Ada masa ketika manusia begitu lelah menghadapi hidup hingga kematian terasa seperti jalan keluar paling tenang. Beban ekonomi, penyakit yang tak kunjung reda, kegagalan yang berulang, atau rasa hampa yang tak bisa dijelaskan membuat sebagian orang diam-diam berkata: “Andai semua ini cepat selesai.” Kalimat itu mungkin tidak selalu diucapkan keras-keras, tetapi ia hidup dalam hati banyak orang modern hari ini.
Menariknya, lebih dari empat belas abad lalu, sebuah peristiwa kecil telah merekam kegelisahan yang sama. Seorang lelaki sakit mengucapkan harapan yang sangat manusiawi di hadapan Nabi Muhammad saw. Ia berharap kematian segera datang. Namun respons Nabi justru mengejutkan: “jangan berharap mati”
Kisah itu diriwayatkan dari Ummul Fadhl. Nabi saw datang menjenguk seorang Muslim yang sedang sakit keras. Lelaki itu mengeluh dan, di tengah rasa sakitnya, berkata bahwa ia ingin segera meninggal. Nabi lalu bersabda:
لا تَتَمَنَّ المَوتَ
“Janganlah engkau berharap kematian.”
Kalimat itu sederhana, tetapi memuat cara pandang besar tentang hidup. Dalam pandangan Islam, hidup bukan sekadar jeda menuju kubur. Ia adalah kesempatan. Bahkan ketika penuh luka.
Nabi saw melanjutkan:
فَاِنَّكَ اِن تَكُ مُحسِنًا تَزدَد اِحسانًا اِلى اِحسانِكَ
“Jika engkau orang yang baik, maka engkau akan menambah kebaikan di atas kebaikanmu.”
Di sini, hidup dipandang seperti ladang yang belum selesai dipanen. Selama napas masih ada, manusia masih punya peluang menambah sesuatu dalam timbangan amalnya. Satu hari tambahan bisa berarti satu pertolongan kepada orang lain, satu sedekah kecil, satu penyesalan yang melahirkan perubahan, atau satu doa yang mengubah arah hidup seseorang.
Kita hidup di zaman yang sering mengukur umur hanya dari produktivitas dan kenyamanan. Ketika seseorang sakit menahun, kehilangan pekerjaan, atau merasa tak lagi “berguna”, hidup mulai tampak seperti beban. Dunia modern memuja keberhasilan, tetapi gagap menghadapi penderitaan. Akibatnya, banyak orang merasa tidak memiliki alasan untuk terus bertahan selain sekadar menjalani rutinitas.
Padahal Nabi saw justru melihat nilai hidup bukan pada mudah atau sulitnya keadaan, melainkan pada kemungkinan yang masih tersisa di dalamnya.
Seseorang yang hari ini biasa saja bisa menjadi jauh lebih baik esok hari. Orang yang dulu keras bisa menjadi lembut. Orang yang dulunya jauh dari Tuhan bisa tiba-tiba menemukan jalan pulang melalui satu musibah. Dalam logika spiritual Islam, umur panjang bukan semata tambahan angka, tetapi tambahan kesempatan.
Itulah sebabnya Nabi tidak menyuruh orang sakit itu menyerah pada rasa putus asa. Sebab selama hidup belum selesai, cerita manusia juga belum selesai.
Namun hadis itu tidak berhenti pada orang saleh saja. Nabi kemudian berkata:
وَاِن تَكُ مُسيئًا فَتُؤَخَّرُ تُستَعتَبُ
“Dan jika engkau seorang pendosa, maka umurmu ditangguhkan agar engkau dapat meminta maaf dan memperbaiki diri.”
Di bagian ini, pesan hadis menjadi jauh lebih menyentuh. Bahkan bagi pendosa, hidup tetap bernilai. Penundaan kematian ternyata bukan hukuman semata, melainkan ruang untuk kembali.
Kata tusta‘tab dalam hadis itu mengandung makna meminta maaf, memohon ampun, memperbaiki hubungan yang rusak, dan kembali kepada Tuhan. Dalam bahasa doa Arab, ada ungkapan lakal ‘utbā, semacam pengakuan penuh penyesalan di hadapan Allah. Maka umur yang masih tersisa, betapapun sempit dan berat, sebenarnya adalah waktu tambahan untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.
Ini pandangan yang sangat berbeda dengan mentalitas instan hari ini. Kita hidup di era serba cepat: cepat sukses, cepat kaya, cepat sembuh, cepat selesai. Ketika kenyataan bergerak lambat, manusia mudah frustrasi. Kita ingin penderitaan segera berakhir, padahal mungkin justru di dalam penderitaan itulah proses perubahan sedang bekerja.
Banyak orang menemukan kedewasaan justru setelah gagal. Banyak orang menjadi religius setelah kehilangan. Banyak hati menjadi lembut setelah hancur. Luka kadang membuka ruang yang tidak pernah bisa ditembus oleh kenyamanan.
Karena itu, hadis ini sebenarnya bukan sekadar larangan berharap mati. Ia adalah pembelaan terhadap makna hidup itu sendiri.
Hidup, dalam pandangan Nabi, selalu menyimpan kemungkinan. Selama seseorang masih bernapas, selalu ada kesempatan untuk menambah cahaya atau menghapus gelap. Tidak ada manusia yang benar-benar selesai sebelum ajal datang.
Di titik ini, hadis tersebut terasa sangat relevan dengan krisis mental manusia modern. Hari ini, rasa lelah bukan hanya milik orang miskin atau sakit. Bahkan mereka yang tampak berhasil pun sering merasa kosong. Media sosial membuat hidup terlihat penuh pencapaian, sementara kenyataan pribadi terasa berantakan. Banyak orang akhirnya diam-diam kehilangan harapan.
Tetapi Nabi menawarkan sudut pandang lain: jangan buru-buru ingin mengakhiri hidup hanya karena hari ini terasa berat. Sebab bisa jadi, justru hari-hari yang tersisa itulah yang paling menentukan nilai seluruh hidupmu.
Mungkin satu tahun lagi seseorang akan menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Mungkin satu bulan lagi ia bertobat dengan sungguh-sungguh. Mungkin satu hari lagi ia melakukan satu kebaikan yang mengubah nasib akhiratnya.
Tidak ada yang tahu.
Karena itu Nabi menutup nasihatnya dengan kalimat tegas:
فَلا تَمَنَّوُا المَوت
“Maka janganlah kalian berharap kematian.”
Larangan itu bukan berarti Islam menutup mata terhadap penderitaan manusia. Justru sebaliknya. Islam memahami bahwa manusia bisa sangat lemah, sangat lelah, dan sangat rapuh. Tetapi di tengah semua itu, hidup tetap dianggap karunia yang belum habis nilainya.
Sebab selama matahari masih terbit dan napas masih berjalan, pintu perbaikan belum tertutup. Dan mungkin, itulah harapan terbesar yang dimiliki manusia.
Baca Juga:
Lebih Mulia dari Sahabat? Paradoks Iman Tanpa Pernah Melihat Nabi
Gaya Hidup Sederhana Nabi Muhammad dan Teladan Kepemimpinan dalam Islam







