KHAMENEI.ID– Tidak semua perjuangan berakhir di medan perang. Ada pertempuran yang justru dimulai ketika pedang telah disarungkan, ketika darah telah mengering, dan ketika para syuhada telah gugur. Di sanalah sejarah menemukan babak yang paling menentukan: siapa yang akan menjelaskan makna sebuah pengorbanan, dan siapa yang akan membiarkannya tenggelam dalam kabut propaganda.
Perjalanan empat puluh hari dari Asyura menuju Arba’in adalah salah satu fase paling menentukan dalam sejarah Islam. Jika Asyura merupakan puncak pengorbanan Imam Husain a.s dan para sahabatnya, maka hari-hari setelahnya adalah puncak perjuangan yang lain, perjuangan melalui penjelasan, kesabaran, dan pengungkapan kebenaran. Pengorbanan membutuhkan suara yang menjaganya tetap hidup. Tanpa suara itu, sejarah bisa dipelintir oleh mereka yang memegang kekuasaan.
Dalam Ziarah Arba’in terdapat salam yang begitu menggetarkan:
السَّلَامُ عَلَى الْحُسَيْنِ وَعَلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَلَى أَوْلَادِ الْحُسَيْنِ وَعَلَى أَصْحَابِ الْحُسَيْنِ الَّذِينَ بَذَلُوا مُهَجَهُمْ دُونَ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ
“Salam atas Husain, atas Ali bin Husain, atas anak-anak Husain, dan atas para sahabat Husain yang telah mengorbankan jiwa-jiwa mereka demi membela Husain”
Salam ini bukan sekadar penghormatan kepada mereka yang gugur. Ia adalah pengingat bahwa pengorbanan selalu memiliki harga yang melampaui nyawa: keberanian mempertahankan kebenaran ketika kebohongan tampil sebagai kenyataan resmi.
Namun jika ditarik lebih jauh, Karbala tidak berhenti pada hari kesepuluh Muharam. Sesungguhnya, setelah medan perang sunyi, perjuangan memasuki babak baru. Keluarga Nabi saw yang selamat Sayidah Zainab al-Kubra a.s, Ummu Kultsum a.s, dan Imam Ali Zainal Abidin a.s, memikul amanah yang tidak kalah berat. Mereka tidak lagi mengangkat pedang, melainkan mengangkat kesadaran. Mereka menghadapi penguasa yang berusaha membungkam fakta dan membangun narasi bahwa pemberontakan telah dipadamkan.
Di tengah tekanan, ancaman, dan status sebagai tawanan, mereka justru berbicara dengan keberanian yang luar biasa. Di Kufah dan Damaskus, mimbar-mimbar kekuasaan berubah menjadi ruang pengungkapan kebenaran. Kata-kata Sayidah Zainab a.s mengguncang legitimasi rezim yang mengira kemenangan telah berada di tangannya. Imam Sajjad a.s, meski dibelenggu dan sakit, menyampaikan pesan yang membuat masyarakat mulai memahami siapa sebenarnya korban dan siapa pelaku kezaliman.
Karena itulah, Arba’in bukan sekadar penanda empat puluh hari setelah syahadah Imam Husain a.s. Ia adalah simbol kemenangan penjelasan atas propaganda. Ia menjadi bukti bahwa kebenaran tidak cukup diperjuangkan; ia juga harus dijelaskan.
Makna ini terangkum dalam penggalan Ziarah Arba’in yang sangat terkenal:
لِيَسْتَنْقِذَ عِبَادَكَ مِنَ الْجَهَالَةِ وَحَيْرَةِ الضَّلَالَةِ
“Agar beliau menyelamatkan hamba-hamba-Mu dari kebodohan dan kebingungan dalam kesesatan”
Kalimat pendek ini menyimpan pesan besar. Kebodohan bukan hanya ketiadaan pengetahuan. Ia sering lahir karena informasi yang dipelintir, fakta yang disembunyikan, dan opini yang sengaja diarahkan. Seseorang bisa memiliki banyak informasi, tetapi tetap kehilangan arah ketika kebenaran terus-menerus ditutupi.
Di titik inilah pengorbanan Imam Husain a.s menemukan kelengkapannya. Darah membuka jalan, tetapi penjelasan membuat jalan itu terlihat oleh generasi berikutnya. Tanpa perjuangan keluarga Rasulullah saw dalam empat puluh hari setelah Asyura, tragedi Karbala mungkin hanya menjadi satu dari sekian banyak pembantaian politik dalam sejarah. Justru karena ada keberanian menjelaskan, Karbala berubah menjadi simbol abadi perlawanan terhadap kezaliman.
Dalam konteks yang lebih luas, pelajaran itu terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Kita hidup di era ketika informasi mengalir tanpa henti, tetapi kejelasan justru semakin langka. Berita palsu, manipulasi gambar, potongan video tanpa konteks, hingga propaganda digital dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Ruang publik dipenuhi suara yang saling bertabrakan hingga orang sering kali kehilangan kemampuan membedakan mana fakta dan mana rekayasa.
Di tengah situasi seperti itu, jihad tabyin: jihad melalui penjelasan menjadi semakin penting. Tabyin bukan sekadar menyampaikan pendapat. Ia adalah ikhtiar menghadirkan kebenaran secara utuh, rasional, dan bertanggung jawab. Ia menuntut kesabaran untuk memeriksa fakta, keberanian untuk meluruskan kesalahpahaman, serta kejujuran untuk tidak memelintir informasi demi kepentingan sesaat.
Tugas ini sesungguhnya bukan hanya milik ulama, akademisi, atau jurnalis. Setiap orang memiliki lingkaran pengaruhnya sendiri. Di keluarga, di lingkungan kerja, di kampus, bahkan di media sosial, seseorang dapat menjadi cahaya kecil yang menerangi sekitarnya. Tidak semua orang harus berdiri di podium besar. Kadang, menjelaskan satu informasi yang benar kepada beberapa orang sudah menjadi bagian dari menjaga cahaya kebenaran.
Tetapi Karbala juga mengajarkan bahwa cara menyampaikan kebenaran sama pentingnya dengan isi kebenaran itu sendiri. Sayidah Zainab a.s tidak menggunakan kebohongan untuk melawan kebohongan. Imam Sajjad a.s tidak membalas fitnah dengan fitnah. Mereka mengalahkan propaganda melalui argumentasi yang kuat, akhlak yang luhur, dan keberanian moral.
Pelajaran ini layak direnungkan di tengah budaya komunikasi yang sering dipenuhi caci maki, penghinaan, dan penyebaran tuduhan tanpa dasar. Kebenaran kehilangan wibawanya ketika dibungkus dengan kebencian. Sebaliknya, argumentasi yang jernih, logis, dan disampaikan dengan empati memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang.
Akhirnya, Arba’in mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang berkorban di medan perjuangan, tetapi juga oleh mereka yang menjaga agar makna pengorbanan itu tidak hilang ditelan zaman. Darah para syuhada memang menyuburkan pohon kebenaran, tetapi kata-kata yang jujur dan penjelasan yang tuluslah yang membuat pohon itu terus tumbuh dari generasi ke generasi.
Di tengah dunia yang dipenuhi kebisingan informasi, setiap orang memiliki kesempatan menjadi penerus perjuangan itu. Bukan dengan pedang, melainkan dengan akal yang jernih, hati yang bersih, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran tanpa kebencian. Sebab, sebagaimana diajarkan oleh perjalanan dari Asyura menuju Arba’in, kemenangan tidak selalu lahir dari siapa yang paling kuat, melainkan dari siapa yang mampu menjaga cahaya kebenaran tetap menyala.







