KHAMENEI.ID– Ada satu sisi dari kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib a.s yang jarang dibicarakan. Orang mengenalnya sebagai ksatria yang tak terkalahkan, panglima perang yang disegani, sekaligus hakim yang adil dan pemimpin yang bijaksana. Namun di balik keberanian dan keteguhannya, ada seorang manusia yang berkali-kali menangis karena kehilangan sahabat-sahabat terbaiknya.
Tangisan itu bukan tangisan kelemahan. Ia adalah jeritan sunyi seorang pemimpin yang melihat satu per satu orang-orang paling tulus di sekelilingnya pergi mendahului dirinya.
Menjelang akhir hayatnya, Imam Ali a.s pernah berdiri di hadapan masyarakat Kufah dan mengenang para sahabat yang telah gugur di jalan kebenaran. Suaranya berubah lirih ketika menyebut nama-nama yang begitu dekat dengan hatinya.
“Di manakah Ammar? Di manakah Ibnu Tihan? Di manakah Dzu Syahadatain? Di manakah saudara-saudara mereka yang telah berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka di jalan Allah?”
Pertanyaan itu bukan sekadar daftar nama. Ia adalah ratapan seorang pemimpin yang merasa semakin sendirian di tengah umatnya.
Ammar bin Yasir adalah simbol keteguhan iman sejak masa-masa awal Islam. Dzu Syahadatain, Khuzaimah bin Tsabit, dikenal karena integritasnya yang luar biasa hingga kesaksiannya dihargai setara dengan dua orang saksi. Mereka adalah generasi yang menempa diri dalam perjuangan bersama Nabi Muhammad saw, menghadapi peperangan, pengorbanan, dan berbagai ujian yang membentuk karakter mereka.
Kini mereka telah tiada.
Ali a.s mengenang mereka bukan hanya karena hubungan pribadi, melainkan karena mereka adalah representasi dari sebuah kualitas manusia yang semakin langka: kesetiaan kepada kebenaran meskipun harus membayar dengan nyawa.
Dalam salah satu khotbahnya yang terkenal dalam Nahjul Balaghah, Ali a.s menggambarkan saudara-saudaranya itu sebagai orang-orang yang membaca Al-Qur’an lalu mengamalkannya, memahami kewajiban lalu menegakkannya, menghidupkan sunnah dan mematikan penyimpangan. Ketika dipanggil untuk berjuang, mereka menjawab. Ketika dipercaya kepada seorang pemimpin yang benar, mereka mendukung dengan penuh keyakinan.
Lalu Ali a.s menangis.
Sejarawan meriwayatkan bahwa setelah menyebut nama-nama sahabat tersebut, ia mengusap janggutnya dan menangis panjang. Tangisan itu lahir dari kerinduan sekaligus keprihatinan. Sebab yang hilang bukan sekadar individu-individu hebat, melainkan sebuah generasi yang memahami makna pengorbanan.
Kesedihan Ali a.s sebenarnya mencerminkan persoalan yang selalu berulang dalam sejarah. Kebenaran hampir tidak pernah kekurangan pemimpin. Yang sering hilang justru para pendukung yang konsisten.
Banyak orang mengaku mencintai keadilan, tetapi sedikit yang siap membayar harga untuk mempertahankannya. Banyak yang memuji keberanian, tetapi enggan berdiri ketika keberanian itu menuntut risiko. Dalam situasi seperti itulah seorang pemimpin sering kali merasakan kesepian yang tidak terlihat oleh publik.
Ali a.s sendiri pernah mengeluhkan hal ini kepada masyarakatnya. Ia mengatakan bahwa para nabi telah menyampaikan nasihat kepada umat mereka, dan para penerus nabi saw juga telah menjalankan tugas yang sama. Namun tidak semua orang mau mendengar. Tidak semua orang mau mengikuti jalan yang benar meskipun telah ditunjukkan dengan jelas.
Keluhan itu terasa sangat modern. Hari ini pun kita menyaksikan fenomena serupa. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, nasihat berlimpah ruah. Yang langka bukanlah pengetahuan, melainkan kesediaan untuk menjalankannya. Yang sulit bukan menemukan kebenaran, tetapi bertahan bersamanya ketika keadaan menjadi tidak nyaman.
Karena itu, ketika Ali a.s mengenang Ammar dan sahabat-sahabatnya, sesungguhnya ia sedang mengenang manusia-manusia yang mampu menjaga komitmen di tengah badai.
Namun khotbah itu tidak hanya berbicara tentang kehilangan sahabat. Di dalamnya, Ali a.s juga mengingatkan tentang kefanaan dunia.
Ia mengajak manusia melihat sejarah. Di mana para raja besar? Di mana Fir’aun dan keturunannya? Di mana bangsa-bangsa perkasa yang dahulu membangun kota-kota megah dan menguasai wilayah luas?
Mereka semua telah pergi.
Bahkan Nabi Sulaiman a.s, yang menurut tradisi memiliki kerajaan yang meliputi manusia dan jin, pada akhirnya tidak mampu menghindari kematian. Kekuasaan sebesar apa pun ternyata tidak dapat membeli satu hari tambahan kehidupan.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menghantam kesadaran manusia modern yang sering terobsesi pada pencapaian, popularitas, dan kekuasaan. Ali a.s mengingatkan bahwa sejarah selalu bergerak ke arah yang sama: semua yang tampak besar pada akhirnya akan menjadi kenangan.
Yang tersisa hanyalah nilai dan jejak kebaikan.
Ironisnya, beberapa hari setelah menyampaikan khotbah yang penuh kerinduan itu, tragedi besar terjadi.
Malam 19 Ramadan tiba.
Masjid Kufah yang selama bertahun-tahun menjadi saksi doa-doa panjang Ali a.s, munajat-munajat yang menggetarkan hati, dan tangisan-tangisan spiritualnya, mendadak berubah menjadi tempat duka. Dalam keheningan menjelang fajar, ketika Ali a.s sedang berdiri dalam salat, tangan pengkhianatan menyerangnya.
Tidak ada yang berani menghadapi Ali a.s secara terbuka di medan perang. Karena itu serangan dilakukan dalam gelap, ketika ia sedang bersujud kepada Tuhannya.
Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa setelah terkena pukulan, Ali a.s menyadari apa yang telah terjadi. Dalam berbagai sumber sejarah Islam, kalimat yang paling dikenal dari peristiwa itu adalah:
فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ
“Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.”
Kalimat itu terdengar paradoksal. Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja terkena serangan mematikan justru berbicara tentang kemenangan?
Barangkali karena bagi Ali a.s , kemenangan bukanlah bertahan hidup lebih lama. Kemenangan adalah menyelesaikan amanah dengan setia hingga akhir. Kemenangan adalah tetap berada di jalan yang diyakini benar sampai napas terakhir.
Maka kisah tangisan Ali a.s atas sahabat-sahabatnya bukan semata kisah sejarah. Ia adalah cermin bagi setiap zaman.
Di tengah dunia yang sering mengagungkan popularitas instan, Ali a.s justru merindukan orang-orang yang setia. Di tengah masyarakat yang mudah berubah arah karena kepentingan sesaat, ia mengenang mereka yang memegang janji sampai mati.
Mungkin itulah sebabnya ratapan Ali a.s masih terdengar relevan berabad-abad kemudian. Sebab pertanyaan yang ia lontarkan sesungguhnya bukan hanya tentang Ammar, Ibnu Tihan, atau Dzu Syahadatain.
Pertanyaan itu diam-diam juga ditujukan kepada kita:
Di manakah orang-orang yang tetap bertahan bersama kebenaran ketika keadaan menjadi sulit?







