Islam sebagai Pandangan Dunia: Ketika Agama Menjadi Sistem Kehidupan

KHAMENEI.ID – Agama sering kali dipersempit menjadi sesuatu yang tinggal di sudut kehidupan. Ia hadir di tempat ibadah, mengiringi doa, mengatur ritual, lalu selesai ketika manusia kembali memasuki urusan politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kehidupan sosial.

Pandangan semacam itulah yang sejak awal ditolak oleh Imam Ali Khamenei qs.

Dalam sebuah pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (22 September 1987), Imam Khamenei menggambarkan Islam bukan sekadar kumpulan ibadah dan kebiasaan keagamaan. Islam, menurutnya, adalah sebuah cara memandang seluruh kehidupan. Dari cara manusia memahami dirinya, sejarah, alam, masyarakat, hingga tujuan akhir kehidupannya.

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya.

Dalam pandangan tauhid, alam bukan ruang kosong tanpa makna. Kehidupan bukan sekadar persaingan untuk bertahan. Manusia bukan mesin ekonomi yang nilai dirinya ditentukan oleh kekayaan, kekuasaan, atau kemampuan menguasai orang lain.

Seluruh wujud, menurut pandangan Islam, berasal dari Allah dan bergerak menuju-Nya. Manusia berada di dalam alam itu bukan sebagai makhluk tanpa tujuan, melainkan sebagai makhluk yang memikul tanggung jawab besar.

Manusia memiliki kemampuan untuk membangun dunia. Tetapi kemampuan yang sama juga dapat menghancurkannya.

Ia dapat menggunakan ilmu dan iman untuk mengangkat kehidupan manusia menuju kemajuan material sekaligus kemuliaan spiritual. Namun ia juga dapat menyalahgunakan kecerdasan, kekuatan, dan teknologi untuk menciptakan dunia yang penuh penindasan, perang, dan kerusakan.

Karena itulah, persoalan manusia bukan semata-mata kekurangan ilmu.

Sejarah modern justru memperlihatkan sesuatu yang paradoks. Manusia semakin menguasai teknologi, tetapi tidak selalu semakin mampu mengendalikan dirinya. Ia mampu menciptakan mesin yang luar biasa, tetapi juga menciptakan senjata yang mampu menghancurkan jutaan manusia. Ia mampu menjelajahi angkasa, tetapi masih gagal menghapus kelaparan dan ketidakadilan di bumi.

Baca Juga  Lembut kepada Kaum Lemah, Tegas kepada Kebatilan: Dua Wajah Kepemimpinan Imam Ali

Imam Khamenei melihat bahwa ilmu tanpa arah moral dapat berubah menjadi kekuatan yang membahayakan manusia itu sendiri.

Di sinilah iman memperoleh tempatnya.

Iman bukan lawan ilmu. Keduanya justru digambarkan sebagai dua sayap yang memungkinkan manusia terbang. Ilmu memberi manusia kemampuan, sedangkan iman memberinya arah.

Tanpa kemampuan, manusia tidak mampu membangun.

Tanpa arah, pembangunan dapat berubah menjadi kehancuran.

Pandangan tauhid juga mengubah cara manusia melihat sesamanya. Tidak ada ras yang secara hakiki lebih mulia daripada ras lain. Tidak ada warna kulit, bangsa, bahasa, atau wilayah geografis yang dapat menjadi dasar superioritas manusia.

Semua manusia berasal dari satu sumber dan sama-sama merupakan hamba Allah.

Ketika manusia mulai merasa dirinya lebih tinggi daripada manusia lain, di situlah sejarah mulai dipenuhi darah. Superioritas ras melahirkan rasisme. Superioritas bangsa melahirkan kolonialisme. Superioritas kekuatan melahirkan imperialisme.

Satu kelompok merasa berhak menentukan nasib kelompok lain.

Satu negara merasa memiliki hak untuk mengatur dunia.

Satu peradaban merasa dirinya sebagai ukuran bagi seluruh umat manusia.

Bagi Imam Khamenei, akar dari semua itu adalah kecenderungan manusia untuk melampaui batas dan menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan.

Karena itu, ajaran para nabi pada dasarnya merupakan pemberontakan terhadap kesombongan manusia.

Para nabi mengajak manusia kembali menjadi hamba Allah. Bukan karena penghambaan kepada Tuhan merendahkan manusia, melainkan karena hanya dengan tunduk kepada Tuhan manusia dapat bebas dari penghambaan kepada sesama manusia.

Manusia yang tidak tunduk kepada kebenaran sering kali akhirnya tunduk kepada kekuasaan.

Ia mungkin menolak Tuhan, tetapi kemudian menyembah uang. Menolak wahyu, tetapi tunduk kepada hawa nafsu. Menolak penghambaan kepada Allah, tetapi menjadi budak ambisi, kekuasaan, dan kepentingan.

Baca Juga  Saat Kesabaran Menjadi Kekuatan Terbesar

Karena itulah Islam tidak berhenti pada urusan pribadi.

Agama, dalam pandangan Imam Khamenei, harus membentuk kehidupan sosial. Ia harus melahirkan keadilan, kebebasan, kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian melawan kezaliman.

Islam mengajarkan manusia agar tidak menzalimi dan tidak menerima kezaliman.

Kalimat ini sederhana, tetapi konsekuensinya sangat besar.

Seseorang tidak cukup hanya menjadi orang baik secara pribadi jika ia diam ketika ketidakadilan merajalela. Kesalehan yang hanya berhenti pada diri sendiri tidak cukup untuk menghadapi sistem yang menghancurkan kehidupan manusia.

Karena itu, Islam menawarkan sebuah pandangan yang menyatukan akhlak pribadi dan tanggung jawab sosial.

Kejujuran bukan hanya urusan individu.

Keadilan bukan hanya slogan politik.

Takwa bukan hanya hubungan pribadi dengan Tuhan.

Semuanya harus hadir dalam kehidupan masyarakat.

Inilah yang disebut Imam Khamenei sebagai agama yang menjadi bentuk kehidupan manusia, bukan sekadar hiasan di atas kehidupan itu.

Pertanyaan pentingnya kemudian adalah: apakah dunia modern benar-benar membutuhkan pandangan semacam ini?

Jawabannya mungkin justru semakin jelas hari ini.

Ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan, ketika kekuatan ekonomi lebih dihormati daripada martabat manusia, dan ketika negara-negara kuat merasa berhak menentukan masa depan negara-negara lain, persoalan lama manusia kembali muncul dalam bentuk baru.

Manusia masih memiliki kemampuan besar.

Yang belum selalu dimilikinya adalah kemampuan untuk menggunakan kekuatan itu secara benar.

Di sinilah pesan tauhid kembali menemukan relevansinya.

Manusia membutuhkan ilmu.

Tetapi ia juga membutuhkan iman.

Ia membutuhkan kekuatan.

Tetapi ia juga membutuhkan keadilan.

Ia membutuhkan kebebasan.

Tetapi kebebasan itu harus dibimbing oleh tanggung jawab.

Menurut Imam Khamenei, masa depan manusia tidak akan ditentukan hanya oleh seberapa jauh ia menguasai dunia. Masa depan manusia ditentukan oleh apakah ia mampu menguasai dirinya sendiri.

Baca Juga  Janji Tuhan dan Godaan untuk Tidak Sabar

Sebab manusia dapat membangun surga di bumi dengan potensi yang dimilikinya.

Namun dengan potensi yang sama, ia juga dapat menciptakan neraka.

Bagikan:
Terkait
Komentar