KHAMENEI.ID– Sebuah universitas bisa melahirkan ribuan sarjana tanpa pernah benar-benar melahirkan gagasan. Gelar bertambah, jabatan terisi, kantor-kantor memperoleh tenaga baru. Namun ilmu belum tentu bergerak. Sebab ukuran keberhasilan pendidikan tinggi bukan hanya berapa banyak orang yang lulus, melainkan seberapa jauh mereka mampu mengubah cara manusia memahami dunia.
Gagasan itulah yang menjadi inti seruan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs dalam sebuah pidato di hadapan para dosen dan mahasiswa Universitas Imam Shadiq. Ia mengingatkan bahwa cita-cita sebuah perguruan tinggi tidak semestinya berhenti pada pekerjaan yang menunggu para lulusannya: menjadi pengacara, notaris, birokrat, atau mengisi jabatan di lembaga negara. Semua profesi itu penting. Kehadiran orang-orang terdidik di institusi hukum dan pemerintahan bahkan diperlukan. Tetapi, katanya, itu belum cukup untuk disebut sebagai tujuan ideal sebuah universitas.
Universitas, terutama yang bergerak dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora, semestinya memiliki ambisi yang lebih panjang: menghasilkan ilmu, bukan sekadar mengonsumsi ilmu.
Di titik ini, persoalan pendidikan tinggi berubah menjadi pertanyaan yang lebih mendasar. Untuk apa seseorang belajar begitu lama jika pada akhirnya hanya menjadi pengulang dari apa yang telah dikatakan orang lain?
Syahid Ali Khamenei menyebut gagasan itu sebagai bagian dari gerakan perangkat lunak dan produksi ilmu sebuah dorongan agar dunia pendidikan tidak sekadar menjadi pasar tempat teori-teori lama dibeli, dipelajari, lalu diajarkan kembali. Universitas harus menjadi tempat lahirnya pemikiran yang memungkinkan ilmu berkembang dan masyarakat menemukan jalan baru.
Cita-cita itu bahkan melampaui persaingan antarkampus. Sebuah universitas, dalam pandangan tersebut, tidak seharusnya hanya sibuk mengejar peringkat agar berada setingkat di atas kampus lain di kota atau negara yang sama. Ukuran yang lebih besar adalah apakah dunia membutuhkan hasil pemikirannya.
Bayangkan seorang peneliti di Eropa, Asia, Amerika, atau belahan dunia lain sedang mencari jawaban atas sebuah persoalan kemanusiaan. Ia membuka pangkalan data ilmiah dan menemukan penelitian dari sebuah universitas yang tidak hanya mengulang teori lama, melainkan menawarkan perspektif baru. Di situlah sebuah perguruan tinggi mulai menjadi rujukan.
Ia tidak lagi sekadar dikenal karena gedungnya, jumlah mahasiswanya, atau daftar alumninya. Ia dikenal karena gagasannya.
Namun untuk sampai ke sana, ada satu jebakan yang harus dihindari: pemujaan terhadap teori.
Ilmu pengetahuan memang tumbuh melalui dialog dengan pemikiran yang telah ada. Tidak mungkin seorang ilmuwan memulai dari ruang kosong. Ia membaca, mempelajari, menguji, mengkritik, lalu mengembangkan. Masalah muncul ketika pengetahuan berubah menjadi semacam benda keramat, sesuatu yang diterima bukan karena telah diuji, melainkan karena datang dari nama besar.
Dalam ilmu sosial, kecenderungan semacam itu bisa sangat halus. Sebuah teori ekonomi, filsafat, politik, atau komunikasi diterima sebagai kebenaran hanya karena pernah dikemukakan seorang pemikir terkenal dari Barat. Bahkan ketika teori itu sudah lama dikritik, direvisi, atau ditinggalkan di tempat asalnya, ia masih mungkin dibawa ke ruang kelas sebagai “teori baru”.
Ironinya, sesuatu yang telah usang di satu tempat kadang dipasarkan sebagai penemuan baru di tempat lain.
Fenomena itu bukan semata persoalan Barat atau Timur. Ia adalah persoalan mentalitas akademik: ketika otoritas menggantikan penelitian.
Seorang mahasiswa akhirnya tidak belajar bagaimana berpikir, melainkan belajar apa yang harus dipercayai. Ia tidak dilatih mengajukan pertanyaan, tetapi menghafal jawaban. Ia tidak dibiasakan menguji sebuah teori, tetapi mencari nama besar untuk menopang pendapatnya.
Padahal penelitian ilmiah, dalam pengertian paling mendasar, justru berlawanan dengan sikap meniru.
Menariknya, kritik semacam ini tidak berarti menolak pengetahuan Barat atau menutup diri dari pemikiran global. Justru sebaliknya. Untuk dapat mengkritik sebuah gagasan, seseorang harus terlebih dahulu mengenalnya secara mendalam. Untuk menemukan kelemahan sebuah teori, ia harus mampu memahami teori itu lebih baik daripada sekadar menghafal namanya.
Karena itu, seruan untuk tidak menjadi pengikut buta bukanlah seruan untuk berhenti belajar. Ia adalah ajakan untuk belajar lebih serius agar mampu berpikir lebih merdeka.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini terasa dekat dengan dunia pendidikan hari ini. Di tengah ledakan informasi, mahasiswa memiliki akses terhadap lebih banyak buku, jurnal, data, dan pendapat daripada generasi sebelumnya. Tetapi kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman berpikir. Mesin pencari dapat menemukan jutaan jawaban dalam hitungan detik, tetapi ia tidak menentukan mana pertanyaan yang layak diajukan.
Di sinilah universitas menemukan kembali tugas tertuanya: mengajari manusia membedakan pengetahuan dari sekadar informasi.
Seorang sarjana yang ideal bukanlah orang yang paling banyak mengutip tokoh. Ia adalah orang yang mampu berdiri di antara berbagai gagasan tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai. Ia membaca pemikiran orang lain, tetapi tidak menyerahkan pikirannya kepada orang lain.
Gagasan ini kemudian menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Setiap generasi mewarisi dunia yang dibangun oleh generasi sebelumnya. Jika ia hanya mengulang, dunia itu akan tetap berada di tempat yang sama. Tetapi jika ia meneliti, mempertanyakan, dan menciptakan, warisan itu dapat menjadi pijakan menuju sesuatu yang belum pernah ada.
Maka universitas yang kuat bukan sekadar universitas yang menghasilkan lulusan siap kerja. Ia adalah tempat di mana seseorang belajar meninggalkan jejak intelektual.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting tentang pendidikan bukanlah, “Kelak kamu akan menjadi apa?” Melainkan, “Setelah belajar selama bertahun-tahun, apa yang baru yang dapat kamu berikan kepada dunia?”
Sebab ilmu yang hanya diwariskan akan berhenti sebagai arsip. Tetapi ilmu yang berani berpikir ulang dapat menjadi awal dari perubahan.







