Suatu bangsa bisa runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kalah dalam menjelaskan kebenaran. Kekalahan itu sunyi, tak berdarah, namun merambat pelan melalui kabut keraguan, simpang-siur informasi, dan kata-kata setengah hati dari mereka yang seharusnya berbicara. Di sinilah sebuah konsep penting mengemuka: Jihad Tabyin (Jihad Narasi) atau perjuangan dalam menjelaskan kebenaran. Gagasan ini sering disinggung dalam pemikiran Imam Ali Khamenei qs, dan terasa semakin relevan di zaman yang riuh oleh informasi namun miskin kejelasan.
Pada masa kini, perang tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Ia menjelma dalam bentuk narasi. Keraguan disemai, fakta dibengkokkan, kebenaran dipelintir hingga tampak relatif. Dalam situasi seperti ini, tugas kelompok Khawas yang dalam hal ini adalah para intelektual, tokoh masyarakat, ulama, akademisi, dan pemengaruh di media sosial menjadi sangat krusial. Mereka bukan sekadar penonton sejarah. Mereka dituntut menjadi penjelas arah, penjernih makna, dan penghalau kabut kebingungan.
Tugas kaum Khawas, dalam kerangka Jihad Tabyin, adalah menetralisir keraguan yang sengaja diciptakan. Musuh, dalam konteks ini, tidak selalu berupa entitas fisik. Ia bisa berupa propaganda, misinformasi, atau sekadar budaya skeptisisme yang berlebihan. Ketika keraguan menjadi wabah, diam bukanlah pilihan netral. Diam justru bisa berubah menjadi keberpihakan pada kekacauan.
Menariknya, gagasan ini tidak berdiri tanpa rujukan spiritual. Al-Qur’an menghadirkan sebuah kisah simbolik yang sangat kuat, tentang seorang lelaki beriman dalam Surah Yasin. Kisah itu dimulai dengan gambaran dramatis: tiga utusan Allah swt datang kepada suatu kaum, tetapi mereka ditolak dan bahkan diancam. Lalu muncul seorang lelaki dari ujung kota, berlari menuju kerumunan. Ia tidak datang sebagai nabi, bukan pula pemimpin formal. Ia hanyalah seorang beriman yang merasa tidak boleh diam.
Al-Qur’an menggambarkan momen itu dengan kalimat yang penuh energi:
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas. Ia berkata, ‘Wahai kaumku! Ikutilah para rasul.’” (QS. Yasin: 20)
Bayangkan adegannya: seorang individu berlari menembus kerumunan yang memusuhi kebenaran. Ia tahu risikonya. Ia tahu suaranya mungkin tenggelam. Namun ia tetap berbicara. Ia tidak memilih bahasa yang samar, tidak pula menyembunyikan keyakinannya di balik diplomasi kabur.
Ia melanjutkan seruannya:
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21)
Di titik ini, kisah tersebut menjadi sangat relevan bagi zaman modern. Lelaki itu tidak menunggu konsensus sosial. Ia tidak menunggu trending topic berubah. Ia tidak menunggu situasi aman. Ia berbicara karena kebenaran menuntut penjelasan segera.
Kemudian ia menyatakan sesuatu yang jauh lebih berani—sebuah deklarasi iman yang gamblang:
إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ
“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah aku.” (QS. Yasin: 25)
Di sinilah inti Jihad Tabyin menemukan bentuknya: keberanian berbicara dengan jelas. Tanpa kalimat ganda. Tanpa retorika ambigu. Tanpa ketakutan kehilangan popularitas.
Masalah terbesar masyarakat modern bukan semata kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa penjelasan. Kita hidup di zaman ketika setiap orang bisa berbicara, tetapi tidak semua orang mau menjelaskan. Banyak suara, sedikit kejelasan. Banyak opini, sedikit keberanian moral.
Dalam konteks ini, Khawas memiliki tanggung jawab moral yang lebih berat. Mereka memiliki akses pada ilmu, kemampuan analisis, dan ruang publik untuk berbicara. Maka ketika mereka memilih diam atau berbicara setengah hati, dampaknya tidak kecil. Keraguan tumbuh. Kebingungan menguat. Kebenaran kehilangan pembela.
Jihad tabyin bukanlah propaganda. Ia bukan pula upaya memenangkan perdebatan. Ia adalah usaha menjelaskan dengan logika, argumentasi, dan kejujuran. Ia menuntut kemampuan berdialog, kesabaran mendengar, dan keberanian menyatakan posisi secara jelas. Bahkan dalam perbedaan pendapat sekalipun, kejernihan harus tetap dijaga.
Di era media sosial, tantangan ini menjadi semakin kompleks. Informasi bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Emosi menyebar lebih cepat daripada akal sehat. Dalam situasi seperti ini, keheningan para intelektual bisa menjadi ruang kosong yang segera diisi oleh kebisingan yang menyesatkan.
Kisah lelaki dalam Surah Yasin mengajarkan bahwa keberanian berbicara tidak selalu menunggu jabatan. Ia bukan nabi, bukan penguasa, bukan tokoh besar. Ia hanya seseorang yang sadar bahwa kebenaran membutuhkan suara. Di era sekarang, pesan ini terasa menampar: jabatan bukan syarat utama untuk menjelaskan kebenaran, tetapi kesadaran moral.
Jihad Tabyin pada akhirnya bukan sekadar tugas kolektif, melainkan juga panggilan personal. Setiap orang, sesuai kapasitasnya, memiliki ruang untuk menjelaskan, meluruskan, dan menenangkan kebingungan. Sebab keraguan yang tidak dijawab akan tumbuh menjadi ketidakpercayaan, dan ketidakpercayaan yang meluas dapat menggerogoti fondasi masyarakat.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu berbicara, tetapi apakah kita berani berbicara dengan jelas. Dunia modern tidak kekurangan suara. Ia kekurangan suara yang jernih.
Dan mungkin, di tengah riuh zaman ini, kita sedang menunggu lebih banyak “lelaki dari ujung kota” yang berani berlari menuju kerumunan—bukan untuk berteriak paling keras, tetapi untuk menjelaskan paling terang.
Baca juga: Bukan Senjata, Tapi Ilmu: Mengapa Guru dan Buruh Adalah Mimpi Buruk Bagi Penjajah Dunia?







