KHAMENEI.ID— Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kekuasaan, manusia modern sebenarnya sedang menghadapi satu krisis besar yang jarang dibicarakan secara jujur: krisis kepemimpinan moral. Negara-negara memiliki pemimpin, partai-partai memiliki elite, masyarakat memiliki penguasa, tetapi semakin sedikit orang yang benar-benar dipercaya sebagai tempat bersandar batin. Kekuasaan hadir di mana-mana, tetapi keteladanan terasa langka.
Mungkin karena itulah peristiwa Ghadir Khum tetap hidup lebih dari empat belas abad setelah ia terjadi. Ia bukan sekadar perdebatan sejarah tentang siapa penerus Nabi saw. Di kedalaman maknanya, Ghadir berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana kekuasaan seharusnya berdiri di atas keadilan, kedekatan dengan manusia, dan nilai spiritual, bukan semata-mata kemenangan politik.
Bagi banyak Muslim Syiah, Ghadir adalah ikatan emosional dan keyakinan yang sangat mendalam. Namun hal yang menarik adalah: hakikat Ghadir sebenarnya bukan hanya milik Syiah, melainkan milik seluruh dunia Islam, bahkan milik siapa saja yang merindukan keadilan dalam kehidupan manusia.
Sebab inti Ghadir bukan fanatisme kelompok, melainkan gagasan tentang kepemimpinan yang bermoral.
Sebuah ayat yang turun menjelang wafat Nabi Muhammad:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak engkau lakukan, maka engkau belum menyampaikan risalah-Nya.” (QS. Al-Maidah 67)
Ayat ini turun hanya sekitar tujuh puluh hari sebelum wafat Nabi. Dalam teks tersebut, penekanan ayat ini dipahami sebagai tanda bahwa peristiwa Ghadir bukan persoalan kecil atau sekadar pengumuman administratif tentang kepemimpinan. Ada ruh besar Islam yang dipertaruhkan di sana.
Karena itu, ketika Nabi mengangkat Imam Ali bin Abi Thalib a.s di Ghadir Khum, yang sedang dibicarakan bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan standar kepemimpinan itu sendiri. Nabi tidak hanya menunjuk seseorang, tetapi juga menjelaskan mengapa Ali dipilih: karena keadilan, ketakwaan, kedekatan spiritual, dan keberpihakannya kepada manusia.
Di sini muncul istilah penting yang sering disalahpahami: wilayah atau wilayah ilahiyah. Dalam bahasa politik modern, kepemimpinan biasanya dipahami sebatas struktur kekuasaan tentang siapa memerintah siapa. Tetapi konsep wilayah dalam teks ini jauh lebih dalam. Ia berasal dari akar kata yang berarti kedekatan, keterhubungan, dan ikatan hati.
Seorang wali bukan hanya penguasa yang memerintah dari atas singgasana. Ia adalah sosok yang dekat dengan manusia, memahami penderitaan mereka, menjadi sandaran batin masyarakat, dan menghadirkan rasa aman moral. Karena itu, model kekuasaan yang hanya mengandalkan dominasi atau manipulasi politik sangat jauh dari kata ideal.
Di bagian paling tajam, sebuah kritikan terhadap cara berpikir politik yang masih bertahan sampai hari ini: benarkah siapa saja yang berhasil merebut kekuasaan otomatis layak ditaati? Apakah kemenangan politik dengan segala intrik dan permainan kekuatan identik dengan legitimasi moral?
Pertanyaan itu terasa sangat modern.
Hari ini dunia menyaksikan begitu banyak pemimpin terpilih secara formal, tetapi gagal menghadirkan rasa keadilan. Ada yang memenangkan pemilu tetapi kehilangan nurani. Ada yang berbicara tentang demokrasi sambil menindas kelompok lemah. Ada yang memakai bahasa agama tetapi menjadikan kekuasaan sebagai alat mempertahankan privilese.
Pada akhirnya Islam yang dibawa Nabi tidak dibangun di atas logika “siapa paling kuat dialah paling benar.” Ghadir justru menghadirkan arah sebaliknya: kekuasaan harus tunduk pada keadilan dan kebajikan.
Karena itu Nabi menyebut Ali sebagai:
أعدلكم في الرعية
“Orang yang paling adil di tengah rakyat.”
Keadilan di sini bukan sekadar kemampuan membuat aturan hukum. Teks tersebut keadilan Ali a.s hadir dalam seluruh dimensi dirinya: dalam perilaku pribadi, spiritualitas, cara memandang manusia, hingga cara memperlakukan rakyat.
Dan memang, sampai hari ini nama Ali bin Abi Thalib a.s tetap menjadi simbol universal tentang keadilan yang nyaris romantik. Kisah hidupnya terus diceritakan karena manusia modern merindukan sosok pemimpin yang tidak hidup jauh dari rakyatnya; pemimpin yang tidak membangun tembok kekuasaan di antara dirinya dan orang-orang kecil.
Di tengah kemajuan teknologi yang menakjubkan, justru aspek moral manusia tampak semakin tertinggal. Saat ini dunia modern berhasil mencapai lompatan besar dalam ilmu pengetahuan, penemuan ilmiah, dan kemajuan teknologi, tetapi pada saat yang sama masih membiarkan kezaliman global berlangsung terang-terangan.
Kekuatan besar dunia berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi tetap melancarkan perang. Mereka berbicara tentang kemanusiaan, tetapi mengabaikan suara rakyat kecil ketika kepentingan politik dan ekonomi terganggu.
Faktanya sebagian penguasa dunia modern sudah sampai pada tahap yang nyaris vulgar: mereka tidak lagi malu mengakui bahwa opini publik dunia tidak menjadi penghalang bagi agresi dan penindasan. Pada dasarnya perilaku semacam itu disebut sebagai “gerakan yang sepenuhnya hewani” karena telah kehilangan dimensi moral yang menjadi ciri manusia.
Lalu muncul sebuah kalimat yang sangat kuat:
بالعدل قامت السموات والارض
“Dengan keadilanlah langit dan bumi ditegakkan.”
Kalimat ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya memuat pandangan dunia yang sangat besar. Bahwa alam semesta berdiri di atas keseimbangan, keteraturan, dan keadilan. Ketika manusia merusak keadilan, sesungguhnya ia sedang melawan fondasi moral kehidupan itu sendiri.
Menariknya meski kezaliman tampak kuat dan suara para penguasa memenuhi dunia, kebenaran tidak otomatis hilang. Kekuasaan boleh gaduh, propaganda boleh mendominasi media, tetapi sejarah manusia berkali-kali menunjukkan bahwa ketidakadilan tidak pernah benar-benar stabil.
Pada akhirnya manusia selalu mencari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kekuatan: mereka mencari keadilan.
Mungkin itulah sebabnya Ghadir tetap relevan hingga hari ini. Ia bukan sekadar peristiwa masa lalu yang diperingati setiap tahun. Ia adalah pengingat bahwa masyarakat yang sehat tidak cukup hanya memiliki pemimpin yang kuat. Mereka membutuhkan pemimpin yang dekat dengan nurani manusia.
Dan mungkin, di tengah dunia modern yang semakin kehilangan arah moral, pesan terbesar Ghadir justru terletak di sana: bahwa kekuasaan tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari kesepian manusia yang dilembagakan.







