KHAMENEI.ID– Ada banyak orang yang mengira sebuah komunitas, lembaga, atau bahkan bangsa akan runtuh karena serangan dari luar. Sejarah memang mencatat banyak peradaban tumbang akibat perang atau tekanan musuh. Namun, lebih sering daripada itu, keruntuhan justru bermula dari dalam: ketika nilai-nilai yang dahulu dijaga perlahan ditinggalkan, ketika rasa syukur berubah menjadi kesombongan, dan ketika semangat pengabdian digantikan oleh kelelahan yang tak lagi memiliki makna.
Tidak ada nilai yang bertahan hanya karena pernah dibangun. Nilai hidup karena dirawat. Ia seperti pohon yang harus terus disirami. Begitu perhatian berkurang, akar mulai mengering, daun-daun berguguran, dan batang yang tampak kokoh ternyata perlahan rapuh dari dalam.
Dalam kehidupan, ancaman terbesar sering kali bukanlah kegagalan yang datang tiba-tiba, melainkan penyakit-penyakit halus yang berkembang tanpa disadari. Penyakit itu tidak langsung menghancurkan, tetapi menggerogoti sedikit demi sedikit hingga seseorang kehilangan arah tanpa pernah merasa sedang tersesat.
Di antara penyakit paling berbahaya adalah kelalaian kepada Allah. Ketika hubungan spiritual melemah, ukuran benar dan salah ikut bergeser. Kesibukan, prestasi, jabatan, atau keberhasilan perlahan mengambil posisi yang semestinya hanya dimiliki oleh Tuhan. Manusia tetap bekerja, tetap beraktivitas, bahkan mungkin semakin produktif. Namun, orientasinya berubah. Ia tidak lagi bergerak karena panggilan iman, melainkan demi kepentingan diri sendiri.
Kelalaian seperti inilah yang sering menjadi pintu masuk bagi berbagai kerusakan lain. Ketika seseorang tidak lagi merasa diawasi oleh Allah, rasa tanggung jawab menjadi longgar. Amanah berubah menjadi beban, pengabdian berubah menjadi rutinitas, dan perjuangan kehilangan ruhnya.
Namun, kelalaian bukan satu-satunya ancaman. Keberhasilan pun dapat berubah menjadi jebakan.
Ironisnya, manusia sering kali gagal bukan saat menghadapi kesulitan, tetapi justru setelah mencapai kemenangan. Prestasi yang seharusnya melahirkan rasa syukur berubah menjadi kesombongan. Keberhasilan dianggap semata hasil kecerdasan, strategi, atau kerja keras pribadi. Sedikit demi sedikit, manusia lupa bahwa di balik setiap pencapaian ada pertolongan yang tidak selalu tampak.
Kesombongan memiliki cara kerja yang sunyi. Ia membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan nasihat, tidak lagi merasa perlu memperbaiki diri, bahkan perlahan kehilangan kepekaan terhadap nikmat yang selama ini diterimanya. Padahal, sejarah memperlihatkan bahwa banyak kehancuran bermula ketika manusia merasa dirinya telah cukup.
Di titik ini, semangat perjuangan juga menghadapi ujian yang lain: kelelahan.
Bekerja untuk nilai-nilai luhur bukanlah pekerjaan sesaat. Ia menuntut ketekunan yang panjang. Karena itu, rasa lelah adalah sesuatu yang wajar. Yang berbahaya bukan lelahnya, melainkan ketika kelelahan berubah menjadi hilangnya idealisme. Ketika pengabdian dianggap sia-sia, ketika perjuangan dipandang tidak lagi berarti, dan ketika harapan digantikan oleh sikap menyerah.
Dalam perjalanan panjang membangun masyarakat, rasa letih memang tidak dapat dihindari. Namun, semangat tidak boleh ikut padam. Sebab, setiap perubahan besar dalam sejarah lahir dari orang-orang yang tetap berjalan meskipun langkah mereka terasa berat.
Di sisi lain, ada penyakit yang sering luput disadari: lupa menghitung nikmat Allah.
Manusia memiliki kecenderungan aneh. Ketika satu masalah muncul, seluruh karunia yang pernah diterima seolah menghilang dari ingatan. Sebuah kesulitan kecil mampu menutupi puluhan keberhasilan yang telah dilewati. Padahal, jika menoleh ke belakang, begitu banyak “batu besar” yang telah disingkirkan Allah dari jalan hidupnya.
Karena itulah doa-doa para ulama dan orang-orang saleh tidak hanya berisi permohonan, tetapi juga pengakuan atas limpahan nikmat Allah. Salah satu doa yang diajarkan dalam qunut salat Witir berbunyi:
اَللّهُمَّ تَمَّ نُورُكَ فَهَدَیتَ فَلَكَ الحَمدُ رَبَّنا وَ بَسَطتَ یَدَكَ فَاَعطَیتَ فَلَكَ الحَمدُ رَبَّنا وَ عَظُمَ حِلمُكَ فَعَفَوتَ فَلَكَ الحَمدُ رَبَّنا
Artinya:
“Ya Allah, cahaya-Mu telah sempurna sehingga Engkau memberi petunjuk. Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan kami. Engkau mengulurkan tangan-Mu lalu memberi karunia. Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan kami. Kesabaran-Mu begitu agung sehingga Engkau mengampuni. Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan kami”
Doa ini mengajarkan satu hal yang sangat mendasar: mengingat nikmat adalah cara menjaga harapan. Ketika manusia terus mengingat bagaimana Allah telah membimbing, memberi, dan mengampuni, ia tidak mudah putus asa hanya karena menghadapi satu kegagalan atau kesulitan baru.
Namun jika ingatan itu hilang, keraguan mulai tumbuh. Keraguan berubah menjadi pesimisme. Pesimisme melahirkan kemalasan. Dan akhirnya seseorang berhenti melangkah, bukan karena jalannya tertutup, melainkan karena ia kehilangan keyakinan bahwa Allah masih membukakan jalan.
Dalam konteks yang lebih luas, penyakit-penyakit ini tidak hanya mengancam individu. Ia juga dapat menjangkiti organisasi, masyarakat, bahkan sebuah bangsa. Ketika rasa syukur memudar, ketika prestasi melahirkan arogansi, ketika semangat pengabdian melemah, dan ketika nikmat Allah dilupakan, fondasi moral perlahan retak. Dari luar bangunan mungkin masih tampak kokoh, tetapi di dalamnya telah dipenuhi keropos yang siap merobohkannya kapan saja.
Karena itu, menjaga nilai bukan sekadar mempertahankan simbol atau slogan. Yang jauh lebih penting adalah menjaga hati agar tetap hidup. Sebab, nilai-nilai besar hanya akan bertahan jika manusia terus memelihara hubungan dengan Allah, tetap rendah hati saat berhasil, tetap bersemangat saat lelah, dan tetap bersyukur ketika cobaan datang silih berganti.
Pada akhirnya, yang paling menentukan bukanlah seberapa besar tantangan yang menghadang di depan, melainkan seberapa kuat manusia menjaga dirinya dari penyakit-penyakit yang tumbuh dalam hati. Sebab, keruntuhan sering kali tidak diawali oleh pukulan yang keras, melainkan oleh kelalaian-kelalaian kecil yang dibiarkan berulang hingga akhirnya menghapus seluruh nilai yang pernah diperjuangkan.







