Dua Arus Perpecahan, Umat Islam Kehilangan Kekuatan

KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, umat Islam seperti hidup di tengah dua arus yang berlawanan. Arus pertama mengajak mereka berhenti sejenak dari perbedaan, melihat persamaan, lalu berdiri sebagai satu kekuatan. Arus kedua justru bekerja sebaliknya: membesarkan perbedaan, menyalakan kecurigaan, dan membuat sesama Muslim saling memandang sebagai musuh.

Pertarungan itu bukan semata-mata pertarungan gagasan. Ia telah menjelma menjadi kenyataan yang berdarah. Dari Myanmar hingga Nigeria, dari konflik yang lahir dari kebencian sektarian hingga kekerasan yang mengatasnamakan agama, korban terus berjatuhan. Ironisnya, sebagian dari mereka mati bukan di tangan orang yang berbeda agama saja, melainkan di tangan orang yang mengucapkan kalimat syahadat yang sama.

Di titik inilah seruan persatuan Islam menemukan maknanya yang paling mendesak. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Ia juga bukan tuntutan agar semua orang berpikir dengan cara yang sama. Persatuan justru bermula dari kemampuan untuk membedakan mana perbedaan yang dapat hidup berdampingan dan mana perbedaan yang sengaja dipelihara agar umat tidak pernah menjadi kuat.

Ada sesuatu yang sederhana dalam gagasan itu: seorang Muslim mungkin berbeda mazhab, tradisi, bahasa, atau kebiasaan dengan Muslim lain. Tetapi ia tetap memiliki lebih banyak persamaan dengan saudaranya itu daripada dengan kekuatan yang menginginkan keduanya saling menghancurkan.

Masalahnya, persamaan sering kalah menarik dibanding perbedaan. Perbedaan mudah dijadikan bahan pidato, berita, propaganda, bahkan bisnis politik. Sebuah identitas akan terasa semakin kuat jika selalu memiliki musuh. Karena itu, dalam masyarakat yang terpecah, orang tidak perlu bekerja keras untuk menemukan alasan mengapa ia berbeda. Cukup terus-menerus mengingatkan bahwa pihak lain bukan bagian dari kita.

Dalam konteks yang lebih luas, politik pecah belah bukanlah penemuan zaman modern. Sejarah kekuasaan mengenal cara lama: membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok kecil agar mereka sulit menemukan kepentingan bersama. Ketika mereka sibuk bertengkar satu sama lain, kekuasaan dapat berdiri lebih nyaman di atas perpecahan itu.

Baca Juga  Makna Kepemimpinan Islam: Mengapa Imamah Lebih dari Sekadar Kekuasaan?

Gagasan divide et impera “pecah belah lalu kuasai” telah lama menjadi bagian dari sejarah politik kolonial. Dalam pidato yang disampaikan oleh Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, politik tersebut dibaca sebagai pola yang tidak benar-benar hilang ketika zaman berganti. Aktor dan bentuknya mungkin berubah, tetapi logikanya tetap sama: masyarakat yang tercerai-berai jauh lebih mudah dikendalikan daripada masyarakat yang mampu berdiri bersama.

Sejarah kawasan Muslim menyimpan banyak luka akibat politik kekuasaan asing. Anak benua India, Afghanistan, Iran, Irak, hingga Palestina menjadi bagian dari sejarah panjang intervensi, kolonialisme, dan perebutan pengaruh. Palestina menjadi salah satu luka paling dalam. Dalam pandangan yang disampaikan dalam pidato tersebut, kebijakan Inggris pada masa lalu ikut membentuk kondisi politik yang kemudian berujung pada terusirnya rakyat Palestina dari tanah yang mereka anggap sebagai rumahnya.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan sekadar tentang Inggris, Amerika, atau kekuatan asing lainnya. Persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa sebuah masyarakat begitu mudah dijadikan medan pertarungan oleh pihak luar.

Jawabannya mungkin terletak pada kelemahan yang muncul dari dalam. Tidak ada kekuatan eksternal yang dapat memecah sebuah masyarakat apabila masyarakat itu memiliki daya tahan yang cukup untuk menolak provokasi. Api membutuhkan bahan bakar. Kebencian sektarian, fanatisme, ketidaktahuan, dan ambisi politik dapat menjadi kayu bakarnya.

Karena itu, seruan persatuan Islam tidak cukup dipahami sebagai slogan. Ia membutuhkan keberanian untuk menahan diri ketika perbedaan sedang diprovokasi. Ia menuntut kemampuan membedakan antara kritik dan kebencian, antara keyakinan dan fanatisme, antara membela agama dan menjadikan agama sebagai alasan untuk membenci orang lain.

Di sinilah kritik terhadap dua wajah ekstrem yang mengatasnamakan kelompok Islam menjadi penting. Dalam pidato tersebut disebut istilah “Syiah Inggris” dan “Sunni Amerika” ungkapan politik untuk menunjuk kelompok-kelompok yang, menurut pandangan tersebut, justru memperuncing konflik internal umat demi kepentingan kekuatan lain. Pesannya jelas: jangan mudah tertipu oleh label keagamaan jika hasil akhirnya adalah umat Islam saling berhadapan dan kekuatan lain memperoleh keuntungan dari pertikaian itu.

Baca Juga  Hijrah Menuju Syahid: Ketika Iman Mengalahkan Cinta pada Kehidupan

Persatuan, dengan demikian, bukan perkara romantis. Ia adalah soal kekuatan dan bahkan soal bertahan hidup.

Umat yang terus-menerus bertengkar akan menghabiskan energinya untuk saling menyangkal. Mereka sibuk membuktikan siapa yang paling benar, sementara persoalan kemiskinan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kedaulatan ekonomi, dan nasib masyarakat justru tertinggal. Sebaliknya, persatuan memungkinkan perbedaan ditempatkan dalam ruang yang lebih dewasa: tidak harus hilang, tetapi tidak pula dibiarkan menjadi alasan untuk saling menghancurkan.

Pada akhirnya, mungkin inilah ujian terbesar sebuah masyarakat: apakah ia mampu mengenali musuh tanpa menciptakan musuh dari saudaranya sendiri.

Dunia Muslim tidak kekurangan perbedaan. Yang sering hilang justru kemampuan untuk melihat apa yang lebih besar daripada perbedaan itu. Selama umat terus membiarkan dirinya dipisahkan oleh identitas-identitas kecil, mereka akan mudah menjadi sasaran dari kekuatan yang lebih besar.

Persatuan Islam karena itu bukan sekadar ajakan untuk berdiri berdampingan. Ia adalah usaha untuk mengembalikan kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada kemenangan satu kelompok atas kelompok lain: martabat manusia, kemerdekaan, dan masa depan bersama.

Sebab sebuah bangsa atau umat tidak selalu runtuh karena kekurangan orang kuat. Kadang-kadang ia runtuh karena terlalu banyak orang yang sibuk memastikan saudaranya kalah.

Bagikan:
Terkait
Komentar