuhi kepala, tetapi keyakinanlah yang membuat seseorang berani mengambil langkah.

Di titik ini, permintaan untuk memperoleh keyakinan menjadi menarik. Mengapa orang yang telah memiliki keyakinan masih diminta untuk memohon keyakinan? Bukankah keyakinan semestinya sudah selesai ketika seseorang percaya?

Tidak sesederhana itu.

Keyakinan memiliki tingkatan. Ia bukan sakelar yang hanya mengenal keadaan menyala atau padam. Seseorang dapat percaya, tetapi pada saat yang sama masih diliputi keraguan. Ia dapat mengetahui kebenaran, tetapi belum sepenuhnya tenang ketika harus menjalaninya. Ada jarak antara mengetahui sesuatu sebagai benar dan memiliki keyakinan yang membuat seluruh hidup bergerak sejalan dengan kebenaran itu.

Baca Juga  Zikir kepada Allah: Jalan Keluar dari Kelalaian yang Tak Terasa

Karena itu, bahkan mereka yang telah mencapai tingkat keyakinan yang tinggi tetap memohon kepada Tuhan agar keyakinannya ditambahkan. Seakan-akan ada kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar selesai dalam urusan batinnya.

Bukankah kehidupan modern memperlihatkan hal yang sama?

Kita hidup di tengah limpahan informasi, tetapi tidak selalu memiliki kepastian. Berita datang dari segala arah, pendapat berubah dalam hitungan jam, dan ukuran keberhasilan sering ditentukan oleh suara orang lain. Di tengah kebisingan semacam itu, persoalan manusia bukan hanya kekurangan informasi. Bisa jadi justru kekurangan pijakan.

Keyakinan, dalam pengertian ini, bukan penolakan terhadap akal. Ia dapat tumbuh melalui perenungan atas alasan-alasan agama, melalui perhatian terhadap dasar-dasar keyakinan, dan melalui pencarian yang sungguh-sungguh terhadap kebenaran. Tetapi ada jalan lain yang tidak kalah penting: mendekat kepada Tuhan dengan kerendahan hati.

Akal mencari. Hati tunduk. Keduanya dapat bertemu dalam perjalanan menuju keyakinan.

Namun jika ditarik lebih jauh, khotbah tersebut memasangkan keyakinan dengan satu kata lain: afiyah, keselamatan atau kesejahteraan. Ini juga mudah disalahpahami. Dalam percakapan sehari-hari, orang yang mencari “keselamatan” kadang dibayangkan sebagai mereka yang ingin hidup nyaman, menghindari risiko, menjauh dari persoalan, dan memilih tempat yang paling aman.

Padahal afiyah yang dimaksud jauh lebih dalam.

Ia bukan ajakan untuk bersembunyi dari kehidupan. Bukan pula dalih agar seseorang tidak terlibat dalam perjuangan ketika keadaan menuntut keberanian. Keselamatan yang diminta justru menyentuh wilayah yang lebih sunyi: keselamatan dalam keyakinan dan tindakan, serta perlindungan dari godaan yang dapat menggoyahkan manusia dari dalam dirinya sendiri.

Seorang manusia dapat berada di tempat yang aman secara fisik, tetapi tidak benar-benar selamat. Ia mungkin bebas dari bahaya di luar, namun kalah oleh ketakutan, kesombongan, hawa nafsu, atau keraguan yang tumbuh di dalam diri.

Baca Juga  Muhasabah Nasional: Saat Sebuah Bangsa Belajar Menghitung Diri

Karena itu, bahkan di medan perang, seseorang tetap layak meminta afiyah. Bukan semata agar tubuhnya terhindar dari luka, melainkan agar hatinya tidak dikuasai ketakutan, keyakinannya tidak runtuh, dan langkahnya tidak kehilangan keteguhan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan manusia hari ini. “Medan perang” tidak selalu berupa pertempuran bersenjata. Ia bisa berupa ruang kerja yang penuh persaingan, keluarga yang sedang diuji, keputusan moral yang sulit, atau pergulatan batin yang tak diketahui siapa pun. Dalam keadaan semacam itu, manusia membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia membutuhkan keselamatan batin agar tidak kehilangan dirinya sendiri.

Imam Ali Zainal Abidin a.s bahkan menggambarkan keluasan makna afiyah dalam doa yang kemudian dikenal sebagai Doa ke-23 Sahifah Sajjadiyah. Di sana, keselamatan tidak berhenti pada tubuh yang sehat atau kehidupan yang bebas dari musibah. Ia menjangkau berbagai sisi kehidupan manusia, jasmani, batin, keyakinan, dan amal.

Pada akhirnya, mungkin itulah mengapa dua permohonan ini ditempatkan berdampingan: keyakinan dan keselamatan. Yang pertama memberi arah; yang kedua menjaga perjalanan. Keyakinan membuat seseorang tahu ke mana harus melangkah. Afiyah membuatnya tetap utuh ketika perjalanan itu menjadi berat.

Manusia tidak pernah bisa meminta agar hidup sepenuhnya bebas dari ketidakpastian. Ia juga tidak selalu dapat memilih medan yang harus dihadapinya. Tetapi ia masih dapat memohon agar di tengah segala perubahan itu, ada sesuatu yang tidak ikut goyah: keyakinannya.

Dan mungkin di sanalah makna doa menemukan kedalaman yang sebenarnya. Bukan permintaan agar hidup menjadi mudah, melainkan agar manusia tetap teguh ketika hidup tidak mudah.

Bagikan:
Terkait
Komentar