KHAMENEI.ID – Banyak orang mengira hubungan dengan Al-Qur’an selesai ketika mampu membacanya dengan tartil. Padahal, menurut Imam Ali Khamenei qs, kemampuan membaca hanyalah langkah pertama dari perjalanan panjang bersama kitab suci. Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dilafalkan, melainkan untuk dipahami, direnungkan, lalu diwujudkan dalam kehidupan.
Beliau mengingatkan bahwa salah satu kelemahan besar masyarakat Muslim adalah merasa cukup dengan tilawah, sementara pesan-pesan Al-Qur’an belum benar-benar memasuki cara berpikir dan bertindak.
Imam Khamenei mengisahkan bahwa pada masa pemerintahan Pahlavi di Iran, Al-Qur’an justru menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Tidak banyak orang yang mampu membacanya dengan benar. Generasi yang tumbuh di sekolah-sekolah kala itu nyaris tidak mendapatkan pendidikan Al-Qur’an. Jika ada anak yang mengenal Al-Qur’an, biasanya karena orang tuanya secara pribadi mengirim mereka ke halaqah-halaqah kecil untuk belajar membaca. Sekolah-sekolah tidak memikul tanggung jawab membina generasi Qurani. Akibatnya, Al-Qur’an hadir sebagai kitab suci yang dihormati, tetapi jauh dari kehidupan sehari-hari.
Menurut Imam Khamenei, keadaan itu mulai berubah ketika Al-Qur’an kembali hadir di ruang publik. Semakin banyak orang belajar membaca, menghafal, dan mengadakan majelis-majelis Al-Qur’an. Kehadiran Al-Qur’an di tengah masyarakat menghadirkan “manisnya wahyu” yang mulai dirasakan oleh umat. Namun, beliau menegaskan bahwa kebangkitan itu tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca semata.
Langkah pertama memang harus dimulai dari mengenal teks Al-Qur’an. Setiap Muslim perlu mampu membaca kitab sucinya dengan baik. Semakin luas kemampuan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat, semakin besar peluang lahirnya generasi yang akrab dengan wahyu.
Karena itu, Imam Khamenei menaruh perhatian besar pada lahirnya para qari dan hafiz Al-Qur’an. Menurut beliau, setiap gerakan besar selalu membutuhkan figur teladan. Sebagaimana olahraga memerlukan atlet-atlet juara agar masyarakat termotivasi untuk berolahraga, demikian pula budaya Al-Qur’an memerlukan para penghafal dan pembaca terbaik sebagai inspirasi bagi umat.
Beliau bahkan menyebut para pengemban Al-Qur’an sebagai sosok yang layak dimuliakan. Lisan mereka mulia karena selalu melafalkan ayat-ayat Allah swt. Hati mereka pun dimuliakan karena dipenuhi firman-Nya. Menghormati para qari dan hafiz bukanlah penghormatan kepada individu semata, tetapi penghormatan kepada Al-Qur’an yang mereka bawa dalam dada.
Namun di sinilah, menurut Imam Khamenei, banyak orang berhenti terlalu cepat.
Membaca Al-Qur’an belum berarti memahami Al-Qur’an. Karena itu, tahap berikutnya adalah memahami makna ayat demi ayat, terutama bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab. Setiap Muslim perlu mengetahui arti firman Allah yang dibacanya agar hubungan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada lantunan suara, melainkan berlanjut menjadi dialog intelektual dan spiritual.
Akan tetapi, memahami terjemahan pun belum cukup.
Imam Khamenei menekankan pentingnya tadabbur, yaitu merenungkan makna-makna Al-Qur’an secara mendalam. Tadabbur bukan sekadar mengetahui arti sebuah kata, melainkan berusaha menangkap pesan, hikmah, arah, dan petunjuk yang terkandung di balik setiap ayat.
Menurut beliau, Al-Qur’an adalah kalam Allah Yang Mahabijaksana. Baik makna maupun susunan katanya berasal dari Allah. Karena itu, setiap ayat menyimpan kedalaman yang tidak akan terbuka hanya dengan membaca sepintas. Al-Qur’an menuntut perhatian, pemikiran, dan perenungan yang terus-menerus.
Seseorang yang menguasai bahasa Arab sekalipun, kata Imam Khamenei, tetap tidak akan memperoleh manfaat maksimal jika tidak melakukan tadabbur. Sebab inti hubungan dengan Al-Qur’an bukan sekadar memahami bahasa, tetapi membuka hati terhadap petunjuk Allah swt.
Beliau mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat berpikir. Setiap kali membaca ayat, seorang mukmin semestinya bertanya kepada dirinya: apa yang Allah kehendaki dari ayat ini? Nilai apa yang harus saya ubah dalam hidup? Bagaimana ayat ini membimbing keputusan dan perilaku saya?
Dengan cara itulah Al-Qur’an benar-benar menjadi kitab petunjuk, bukan sekadar kitab bacaan.
Imam Khamenei juga mengingatkan bahwa seluruh proses ini tidak mungkin terwujud tanpa membangun keakraban yang berkelanjutan dengan Al-Qur’an. Tadabbur tidak lahir dari pertemuan sesekali, melainkan dari kebiasaan membaca, mengulang, menghafal, memahami, dan terus kembali kepada firman Allah sepanjang hidup.
Semakin sering seseorang duduk bersama Al-Qur’an, semakin dalam pula cahaya petunjuk yang akan menerangi pikirannya. Karena itu, hubungan dengan Al-Qur’an harus terus dipelihara setiap hari, bukan hanya pada bulan Ramadan atau dalam acara-acara keagamaan.
Pada akhirnya, Imam Khamenei mengajarkan bahwa membangun masyarakat Qurani bukan sekadar memperbanyak mushaf atau memperindah tilawah. Masyarakat Qurani lahir ketika umat menempuh seluruh tahapan hubungan dengan wahyu: membaca, menghafal, memahami, merenungkan, lalu mengamalkan.
Di situlah Al-Qur’an berhenti menjadi sekadar bacaan yang terdengar indah, dan berubah menjadi cahaya yang membentuk cara berpikir, karakter, serta arah peradaban umat.







