Tsarullah: Ketika Darah Imam Ali dan Imam Husain Hanya Dibalas oleh Allah

KHAMENEI.ID– Ada kematian yang menutup sebuah kehidupan. Namun ada pula kematian yang justru membuka sejarah. Syahadah Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s termasuk dalam jenis yang kedua. Mereka tidak sekadar dikenang sebagai korban kekerasan politik atau tokoh besar yang gugur di medan perjuangan. Dalam tradisi Islam, keduanya dipandang sebagai sosok yang nilai pengorbanannya melampaui ukuran manusia. Karena itulah muncul sebuah gelar yang begitu agung: Tsarullah yang bermakna darah yang pembalasnya adalah Allah sendiri.

Ungkapan ini sering dilekatkan kepada Imam Husain a.s. Namun maknanya sesungguhnya juga menjangkau Imam Ali a.s. Dalam salah satu ziarah yang masyhur, seorang peziarah mengucapkan salam:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ثَارَ اللَّهِ وَابْنَ ثَارِهِ

“Salam sejahtera atasmu, wahai Tsarullah (Darah Allah) dan putra Tsarullah.”

Kalimat itu bukanlah metafora yang sederhana. “Darah Allah” tentu bukan berarti Allah memiliki darah, melainkan menunjukkan bahwa darah yang tertumpah itu memiliki nilai yang demikian luhur sehingga tidak ada satu pun makhluk yang mampu menebusnya. Tidak ada harta, kekuasaan, kemenangan militer, atau penghormatan dunia yang setara dengan pengorbanan tersebut. Satu-satunya “tebusan” yang layak hanyalah keadilan Allah sendiri.

Di sinilah kedudukan Imam Ali a.s menemukan maknanya. Jika Imam Husain disebut sebagai putra Tsarullah, maka ayahandanya pun berada pada martabat yang sama. Imam Ali a.s adalah syahid yang gugur di mihrab, ketika sedang bersujud dalam shalat. Pedang yang menebas kepalanya bukan hanya menyerang seorang manusia saleh, tetapi juga melukai simbol keadilan, keteguhan, dan keberanian moral.

Ia tidak wafat karena ambisi pribadi, melainkan karena konsistensinya mempertahankan kebenaran. Sejarah memperlihatkan bahwa jalan yang dipilihnya nyaris selalu merupakan jalan yang paling berat. Ketika kekuasaan bisa dibeli dengan kompromi, ia memilih prinsip. Ketika banyak orang mendahulukan keselamatan diri, ia mempertahankan amanah meski harus kehilangan nyawa. Karena itu, syahadah Imam Ali a.s bukan sekadar akhir perjalanan hidup seorang khalifah, melainkan puncak dari seluruh perjuangannya.

Baca Juga  Mengapa Umat Selalu Kalah? Ketika Solidaritas Digantikan Sikap Saling Membiarkan

Namun gagasan tentang Tsarullah mencapai resonansi yang lebih luas ketika dikenang melalui Imam Husain a.s. Kesyahidannya di Karbala bukan hanya mengguncang hati manusia, tetapi juga digambarkan mengguncang seluruh alam semesta.

Dalam sebuah riwayat, Imam Ja’far ash-Shadiq a.s menjelaskan bahwa ketika Imam Husain a.s gugur, langit dan bumi beserta seluruh penghuninya ikut berduka. Segala yang tampak maupun yang tidak tampak menangisinya. Alam seolah kehilangan salah satu poros moralnya. Hanya segelintir pihak yang disebut tidak larut dalam duka: mereka yang telah menutup mata terhadap kebenaran.

Gambaran tersebut tentu bukan sekadar kisah emosional. Ia hendak menunjukkan bahwa tragedi Karbala bukan persoalan satu keluarga atau satu kelompok. Ia adalah tragedi kemanusiaan. Ketika kezaliman berhasil membungkam keadilan, seluruh tatanan kehidupan ikut terluka.

Karena itu pula, ziarah kepada Imam Husain a.s tidak pernah diposisikan sebagai perjalanan wisata sejarah. Ia adalah perjalanan spiritual yang dimulai bahkan sebelum kaki melangkah menuju makam.

Dalam riwayat yang sama, Imam Ja’far ash-Shadiq a.s memberikan tuntunan kepada para peziarah. Mereka dianjurkan menyucikan diri di tepi Sungai Efrat, mengenakan pakaian yang bersih, lalu berjalan dengan rendah hati sambil memperbanyak tasbih, tahmid, takbir, dan salawat kepada Nabi Muhammad a.s beserta keluarganya. Semua itu bukan ritual tanpa makna. Ia adalah latihan untuk menanggalkan kesombongan sebelum memasuki ruang yang disucikan oleh pengorbanan.

Setiba di makam, peziarah diajarkan mengucapkan salam yang sangat menyentuh:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا ثَارَ اللَّهِ وَابْنَ ثَارِهِ

“Salam sejahtera atasmu, wahai Darah Allah dan putra Darah Allah”

Salam ini bukan sekadar sapaan kepada seorang tokoh sejarah. Ia adalah deklarasi bahwa perjuangan melawan kezaliman belum selesai. Selama ketidakadilan masih berlangsung, selama darah orang-orang tak bersalah masih tertumpah, pesan Karbala tetap hidup. Dan selama itu pula, makna Tsarullah akan terus menemukan relevansinya.

Baca Juga  Cinta Dunia, Akar Segala Dosa: Pelajaran Abadi dari Imam Ali untuk Zaman yang Bising

Dalam konteks yang lebih luas, istilah ini mengajarkan bahwa tidak semua kerugian dapat diganti oleh ukuran dunia. Ada kehormatan yang tak dapat dibeli, ada pengorbanan yang tak dapat dihitung dengan angka, dan ada darah yang tidak bisa ditebus oleh kompensasi apa pun. Ketika manusia kehilangan kemampuan menghadirkan keadilan yang sempurna, keadilan ilahi menjadi harapan terakhir.

Di sinilah hubungan antara Imam Ali a.s dan Imam Husain a.s menjadi begitu erat. Ayah dan anak ini sama-sama berdiri di sisi kebenaran ketika harga yang harus dibayar adalah nyawa. Yang satu gugur di mihrab, yang lain di padang Karbala. Yang satu mempertahankan keadilan dalam pemerintahan, yang lain mempertahankan martabat agama di hadapan tirani. Jalan mereka berbeda, tetapi ujungnya sama: pengorbanan total demi prinsip.

Mungkin karena itulah sejarah tidak pernah benar-benar selesai membicarakan mereka. Nama mereka terus hidup bukan semata karena keberanian atau kepemimpinan, melainkan karena mereka mengajarkan bahwa ada nilai yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup. Hidup yang kehilangan kebenaran tidak pernah lebih mulia daripada kematian yang mempertahankan prinsip.

Pada akhirnya, gelar Tsarullah bukan hanya penghormatan kepada dua manusia agung. Ia adalah pengingat bagi setiap generasi bahwa keadilan mungkin tampak kalah dalam waktu yang singkat, tetapi darah yang tertumpah demi kebenaran tidak pernah menghilang begitu saja. Ia menjadi saksi yang terus berbicara kepada sejarah dan pembalas terakhirnya bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar