KHAMENEI.ID – Ada anggapan yang terus berulang setiap kali ulama berbicara tentang politik, keadilan, atau persoalan dunia. “Bukankah lebih baik ulama fokus mengajar agama? Bukankah mereka akan lebih dihormati jika tidak ikut dalam konflik sosial dan politik?”
Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun dalam pandangan Imam Ali Khamenei, anggapan tersebut justru berangkat dari sebuah kekeliruan berpikir. Mengharapkan ulama dihormati karena memilih diam, menurut beliau, sama dengan menghormati sebuah benda mati: tampak terhormat, tetapi kehilangan fungsi dan pengaruhnya.
Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa lembaga keagamaan tidak pernah memperoleh kehormatan sejati melalui pengasingan diri dari persoalan umat. Penghormatan yang lahir karena sikap pasif hanyalah penghormatan yang kosong. Bahkan, dalam banyak kasus, penghormatan semacam itu menyimpan penghinaan yang tersembunyi.
Yang benar-benar dihormati, kata beliau, adalah sosok yang hidup, bergerak, memberi manfaat, dan berani memikul tanggung jawab. Bahkan musuh pun, meski memusuhinya, tetap mengakui bobot pengaruhnya.
Ulama Selalu Hadir dalam Titik Balik Sejarah
Untuk menjelaskan gagasannya, Imam Ali Khamenei mengajak melihat sejarah Iran selama sekitar satu setengah abad terakhir. Hampir setiap perubahan besar, menurut beliau, selalu melibatkan ulama yang memiliki keberanian moral dan kecakapan membaca situasi politik.
Gerakan boikot tembakau dipimpin oleh Mirza Hasan Shirazi. Revolusi Konstitusi didukung para marja’ di Najaf dan ulama di berbagai kota. Perlawanan terhadap kebijakan represif pada tragedi Masjid Goharshad melibatkan Ayatullah Haj Agha Hossein Qomi. Gerakan 30 Tir dipimpin Ayatullah Kashani. Kebangkitan 15 Khordad 1963 dipelopori Imam Khomeini bersama para ulama lainnya.
Bagi Imam Ali Khamenei, rangkaian peristiwa itu menunjukkan satu pola yang konsisten. Gelombang besar rakyat tidak lahir begitu saja. Selalu ada ulama yang mampu membangunkan kesadaran masyarakat dan mengubah keresahan menjadi gerakan sosial.
Di sinilah letak perbedaan antara tokoh populer dengan ulama yang memiliki otoritas moral. Seorang tokoh mungkin mampu mengumpulkan massa untuk sementara, tetapi hanya ulama yang dipercaya masyarakat mampu menggerakkan perubahan yang bertahan lama.
Jika Ulama Menepi, Agama Ikut Terpinggirkan
Imam Ali Khamenei menilai bahwa pilihan untuk menjauh dari urusan publik bukan hanya merugikan ulama, tetapi juga membahayakan agama itu sendiri.
Menurut beliau, ulama tidak memiliki identitas yang terpisah dari agama. Kehormatan mereka berasal dari tugas menjaga dan membela ajaran Islam. Karena itu, ketika persoalan besar menyangkut nasib umat muncul, sikap netral justru berarti membiarkan agama kehilangan ruangnya dalam kehidupan masyarakat.
Beliau menegaskan bahwa ulama adalah pelayan agama, bukan sekadar penjaga ritual. Jika mereka memilih diam ketika nilai-nilai Islam menghadapi tantangan, maka yang paling dahulu dirugikan adalah agama itu sendiri.
Mengapa Musuh Selalu Menyerang Ulama?
Salah satu bagian menarik dari pidato Imam Ali Khamenei adalah penjelasannya mengenai mengapa ulama yang aktif justru sering menjadi sasaran permusuhan.
Beliau berpendapat bahwa permusuhan bukan selalu pertanda kegagalan. Sebaliknya, dalam banyak kasus, tekanan dari luar justru melahirkan kreativitas dan kebangkitan intelektual.
Ketika sebuah buku yang menyerang ajaran Syiah diterbitkan pada masa lalu, Imam Khomeini menghentikan sementara kegiatan mengajarnya untuk menulis Kasyf al-Asrar, sebuah karya yang kemudian menjadi fondasi penting dalam pemikiran politik Islam modern.
Begitu pula ketika pemikiran Marxisme berkembang pada dekade 1940-an dan 1950-an, lahirlah karya monumental Ushul Falsafah wa Rawisy-e Realism yang memperkuat fondasi filsafat Islam dalam menghadapi materialisme.
Menurut Imam Ali Khamenei, sejarah memperlihatkan bahwa setiap tantangan besar justru mendorong lahirnya jawaban-jawaban besar. Dengan syarat, komunitas keagamaan tetap hidup, sadar, dan responsif terhadap zamannya.
Musuh Tidak Akan Berhenti Hanya Karena Ulama Diam
Dalam logika Imam Ali Khamenei, ada kekeliruan lain yang sering muncul: anggapan bahwa jika ulama tidak ikut berbicara mengenai persoalan politik, maka konflik akan mereda.
Beliau menolak asumsi itu.
Mengutip hikmah dari Imam Ali bin Abi Thalib, beliau mengingatkan:
«وَمَنْ نَامَ لَمْ يُنَمْ عَنْهُ»
“Siapa yang tertidur, bukan berarti musuhnya ikut tertidur.”
Ungkapan ini menggambarkan bahwa ancaman tidak akan berhenti hanya karena seseorang memilih diam. Dalam pandangan beliau, sejarah menunjukkan bahwa setiap kali umat Islam tampak lemah atau pasif, tekanan dari luar justru semakin meningkat.
Karena itu, kehadiran ulama dalam persoalan nasional maupun internasional bukanlah pilihan politis semata, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
“Pemerintahan Ulama” atau “Pemerintahan Nilai”?
Imam Ali Khamenei juga mengkritik dua istilah yang menurutnya sengaja dipopulerkan setelah Revolusi Islam Iran, yaitu “pemerintahan ulama” dan “ulama pemerintah”.
Menurut beliau, kedua istilah itu mengandung kekeliruan mendasar.
Republik Islam, kata beliau, bukanlah pemerintahan sebuah kelas sosial bernama ulama. Yang menjadi dasar pemerintahan adalah nilai-nilai Islam, syariat, dan hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, bukan identitas profesi seseorang.
Seseorang tidak otomatis layak memimpin hanya karena mengenakan jubah ulama. Sebaliknya, seseorang juga tidak kehilangan kelayakan hanya karena bukan ulama.
Yang menjadi ukuran adalah integritas, kompetensi, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam.
Demikian pula istilah “ulama pemerintah” yang sering digunakan sebagai label negatif. Imam Ali Khamenei membedakan antara ulama yang mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi dengan ulama yang mendukung pemerintahan karena menganggapnya sebagai amanah agama.
Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:
«الفقهاءُ أُمَناءُ الرُّسُلِ ما لَمْ يَدْخُلُوا فِي الدُّنْيا»
“Para fuqaha adalah para pemegang amanah para rasul selama mereka tidak tenggelam dalam kepentingan dunia.”
Menurut beliau, yang tercela bukanlah kedekatan dengan pemerintahan, melainkan ketika tujuan seseorang berubah menjadi kepentingan pribadi, ambisi, dan hawa nafsu. Sebaliknya, jika keterlibatan dalam pemerintahan dilakukan demi menegakkan keadilan dan menjalankan amanah agama, maka hal itu termasuk bentuk amar makruf dan nahi mungkar yang paling berat.
Ilmu Keagamaan Harus Menjadi Penuntun Peradaban
Pada bagian akhir pidatonya, Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa negara yang berlandaskan Islam membutuhkan kontribusi intelektual para ulama secara terus-menerus.
Persoalan ekonomi, pendidikan, perdamaian, peperangan, tata kelola pemerintahan, hingga kehidupan sosial memerlukan panduan nilai yang bersumber dari ajaran Islam. Bila ruang itu dibiarkan kosong, maka teori-teori yang lahir dari pandangan hidup materialistik akan mengisinya.
Tidak ada masyarakat yang berjalan tanpa teori. Jika ulama tidak menghadirkan perspektif Islam dalam menjawab tantangan zaman, maka ideologi lain akan mengambil tempat itu.
Karena itulah, menurut Imam Ali Khamenei, tugas ulama bukan hanya menjaga warisan keilmuan, tetapi juga memastikan bahwa ajaran Islam tetap relevan dalam membimbing kehidupan masyarakat modern.
Di tengah dunia yang terus berubah, keberanian ulama untuk hadir dalam persoalan umat bukanlah penyimpangan dari agama. Justru di sanalah agama menemukan perannya sebagai petunjuk hidup yang nyata, bukan sekadar ajaran yang tersimpan rapi di rak-rak kitab.







