KHAMENEI.ID– Ada orang yang mengejar kekuasaan dengan segala cara. Ada pula yang justru berusaha menjauhinya. Di tengah sejarah yang dipenuhi perebutan takhta, sosok Imam Ali bin Abi Thalib a.s berdiri sebagai pengecualian yang mencolok. Baginya, kekuasaan bukanlah hadiah, apalagi tujuan hidup. Ia hanya bernilai jika mampu menjadi jalan untuk menegakkan keadilan.
Sikap itu tampak jelas ketika umat Islam berbondong-bondong mendatangi rumahnya setelah wafatnya Khalifah Utsman. Mereka mendesak Ali a.s agar bersedia memimpin. Di hadapannya terbentang pilihan yang tidak mudah. Di satu sisi, ia adalah pribadi yang sepanjang hidupnya menunjukkan ketidakpedulian terhadap kemewahan dunia. Di sisi lain, ia melihat sebuah masyarakat yang sedang berada di ambang kekacauan, di mana ketidakadilan mulai mengakar dan hak-hak rakyat terancam hilang.
Dalam situasi seperti itulah Imam Ali a.s mengambil keputusan yang kemudian menjadi salah satu pelajaran terbesar tentang makna kepemimpinan dalam Islam.
Beliau pernah berkata:
فَلَوْلَا حُضُورُ الْحَاضِرِ وَقِيَامُ الْحُجَّةِ بِوُجُودِ النَّاصِرِ وَمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ أَلَّا يُقَارُّوا عَلَى كِظَّةِ ظَالِمٍ وَلَا سَغَبِ مَظْلُومٍ، لَأَلْقَيْتُ حَبْلَهَا عَلَى غَارِبِهَا
“Seandainya bukan karena hadirnya orang-orang yang memberikan dukungan, tegaknya hujah dengan adanya para penolong, dan karena Allah telah mengambil janji dari orang-orang berilmu agar mereka tidak berdiam diri terhadap kenyangnya orang zalim dan laparnya orang yang dizalimi, niscaya aku akan melepaskan tali kekhalifahan itu dan membiarkannya begitu saja”
Kalimat itu bukan sekadar pidato politik. Ia adalah pengakuan yang jujur tentang bagaimana Imam Ali a.s memandang kekuasaan. Jabatan tidak pernah memiliki daya tarik pada dirinya. Bahkan dalam riwayat lain, ia menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang nilainya lebih rendah daripada lendir yang keluar dari hidung seekor kambing. Ungkapan yang sangat keras itu menunjukkan betapa kecil arti kekuasaan jika hanya dipandang sebagai alat untuk memperoleh kehormatan atau kenikmatan.
Namun persoalannya berubah ketika kekuasaan menyangkut nasib manusia.
Di titik inilah perspektif Imam Ali a.s menjadi sangat berbeda. Ia tidak menerima pemerintahan karena mencintai kekuasaan, melainkan karena mencintai keadilan. Ia melihat bahwa jika orang yang memiliki kemampuan memilih mundur, maka ruang itu akan diisi oleh mereka yang menjadikan jabatan sebagai alat kepentingan pribadi. Ketika itu terjadi, yang pertama kali menjadi korban adalah rakyat kecil.
Baginya, kepemimpinan adalah bentuk tanggung jawab moral. Seorang pemimpin harus memastikan bahwa tidak ada hak yang dirampas, tidak ada kekayaan publik yang dikuasai segelintir orang, dan tidak ada kelompok lemah yang dibiarkan menghadapi penindasan sendirian.
Karena itu, menerima kekuasaan justru menjadi bentuk pengorbanan, bukan kemenangan.
Namun gagasan Imam Ali a.s tidak berhenti pada pemimpin semata. Dalam kutipan tersebut terdapat pesan yang jauh lebih luas, yakni tentang tanggung jawab setiap orang yang memiliki ilmu.
Allah, kata Imam Ali a.s, telah mengambil janji dari para ulama dan orang-orang berpengetahuan agar mereka tidak tinggal diam ketika melihat “kenyangnya orang zalim dan laparnya orang yang dizalimi.” Ungkapan ini begitu kuat karena tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi tentang ketimpangan. Ada pihak yang menikmati segala fasilitas secara berlebihan, sementara di sisi lain ada manusia yang bahkan kehilangan hak-hak dasarnya.
Diam dalam situasi seperti itu bukanlah sikap netral. Diam berarti membiarkan ketidakadilan terus bekerja.
Pesan ini terasa sangat relevan pada masa sekarang. Pengetahuan sering kali hanya dipahami sebagai alat meraih prestasi pribadi, gelar akademik, atau kedudukan profesional. Padahal dalam pandangan Islam, ilmu selalu membawa konsekuensi sosial. Semakin seseorang mengetahui kebenaran, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membela yang benar.
Karena itu, Imam Ali a.s tidak hanya berbicara kepada para penguasa. Ia berbicara kepada para intelektual, akademisi, ulama, guru, jurnalis, bahkan siapa pun yang memiliki kemampuan memahami kenyataan. Mereka tidak dibenarkan menikmati kenyamanan pribadi sambil membiarkan ketidakadilan tumbuh di sekelilingnya.
Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini juga mengubah cara kita memandang politik. Politik sering dianggap identik dengan perebutan jabatan, kompromi kepentingan, atau sekadar permainan kekuasaan. Padahal, jika mengikuti jejak Imam Ali a.s, politik justru merupakan instrumen untuk melindungi manusia.
Ketika kekuasaan kehilangan orientasi itu, ia berubah menjadi beban bagi masyarakat. Sebaliknya, ketika kekuasaan dijalankan sebagai amanah, ia menjadi sarana menghadirkan keadilan.
Inilah sebabnya Imam Ali a.s tidak pernah mengukur keberhasilan pemerintahan dari megahnya istana atau luasnya wilayah kekuasaan. Ukurannya sederhana tetapi sangat mendasar: apakah hak orang lemah kembali kepada pemiliknya, apakah harta yang dirampas dikembalikan, apakah penindasan berhasil dihentikan, dan apakah manusia dapat hidup lebih bermartabat.
Ukuran semacam ini terasa begitu asing di tengah budaya politik modern yang sering lebih sibuk menghitung elektabilitas daripada keadilan, lebih memperhatikan citra daripada keberpihakan kepada rakyat.
Pada akhirnya, kisah Imam Ali a.s mengajarkan bahwa persoalan terbesar bukanlah siapa yang berkuasa, melainkan untuk apa kekuasaan itu digunakan.
Jabatan memang dapat menjadi jalan menuju kehormatan, tetapi juga dapat berubah menjadi ladang pertanggungjawaban yang sangat berat. Karena itulah Imam Ali v tidak pernah memandang kekuasaan sebagai hak istimewa. Ia menerimanya hanya ketika melihat bahwa meninggalkannya justru akan membuka jalan bagi semakin luasnya kezaliman.
Barangkali di situlah letak pelajaran paling penting bagi setiap zaman. Dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang yang ingin memimpin. Dunia justru membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia memikul tanggung jawab ketika keadilan memanggil. Sebab kekuasaan yang lahir dari ambisi akan melahirkan persaingan, sedangkan kekuasaan yang lahir dari amanah akan melahirkan keberanian untuk berdiri di pihak mereka yang paling lemah.







