KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu mengatakan kebenaran. Di sanalah penilaian diri mulai kehilangan kejernihannya: ketika suara orang lain terdengar lebih meyakinkan daripada suara hati yang jujur.
Dalam salah satu nasihat Imam Ali Zainal Abidin Al-Sajjad a.s, terdapat peringatan singkat yang menyentuh tiga sisi kehidupan manusia: pujian, aib yang tertutupi, dan kebaikan yang diterima. Ketiganya tampak menyenangkan. Namun, jika tidak disikapi dengan kewaspadaan, ketiganya dapat menjadi jalan menuju kesesatan yang paling sulit dikenali, sebab seseorang tidak merasa sedang tersesat. Ia justru merasa sedang baik-baik saja.
Imam Sajjad a.s berkata:
كَمْ مِنْ مَفْتُونٍ بِحُسْنِ الْقَوْلِ فِيهِ، وَكَمْ مِنْ مَغْرُورٍ بِحُسْنِ السَّتْرِ عَلَيْهِ، وَكَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
“Betapa banyak orang yang terpesona oleh baiknya perkataan tentang dirinya, betapa banyak orang yang tertipu karena aibnya ditutupi, dan betapa banyak orang yang secara perlahan digiring oleh kebaikan yang diberikan kepadanya”
Peringatan ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Manusia memang membutuhkan pengakuan. Pujian dapat menguatkan semangat, penghargaan dapat menumbuhkan kepercayaan diri, dan kepercayaan orang lain dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik. Persoalannya bukan terletak pada pujian itu sendiri, melainkan pada perubahan yang diam-diam terjadi ketika pujian mulai dijadikan ukuran untuk menilai kebenaran tentang diri sendiri.
Kita bisa saja dipuji karena kepandaian berbicara, padahal tidak selalu cermat dalam berpikir. Disebut bijaksana karena pandai menyampaikan nasihat, padahal belum tentu mampu menjalankannya. Bahkan, seseorang dapat memperoleh reputasi sebagai pribadi yang saleh karena penampilannya meyakinkan, sementara pergulatan batin yang sesungguhnya tidak diketahui orang lain.
Di titik ini, pujian menjadi berbahaya bukan karena orang lain mengatakan sesuatu yang baik, melainkan karena kita berhenti memeriksa apakah kebaikan itu benar-benar telah tumbuh dalam diri. Kita mulai memperlakukan penilaian orang sebagai cermin yang paling dapat dipercaya, meskipun cermin itu hanya memantulkan bagian yang terlihat.
Lebih jauh lagi, manusia memiliki kecenderungan untuk membenarkan dirinya sendiri. Ketika menerima kritik, ia sibuk mencari alasan. Ketika dipuji, ia segera menemukan bukti bahwa dirinya memang layak dipuji. Pikiran bekerja seperti pengacara yang selalu membela pemiliknya, bukan seperti hakim yang berusaha menemukan kebenaran. Akibatnya, semakin banyak pengakuan yang diterima, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk mengakui kesalahan.
Peringatan Imam Sajjad a.s menjadi semakin penting ketika menyangkut orang-orang yang memegang tanggung jawab. Seorang pemimpin, misalnya, dapat dikelilingi orang-orang yang selalu membenarkan keputusannya. Bukan karena semua keputusannya benar, melainkan karena orang-orang di sekitarnya merasa lebih aman untuk menyenangkan daripada menyampaikan kenyataan. Jika keadaan ini berlangsung lama, ia mungkin sungguh-sungguh percaya bahwa dirinya tidak pernah keliru.
Padahal, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia kehilangan akses terhadap penilaian yang jujur. Kritik dianggap ancaman, perbedaan pendapat dipandang sebagai pembangkangan, dan pujian diterima sebagai bukti keberhasilan. Pada akhirnya, seseorang tidak lagi memimpin berdasarkan kenyataan, tetapi berdasarkan gambaran tentang dirinya yang dibangun oleh orang-orang di sekelilingnya.
Namun, nasihat ini tidak berhenti pada pujian. Ada jebakan lain yang jauh lebih halus: aib yang ditutupi.
Tidak semua kesalahan langsung mendatangkan akibat. Ada orang yang berulang kali berbuat buruk, tetapi reputasinya tetap terjaga. Kebohongannya tidak terbongkar, ketidakadilannya tidak diketahui, dan perilakunya yang menyakiti orang lain tidak pernah sampai ke telinga masyarakat. Karena tidak ada hukuman yang datang, ia mulai merasa aman. Karena tidak ada yang menegurnya, ia mengira tidak ada yang perlu diperbaiki.
Padahal, tersembunyinya sebuah kesalahan tidak mengubah kesalahan itu menjadi kebaikan. Ketidaktahuan orang lain bukanlah bukti bahwa seseorang tidak bersalah. Bisa jadi, aib itu tertutupi oleh kasih sayang Tuhan yang memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan oleh pembenaran atas perilakunya.
Kesadaran semacam ini mengubah cara seseorang memandang kesempatan kedua. Ia tidak menggunakan keselamatan untuk mengulang kesalahan dengan lebih berani, tetapi menjadikannya kesempatan untuk berhenti. Ia tidak bertanya semata-mata mengapa dirinya belum menerima akibat, melainkan mengapa ia masih diberi waktu untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya.
Dalam ajaran Islam terdapat satu penggalan doa yang mengisyaratkan kesadaran akan kemungkinan tersingkapnya segala sesuatu di hadapan Tuhan. penggalan itu terdapat dalam doa Sya’baniyah:
إِلَهِي لَا تَفْضَحْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَىٰ رُؤُوسِ الْأَشْهَادِ
“Wahai Tuhanku, janganlah Engkau mempermalukanku pada hari kiamat di hadapan seluruh saksi”
Doa ini bukan sekadar ungkapan ketakutan terhadap terbukanya rahasia. Ia juga mengandung kesadaran bahwa manusia memiliki sisi kehidupan yang tidak sepenuhnya diketahui orang lain. Di hadapan masyarakat, seseorang mungkin tampak terhormat. Namun, kehormatan sosial dan keadaan batin bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.
Ada pula jebakan ketiga yang disebut Imam Sajjad a.s: seseorang yang perlahan-lahan terseret oleh kebaikan dan nikmat yang diterimanya. Dalam khazanah Islam, keadaan ini dikenal dengan istilah istidraj, yakni ketika kelapangan dan pemberian yang terus datang justru membuat seseorang semakin jauh dari kesadaran dan pertobatan.
Al-Qur’an memberikan peringatan:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
“Kelak Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A’raf: 182)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak setiap kelapangan berarti keselamatan, sebagaimana tidak setiap kesulitan berarti kehinaan. Seseorang dapat memperoleh kekayaan, jabatan, pengaruh, dan berbagai kemudahan, tetapi semua itu tidak otomatis menunjukkan bahwa dirinya semakin dekat kepada kebaikan.
Justru ketika hidup terasa berjalan mulus, manusia sering kehilangan alasan untuk bertanya. Ia merasa keputusan-keputusannya benar karena menghasilkan keuntungan. Ia menganggap dirinya istimewa karena selalu berhasil. Bahkan, ia dapat mengira bahwa Allah meridhai segala tindakannya hanya karena nikmat terus berdatangan.
Di sinilah bahaya itu bekerja secara perlahan. Tidak ada peristiwa besar yang memaksanya berhenti. Tidak ada teguran yang cukup keras untuk mengguncang keyakinannya. Ia terus melangkah, semakin percaya diri, sementara kepekaan terhadap kesalahan semakin menipis.
Karena itu, ukuran yang lebih jujur untuk menilai diri bukanlah seberapa sering orang memuji kita, seberapa aman reputasi kita, atau seberapa banyak nikmat yang berhasil kita kumpulkan. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah semua itu membuat kita semakin rendah hati, semakin berani mengakui kesalahan, dan semakin bersedia memperbaiki diri.
Pada akhirnya, manusia tidak selalu membutuhkan lebih banyak pujian. Kadang-kadang, yang ia butuhkan adalah keberanian untuk mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Ia tidak selalu membutuhkan terbukanya seluruh aib di hadapan orang lain, tetapi membutuhkan kejujuran untuk melihat kekurangannya sendiri sebelum semuanya terlambat. Dan ia tidak perlu mencurigai setiap nikmat yang datang, melainkan belajar agar nikmat itu tidak membuatnya lupa kepada tanggung jawab.
Sebab, salah satu bentuk kehilangan yang paling sunyi adalah kehilangan kemampuan untuk melihat diri sendiri dengan benar. Orang lain mungkin masih menganggap kita baik. Kehormatan mungkin tetap terjaga. Kehidupan bahkan mungkin terus menawarkan kemudahan. Namun, semua itu tidak banyak berarti jika kita telah begitu lama mempercayai gambaran tentang diri sendiri hingga tak lagi sanggup membedakannya dari kenyataan.
Barangkali, kedewasaan batin bermula ketika seseorang tidak lagi sibuk memastikan bahwa dirinya tampak baik di mata manusia, tetapi mulai bersungguh-sungguh memeriksa apakah dirinya memang sedang menjadi lebih baik.







