Ketika Langit Tidak Membedakan Laki-laki dan Perempuan 

KHAMENEI.ID– Dalam banyak peradaban, perempuan kerap ditempatkan sebagai catatan kaki dari sejarah laki-laki. Namun Islam, setidaknya dalam bacaan tekstualnya yang paling jernih, menggeser logika itu. Ukuran manusia bukanlah tubuhnya, bukan pula jenis kelaminnya, melainkan sejauh mana ia mampu menembus lapisan-lapisan kesadaran menuju Tuhan. Dalam bahasa yang sederhana namun radikal, Al-Qur’an menegaskan bahwa pintu spiritualitas terbuka sama lebar bagi laki-laki dan perempuan.

Gambaran itu tampak jelas dalam Surah Al-Ahzab ayat 35, yang menyusun daftar panjang kesetaraan moral tanpa jeda:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman, yang taat, yang jujur, yang sabar, yang khusyuk, yang bersedekah, yang berpuasa, yang menjaga kehormatan, dan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat ini tidak sekadar menyebut laki-laki dan perempuan berdampingan. Ia seperti meruntuhkan hierarki lama yang menganggap keduanya berada pada tangga spiritual berbeda. Semua kualitas utama yakni iman, sabar, jujur dan dermawan disebut dalam bentuk ganda, tanpa superioritas satu atas yang lain. Dalam logika ayat ini, yang membedakan manusia bukan gender, melainkan kualitas batin.

Penegasan itu diperkuat dalam Surah Ali Imran ayat 195:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

Allah tidak akan menyia-nyiakan amal siapa pun di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Kalian berasal dari satu sama lain” (QS. Ali Imran: 195)

Kalimat بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ kalian berasal satu dari yang lain, menjadi semacam deklarasi ontologis bahwa manusia tidak bisa dipahami secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Mereka bukan dua dunia yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam perjalanan spiritual.

Baca Juga  Bukan Karena Salah, Tetapi Karena Terlalu Adil: Tragedi Pemerintahan Imam Ali 

Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada pernyataan normatif. Ia menghadirkan contoh-contoh hidup yang justru mengguncang cara pandang manusia. Ketika ingin menggambarkan kekufuran, Al-Qur’an tidak hanya menyebut tokoh laki-laki, tetapi juga perempuan: istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Keduanya berada dalam lingkaran kenabian, namun memilih jalan yang berbeda.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

 

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)” (QS At-Tahrim: 10)

Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai contoh bagi orang-orang kafir. Kedekatan dengan figur suci tidak otomatis menyelamatkan seseorang jika batinnya menolak kebenaran.

Sebaliknya, ketika Al-Qur’an ingin menunjukkan puncak iman, ia kembali mengejutkan: yang diangkat justru perempuan. Istri Fir’aun menjadi simbol keteguhan spiritual di tengah tirani kekuasaan.

رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Ya Tuhanku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga” (QS. At-Tahrim: 11)

Ia tidak meminta istana dunia, melainkan ruang di sisi Tuhan. Dan bersama itu, Al-Qur’an juga menampilkan Maryam, putri Imran, sebagai figur kesucian yang bahkan melampaui imajinasi sosial zamannya:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا … وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا

“Dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya … dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya” (QS. At-Tahrim: 12)

Baca Juga  Revolusi sebagai Amanah: Mengapa Semangat Perubahan Tidak Boleh Dimiliki Segelintir Orang

Maryam menjadi simbol kesetiaan total kepada Tuhan, sebuah posisi spiritual yang dalam ayat ini tidak diberikan sebagai pengecualian, melainkan sebagai kemungkinan yang terbuka bagi manusia.

Dari sini tampak bahwa gender dalam Islam bukanlah kategori utama dalam menilai kemuliaan manusia. Ia lebih merupakan “instrumen sosial” yang bekerja dalam ruang kehidupan sehari-hari, bukan ukuran dalam perjalanan menuju Tuhan. Yang menentukan bukan apakah seseorang laki-laki atau perempuan, melainkan apakah ia jujur, sabar, dan sadar akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Bahkan dalam wilayah ibadah dan pengabdian, Islam memperkenalkan konsep yang menyeimbangkan beban spiritual. 

Dalam sebuah riwayat disebutkan, 

جِهَادُ الْمَرْأَةِ حُسْنُ التَّبَعُّلِ

jihad perempuan adalah menjadi istri yang baik

Ini sering disalahpahami sebagai pembatasan, padahal dalam logika spiritual Islam klasik, ia adalah pengakuan bahwa setiap ruang hidup memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Sebagaimana laki-laki berjuang di medan perang, perempuan berjuang menjaga kehangatan, stabilitas, dan ketenangan rumah tangga, sesuatu yang tidak kalah berat dari medan eksternal.

Di titik ini, bahkan konsep jihad pun diperluas. Nabi saw menyebut adanya “jihad akbar”, perang yang lebih besar dari peperangan fisik: jihad melawan diri sendiri. Dalam logika ini, musuh terbesar manusia bukan orang lain, melainkan egonya sendiri, ambisi, amarah, dan kesombongan yang bersemayam di dalam diri.

Jika demikian, maka garis pemisah antara laki-laki dan perempuan semakin kabur dalam ruang spiritual. Yang tersisa hanyalah manusia yang berjuang melawan dirinya sendiri menuju Tuhan.

Pada akhirnya, pandangan ini tidak sedang menghapus perbedaan biologis, tetapi menurunkannya dari posisi absolut. Gender tetap hadir dalam kehidupan sosial, tetapi tidak lagi menjadi penentu nilai spiritual. Di hadapan Tuhan, yang berbicara bukanlah tubuh, melainkan hati.

Baca Juga  Amar Makruf Nahi Mungkar: Fondasi Peradaban yang Berawal dari Tuhan

Dan mungkin di situlah letak revolusi paling sunyi dari Al-Qur’an: ia tidak berteriak tentang kesetaraan, tetapi menanamkannya dalam struktur paling dalam dari iman: bahwa perempuan dan laki-laki, pada akhirnya, adalah dua jalan yang bertemu di titik yang sama yaitu Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar