Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 21): Tipu Daya Kaum Munafik dalam Al-Qur’an

KHAMENEI.ID – Ada musuh yang datang dengan wajah terbuka. Ia menyatakan penolakannya, memperlihatkan permusuhannya, dan mudah dikenali. Tetapi ada pula musuh yang memilih jalan berbeda: ia datang dengan bahasa yang sama, memakai simbol yang sama, bahkan mengaku berada di pihak yang sama. Di sinilah tipu daya menjadi lebih rumit.

Surah Al-Baqarah mulai membicarakan kelompok ini setelah menjelaskan ciri orang-orang bertakwa dan orang-orang kafir. Jika orang bertakwa menerima petunjuk dan orang kafir menolaknya secara terbuka, kelompok munafik menempati wilayah yang lebih sulit dibaca: apa yang tampak di luar tidak selalu sama dengan apa yang disimpan di dalam.

Allah swt berfirman:

«وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ»

“Maka di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”

Namun pembahasan tentang kemunafikan tidak berhenti pada ketidaksesuaian antara ucapan dan isi hati. Pada tahap berikutnya, Al-Qur’an memperlihatkan sesuatu yang lebih berbahaya: tipu daya yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan tertentu.

Ketika Permusuhan Datang dengan Wajah Islam

Imam Khamenei memandang bahwa musuh Islam tidak selalu akan mengatakan bahwa mereka membenci Islam. Justru, dalam banyak keadaan, mereka dapat mengatakan sebaliknya. Mereka dapat menyatakan diri sebagai pembela Islam, berbicara tentang perdamaian, kebebasan, kemajuan, atau bahkan menggunakan istilah-istilah yang terdengar sangat dekat dengan nilai agama.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya apa yang mereka katakan, melainkan ke mana arah tindakan mereka.

Beliau menghubungkan persoalan tersebut dengan ayat:

«يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا»

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman.”

Di sinilah persoalan munafik menjadi lebih dalam daripada sekadar berbohong.

Seseorang mungkin berbohong kepada orang lain. Ia mengatakan sesuatu yang tidak benar. Tetapi di balik kebohongan itu bisa terdapat rancangan yang lebih besar: menciptakan keraguan, memecah hubungan, mengubah persepsi, menyalakan pertentangan, lalu mengarahkan masyarakat kepada tujuan tertentu.

Baca Juga  Tafsir Surah A-Baqarah (Bag. 4): Takwa adalah Kendali Hidup

Karena itu, khud‘ah atau tipu daya bukan sekadar kebohongan. Kebohongan adalah bagian dari alatnya. Di belakangnya terdapat maksud yang hendak diwujudkan.

Menyerang Islam Tanpa Mengaku Memusuhi Islam

Dunia Islam, menurut Imam Khamenei, membutuhkan sesuatu yang sangat mendasar: kembali mendekat kepada Al-Qur’an, bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam tindakan.

Kegiatan-kegiatan Qur’ani, pertemuan para pecinta Al-Qur’an, pembelajaran dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur’an pada akhirnya harus membawa manusia kepada dua bentuk kedekatan: kedekatan dalam pengetahuan dan kedekatan dalam amal.

Sebab persoalan dunia Islam bukan sekadar apakah umat mengenal Al-Qur’an. Persoalannya adalah apakah nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar hadir dalam kehidupan.

Dan justru pada titik itulah, menurut beliau, tekanan terhadap Islam bekerja.

Musuh tidak perlu berkata, “Kami memusuhi Al-Qur’an.” Cukup dengan menyerang bagian-bagian kehidupan yang menjadi konsekuensi dari pendidikan Al-Qur’an.

Contohnya adalah ketika pembicaraan tentang jihad dan kesyahidan dianggap sesuatu yang harus disingkirkan dari pendidikan. Atau ketika persatuan umat dilemahkan dengan menyalakan kecurigaan antara kelompok-kelompok Muslim.

Pertentangan Sunni dan Syiah dapat dijadikan bahan untuk memecah umat. Perbedaan kelompok di dalam komunitas Syiah dapat diperbesar. Begitu pula perbedaan mazhab dan kelompok di kalangan Sunni dapat dijadikan sumber pertikaian.

Dengan cara seperti itu, serangan tidak diarahkan secara langsung kepada nama “Islam” atau “Al-Qur’an”. Serangan diarahkan kepada nilai-nilai yang seharusnya dilahirkan oleh Al-Qur’an dalam kehidupan umat. Persatuan adalah Salah Satunya.

Maka seseorang dapat mengaku mendukung Islam, tetapi pada saat yang sama melakukan sesuatu yang justru menghancurkan salah satu tujuan penting pendidikan Islam. Di sinilah kewaspadaan diperlukan: bukan hanya melihat slogan, tetapi melihat dampak dan arah dari sebuah tindakan.

Baca Juga  Puasa dan Kesabaran: Perisai Diri dari Godaan Dosa

Dari Kebohongan Menuju Rekayasa

Kemunafikan sebagai sifat individual memang bermula dari ketidaksesuaian antara lahir dan batin. Seseorang mengatakan dirinya beriman, sementara di dalam dirinya tidak terdapat iman.

Namun ketika kemunafikan berkembang menjadi arus atau gerakan dalam masyarakat, persoalannya menjadi lebih besar.

Gerakan semacam itu bukan hanya menyembunyikan sesuatu. Ia memiliki tujuan. Ia berusaha memanfaatkan ketidaktahuan, mempermainkan persepsi, dan menciptakan keadaan yang menguntungkan bagi tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat Islam.

Karena itu, menghadapi kemunafikan tidak cukup hanya dengan membongkar kebohongan.

Diperlukan kewaspadaan untuk membaca apa yang berada di belakang kebohongan tersebut.

Sebuah berita palsu, misalnya, mungkin bukan tujuan akhir. Ia bisa menjadi alat untuk menimbulkan kecurigaan. Kecurigaan dapat berkembang menjadi permusuhan. Permusuhan kemudian dapat merusak persatuan. Dan ketika persatuan telah rusak, masyarakat menjadi jauh lebih mudah dilemahkan.

Rangkaian seperti inilah yang membuat tipu daya lebih berbahaya daripada kebohongan biasa.

Tipu daya yang akhirnya berbalik kepada pelakunya

Namun Al-Qur’an sekaligus membongkar kelemahan paling mendasar dari tipu daya tersebut:

«وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ»

“Padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.”

Di sinilah paradoks kemunafikan.

Mereka mungkin berhasil membuat orang lain tidak segera memahami maksud mereka. Mereka mungkin dapat menyembunyikan tujuan untuk sementara waktu. Bahkan orang-orang beriman mungkin tidak langsung mengetahui apa yang sedang dirancang. Tetapi pada akhirnya, kerugian terbesar justru kembali kepada mereka sendiri.

Seseorang yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki nilai-nilai tertentu, tetapi secara sadar menolak nilai tersebut dan berusaha merusaknya, sebenarnya sedang menjauhkan dirinya sendiri dari kebaikan yang tersedia di dalam masyarakat itu.

Baca Juga  Berbeda Pendapat Bukan Musuh: Imam Khamenei Menjelaskan Batas Kritik dan Permusuhan dalam Islam

Ia memutus dirinya dari “hidangan” rahmat dan kebaikan yang seharusnya dapat dinikmati bersama.

Karena itu, tipu daya kaum munafik memiliki batas. Mereka mungkin dapat mengelabui manusia untuk sementara, tetapi tidak mungkin mengelabui Tuhan. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak dapat menghindarkan diri dari konsekuensi pilihan mereka sendiri.

Al-Qur’an Meminta Kewaspadaan, bukan Sekadar Kecurigaan

Rangkaian pembahasan ini membawa kita pada satu pelajaran penting tentang masyarakat beriman. Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk permusuhan yang terang-terangan. Ada ancaman yang datang melalui bahasa yang terdengar baik, melalui slogan yang tampak indah, bahkan melalui orang-orang yang secara lahiriah mengaku berada di pihak yang sama.

Karena itu, ukuran tidak cukup diletakkan pada apa yang diucapkan.

Yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara ucapan, sikap, tindakan, dan tujuan.

Kemunafikan menjadi berbahaya ketika perbedaan antara lahir dan batin tidak berhenti sebagai kelemahan pribadi, tetapi berubah menjadi alat untuk melakukan tipu daya dan mencapai tujuan yang merusak.

Pada akhirnya, ayat-ayat tentang munafik tidak hanya membongkar wajah mereka. Ayat-ayat itu juga mengajarkan umat untuk tidak mudah tertipu oleh penampilan.

Sebab musuh yang paling mudah dikenali adalah mereka yang datang dengan permusuhan terbuka. Yang lebih membutuhkan kewaspadaan adalah mereka yang datang sambil berkata, “Kami bersama kalian,” sementara di balik kata-kata itu terdapat rencana untuk melemahkan apa yang sedang mereka katakan mereka bela.

Dan Al-Qur’an menutup lingkaran tipu daya itu dengan sebuah ironi: mereka mengira sedang memperdaya orang lain, padahal pada akhirnya mereka sendirilah yang sedang menipu diri sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar