KHAMENEI.ID –
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaika ya Tsarallah wabna Tsarihi (Salam sejahtera atasmu, wahai darah Allah dan putra dari darah-Nya)
Bersamaan dengan masuknya bulan Muharram—bulan kemenangan darah atas pedang serta hari-hari duka bagi Penghulu dan Pemimpin para pencinta kebebasan dunia, Yang Mulia Sayyidus Syuhada (Imam Husain) Alaihissalam beserta para sahabatnya yang setia—dan menjelang pelaksanaan prosesi penghormatan terakhir, pelepasan jenazah, serta pemakaman Panglima Perjuangan yang Syahid, Yang Mulia Ayatullah Al-Uzma Sayyid Ali Husaini Khamenei (Semoga Allah Menyucikan Jiwanya yang Suci) beserta para syuhada dari keluarga Pemimpin Revolusi Islam, dengan ini diumumkan arah kebijakan substansial serta pendekatan narasi propaganda dan promosi dari agenda ini kepada bangsa Iran yang mulia serta para pencinta tokoh istimewa zaman ini, baik di dalam maupun di luar negeri.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei (Semoga Allah Melindunginya), dalam pesan pertamanya mengenai Pemimpin kita yang syahid, menyampaikan:
“Saya mendapatkan taufik untuk menziarahi jasad suci beliau pasca-syahidnya; apa yang saya saksikan adalah gunung keteguhan, dan saya mendengar bahwa kepalan tangan sehatnya tampak menggenggam erat…”
“Kepalan tangan yang menggenggam erat” ini, yang ditetapkan sebagai lambang resmi pelepasan tokoh agung zaman ini, bukan sekadar simbol belaka. Lambang ini merupakan manifestasi nyata dari tangan hangat sang ayah bagi umat, yang telah berkali-kali berdiri tegak menghadapi arogansi global, tidak pernah gentar, dan tidak pernah terbuka kecuali karena Allah swt.
Dari rahim kepalan tangan yang menggenggam erat ini, serta dari pergolakan darah sang syahid yang kuat namun dizalimi, hati para pejuang kebebasan dunia kini bergejolak hebat, dan bangsa Iran pun mengalami momentum kebangkitan (ba’tsat) baru. Sebuah kebangkitan yang kelanjutan jalannya harus diwujudkan melalui pengibaran panji Front Kebenaran di dunia, pembalasan atas darah suci Panglima Perjuangan kita yang syahid, serta pembangunan masa depan yang lebih kuat bagi Iran Islami. Baginda Pemimpin yang Mulia (Semoga Allah Meninggikan Kedudukannya) gugur sebagai syahid dalam sebuah pertempuran berdarah. Sebuah kesyahidan di medan laga yang dalam sejarah para ulama Imamiyyah (Semoga Ridha Allah Menyertai Mereka) belum pernah terjadi pada sosok dengan kedudukan dan maqam setinggi beliau.
Sebagai kelanjutan dari gejolak darah suci ini yang telah menggetarkan bumi dan waktu, maka slogan utama dalam prosesi ini adalah:
“Bahu-Membahu, Kita Bangkit!” (باید برخاست)
Slogan ini merupakan kelanjutan dari gerakan “Bangkit Karena Allah” (Qiyam Lillah), yang pada awal tanggal 14 Khordad tahun ini disebut oleh Pemimpin kita yang tercinta (Semoga Allah Memperpanjang Naungannya) sebagai fondasi utama dari mazhab pemikiran Khomeini yang Agung dan Khamenei yang Terkasih; sebuah kebangkitan yang dimulai sejak pertengahan Khordad 1342 (Juni 1963), membuahkan hasil pada Bahman 1357 (Februari 1979), berlanjut di era perlawanan (Resistance), dan kini mencapai standar capaian baru melalui kesyahidan penuh kezaliman dari hamba Allah yang saleh tersebut.
“Bahu-Membahu, Kita Bangkit!” bermakna bahwa darah ini begitu bergolak sehingga tidak akan lagi membiarkan sanubari para pencinta perjuangan berada dalam kepasifan.
“Bahu-Membahu, Kita Bangkit!” bermakna bahwa sumpah setia yang telah diikat oleh bangsa yang bangkit ini bersama tetesan darah beliau, akan terus dilanjutkan hingga tetes darah terakhir.
Untuk prosesi agung yang diberi nama “Pelepasan Tuan Syahid Iran” (بدرقه آقای شهید ایران) ini, sebuah paket identitas visual khusus telah disiapkan untuk menjadi basis utama dalam produksi dan publikasi seluruh karya media, atribut propaganda, tata ruang kota dan komunitas massa, produk budaya, serta program-program terkait lainnya.
Namun, duka ini tidak hanya milik rakyat Iran semata. Mulai dari negara-negara Front Perlawanan hingga ke pelosok dunia, para pejuang dan pembela kebebasan dunia turut meratapi kesyahidan yang agung ini. Umat Islam, dengan terinspirasi dari madrasah yang sama, menggemakan firman Ilahi: “Qumu Lillah” (Bangkitlah karena Allah). Slogan ini merupakan intisari dari arahan terakhir dan pesan-pesan bijaksana dari Pemimpin kita yang syahid; “Qumu Lillah” bukan sekadar wasiat beliau, melainkan sebuah pembaruan baiat terhadap mazhab pemikirannya—sebuah maklumat kepada dunia bahwa keagungan, keimanan, dan keberanian yang tiada banding tersebut akan terus dilanjutkan dengan kekuatan dan keteguhan yang jauh lebih besar.
Atas taufik Ilahi dan inayah khusus dari Yang Mulia Imam Mahdi (Semoga Allah Mempercepat Kedatangannya), prosesi pelepasan ini insya Allah akan menjadi titik awal dari kemenangan yang nyata (Fathun Mubin), serta titik balik kebangkitan bangsa Iran dan umat Islam menuju ufuk masa depan yang cerah di bawah kepemimpinan agung Pemimpin Revolusi Islam (Semoga Allah Melindunginya).
Kantor Pemeliharaan dan Publikasi Karya Pemimpin Syahid Revolusi Islam
26 Khordad 1405 (16 Juni 2026) — Bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H







