Mab’ats Nabi Muhammad: Ketika Seluruh Nabi Menanti Sang Penutup Kenabian

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa-peristiwa yang mengubah arah sejarah. Ada pula peristiwa yang mengubah cara manusia memahami sejarah itu sendiri. Mab’ats Nabi Muhammad saw hari ketika beliau diangkat sebagai rasul, termasuk dalam kategori kedua. Ia bukan sekadar awal dari sebuah risalah baru, melainkan titik temu seluruh perjalanan kenabian sejak Nabi Adam a.s hingga Nabi Isa a.s. Seakan-akan semua jalan panjang para nabi bermuara pada satu momentum yang telah dijanjikan sejak awal.

Al-Qur’an menggambarkan peristiwa ini dengan cara yang sangat mengesankan. Bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir, Allah telah mengambil janji dari para nabi agar mereka beriman kepada beliau dan membantu perjuangannya apabila sempat bertemu dengannya.

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ

“Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: ‘Sungguh, apa pun kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kalian, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian harus beriman kepadanya dan menolongnya” (QS. Ali Imran: 81).

Ayat ini menghadirkan sebuah pemandangan yang luar biasa. Para nabi yang hidup pada zaman dan bangsa yang berbeda ternyata dipersatukan oleh satu ikatan yang sama: menyambut datangnya Rasul terakhir. Dengan demikian, Mab’ats bukan hanya milik umat Islam. Ia adalah bagian dari rencana besar Tuhan yang melintasi seluruh sejarah kenabian.

Di titik ini, makna “menolong” Nabi Muhammad saw menjadi menarik untuk direnungkan. Tentu sebagian besar nabi tidak hidup sezaman dengan beliau. Lalu bagaimana mereka dapat menolongnya?

Jawabannya bukan melalui pedang atau kekuatan politik, melainkan melalui pendidikan iman. Setiap nabi memperkenalkan kepada umatnya bahwa suatu hari akan datang seorang rasul penutup yang menyempurnakan risalah-risalah sebelumnya. Mereka menyiapkan hati pengikutnya agar tidak berhenti pada sosok nabi yang mereka cintai, tetapi bersedia mengikuti kebenaran ketika ia hadir dalam bentuk yang baru.

Baca Juga  Cinta Dunia, Akar Segala Dosa: Pelajaran Abadi Imam Ali untuk Zaman yang Terobsesi Kepemilikan

Karena itu, tugas para nabi bukan hanya menyampaikan wahyu untuk zamannya masing-masing, melainkan juga membuka jalan bagi masa depan. Mereka adalah mata rantai yang saling menguatkan, bukan tokoh-tokoh yang berdiri sendiri.

Gagasan ini kemudian memperoleh penegasan dalam ayat lain.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi, yang mereka dapati sifat-sifatnya tertulis di dalam Taurat dan Injil” (QS. Al-A’raf: 157).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Nabi Muhammad saw bukanlah kejutan yang datang tanpa isyarat. Dalam kitab-kitab suci yang masih asli sebelum mengalami perubahan, tanda-tanda tentang beliau telah diperkenalkan. Nama, sifat, serta karakter risalahnya menjadi kabar gembira yang diwariskan lintas generasi. Sejarah kenabian ternyata memiliki kesinambungan yang jauh lebih erat daripada yang sering dibayangkan.

Dalam konteks yang lebih luas, hal ini memperlihatkan bahwa agama-agama samawi tidak lahir untuk saling meniadakan. Seluruhnya berasal dari satu sumber yang sama dan bergerak menuju tujuan yang sama: membimbing manusia mengenal Tuhan dan memuliakan martabat kemanusiaan. Perbedaan syariat tidak menghapus kesatuan misi.

Nabi Isa a.s sendiri, menurut Al-Qur’an, menyampaikan kabar itu secara terbuka kepada Bani Israil.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم… وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu… dan aku memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad” (QS. Ash-Shaff: 6).

Nama “Ahmad” bukan sekadar informasi, melainkan simbol bahwa sejarah sedang bergerak menuju puncaknya. Risalah-risalah sebelumnya bukanlah cerita yang selesai pada dirinya sendiri, tetapi bab-bab awal dari kisah besar yang mencapai penyempurnaan melalui Nabi Muhammad saw.

Baca Juga  Takwa yang Terlupakan: Ketika Menegakkan Keadilan Lebih Mulia daripada Ibadah Panjang 

Pandangan ini juga tercermin dalam Nahjul Balaghah. Imam Ali a.s menggambarkan pengutusan Rasulullah saw sebagai pemenuhan janji Allah kepada seluruh nabi. Dengan kata lain, Mab’ats adalah saat ketika sebuah ikrar ilahi yang telah lama disampaikan akhirnya menjadi kenyataan.

Di sinilah kita menemukan makna yang lebih dalam tentang kenabian. Para nabi bukanlah pesaing yang menawarkan jalan masing-masing. Mereka adalah pembawa obor dalam estafet panjang cahaya. Obor itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga akhirnya mencapai kesempurnaannya pada Rasulullah saw.

Namun pesan Mab’ats tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Ia juga menyentuh kehidupan manusia modern yang sering terjebak dalam budaya persaingan, fragmentasi, dan klaim kebenaran yang sempit. Sejarah para nabi justru mengajarkan hal sebaliknya: keberhasilan seorang utusan bukanlah ketika dirinya dipuja, melainkan ketika ia berhasil mengantarkan manusia kepada kebenaran yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Para nabi tidak membangun kultus pribadi. Mereka membangun kesinambungan. Mereka rela menjadi mata rantai yang mungkin tidak menyaksikan hasil akhir perjuangannya. Mereka menanam pohon yang buahnya akan dipetik oleh generasi sesudah mereka.

Mungkin itulah salah satu pelajaran paling relevan dari Mab’ats Nabi Muhammad saw. Bahwa hidup bukan semata tentang menjadi tokoh utama dalam zaman sendiri, melainkan tentang mengambil bagian dalam proyek besar kemanusiaan yang melampaui usia, generasi, bahkan sejarah pribadi kita.

Ketika Rasulullah saw diangkat sebagai nabi, sesungguhnya yang dimulai bukan hanya babak baru bagi umat Islam. Yang disempurnakan adalah sebuah perjalanan panjang yang telah dimulai sejak manusia pertama menerima wahyu. Mab’ats menjadi pengingat bahwa kebenaran tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui kesetiaan para nabi terhadap satu janji yang sama: mengarahkan manusia menuju cahaya Tuhan yang utuh.

Baca Juga  Pelajaran Imam Ali Menahan Luka Demi Kebenaran
Bagikan:
Terkait
Komentar