Imam Ali Khamenei: Jangan Sampai Seluruh Hidup Dihabiskan untuk Sesuatu yang Akan Ditinggalkan

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani.

Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan. Bahkan waktu istirahat pun terkadang hanya dianggap sebagai kesempatan untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali bekerja dan mengejar target berikutnya.

Pola tersebut membuat manusia terbiasa bertanya tentang apa yang belum dimilikinya. Namun, tidak banyak yang berhenti sejenak untuk bertanya: apakah semua yang sedang dikejar itu benar-benar memberikan makna bagi kehidupannya?

Dalam sebuah pidato pada 10 Februari 1993, Imam Ali Khamenei qs mengajak manusia merenungkan dua orientasi kehidupan. Salah satunya adalah kehidupan yang seluruh aktivitasnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan material pribadi. Manusia bekerja, belajar, dan berjuang demi memperoleh kekayaan, kenikmatan, kedudukan, serta berbagai keuntungan yang dapat dinikmati selama hidup.

Beliau menunjukkan bahwa persoalan dalam pola kehidupan semacam ini tidak hanya terletak pada keterikatannya terhadap dunia. Persoalan yang lebih dalam adalah keterbatasan tujuan yang dibangun manusia untuk dirinya sendiri.

Ketika seluruh energi dicurahkan untuk memperoleh sesuatu yang hanya dapat dinikmati dalam rentang kehidupan dunia, manusia berisiko kehilangan kesempatan untuk membangun sesuatu yang melampaui kepentingan pribadinya. Ia mungkin berhasil mencapai banyak hal, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bertanya apakah pencapaiannya memiliki nilai yang lebih panjang daripada masa hidupnya.

Padahal, kehidupan manusia tidak hanya berlangsung dalam rentang waktu antara kelahiran dan kematian. Dalam keyakinan Islam, kehidupan dunia merupakan bagian dari perjalanan yang lebih panjang, yang akan berlanjut dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Baca Juga  Khusyuk yang Hanya Tampak di Mata

Kesadaran tentang akhirat seharusnya mengubah cara manusia memandang dunia. Harta bukan lagi tujuan tertinggi, melainkan sarana. Jabatan bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan amanah. Ilmu tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kedudukan pribadi, tetapi juga untuk memberi manfaat. Bahkan pekerjaan sehari-hari dapat memiliki nilai ibadah apabila dijalankan dengan niat dan tanggung jawab yang benar.

Dengan cara pandang ini, kehidupan material tidak harus ditinggalkan. Yang perlu diubah adalah kedudukannya dalam hierarki tujuan manusia.

Seseorang boleh berusaha menjadi kaya, tetapi kekayaan tidak semestinya menjadi ukuran tunggal keberhasilan. Seseorang boleh mengejar jabatan, tetapi kedudukan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab moralnya. Seseorang boleh menikmati kesenangan dunia, tetapi jangan sampai kenikmatan itu membuatnya lupa bahwa waktu, kesehatan, dan kesempatan yang dimilikinya tidak akan berlangsung selamanya.

Imam Khamenei mengingatkan bahwa ketika seseorang memasuki penghujung usia, ia akan melihat kembali seluruh perjalanan hidupnya. Jika hidup hanya dihabiskan untuk mengumpulkan sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan, maka keberhasilan material sekalipun dapat berubah menjadi sumber penyesalan.

Gagasan ini sejalan dengan peringatan Al-Qur’an tentang yaumul hasrah, hari penyesalan. Allah swt berfirman dalam Surah Maryam ayat 39:

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.”

Penyesalan dalam ayat tersebut bukan sekadar perasaan sedih karena kehilangan sesuatu. Ia menggambarkan kesadaran yang datang ketika kesempatan telah tertutup. Manusia menyadari apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengulang waktu yang telah berlalu.

Karena itu, mengingat akhirat bukan berarti mengabaikan kehidupan dunia. Justru kesadaran tentang pertanggungjawaban akhirat semestinya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menggunakan kehidupan dunia. Ia tidak hanya memikirkan bagaimana memperoleh sesuatu, tetapi juga bagaimana memperolehnya, untuk apa menggunakannya, dan siapa yang mendapatkan manfaat darinya.

Baca Juga  Amanah Tidak Mengenal Siapa yang Memegangnya

Di tengah budaya yang mendorong manusia terus berlari mengejar pencapaian, pemikiran ini menghadirkan pertanyaan yang layak direnungkan: apakah kita sedang membangun kehidupan, atau hanya sedang mengumpulkan sesuatu yang kelak harus kita tinggalkan?

Pertanyaan itu penting karena tidak semua kesibukan berarti kemajuan. Tidak semua keberhasilan berarti kebahagiaan. Dan tidak semua yang berhasil dikumpulkan manusia akan menjadi bekal ketika perjalanan dunia berakhir.

Mungkin ukuran keberhasilan yang lebih jujur bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan seberapa bermakna kita menggunakan apa yang telah diberikan kepada kita.

Jangan sampai manusia menghabiskan seluruh hidup untuk mengumpulkan sesuatu yang akan ditinggalkan, sementara ia lupa menyiapkan sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan.

Sumber: Pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan sejumlah komandan dan personel Angkatan Udara Republik Islam Iran, 10 Februari 1993 (19 Bahman 1371).

Bagikan:
Terkait
Komentar