KHAMENEI.ID – Menurut Imam Ali Khamenei qs, kejayaan Islam tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari pembinaan manusia yang kemudian melahirkan masyarakat berperadaban.
Ketika berbicara tentang lahirnya peradaban Islam, banyak orang langsung membayangkan penaklukan kota-kota besar, berdirinya pemerintahan Madinah, atau meluasnya wilayah kekuasaan kaum Muslim. Padahal, menurut beliau, semua itu hanyalah hasil akhir dari sebuah proses yang jauh lebih mendasar. Sebelum membangun negara, Rasulullah saw terlebih dahulu membangun manusia. Sebelum mendirikan pemerintahan, beliau membentuk hati, akal, dan karakter orang-orang yang kelak menjadi fondasi umat.
Inilah pelajaran besar yang, menurut Imam Ali Khamenei, sering terlupakan ketika orang berbicara tentang sejarah Islam.
Beliau menjelaskan bahwa sel-sel pertama tubuh umat Islam lahir bukan di Madinah yang telah memiliki pemerintahan, melainkan di Makkah—pada masa ketika kaum Muslim masih merupakan kelompok kecil yang hidup di bawah tekanan, intimidasi, dan penyiksaan.
Perubahan Selalu Dimulai dari Manusia
Imam Ali Khamenei qs menggambarkan masa-masa awal dakwah Nabi sebagai proses membangun fondasi yang nyaris tak terlihat oleh dunia. Orang-orang pertama yang menerima Islam bukanlah mereka yang memiliki kekuasaan atau pengaruh besar, tetapi mereka yang memiliki hati yang siap menerima kebenaran.
Al-Qur’an menggambarkan keadaan itu melalui firman Allah swt:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ
“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam.”
(QS. Al-An’am [6]: 125)
Menurut Imam Khamenei, hati-hati yang terbuka itulah yang menjadi batu pertama pembangunan umat. Rasulullah saw menanamkan cahaya iman, memperkuat tekad mereka, serta membimbing mereka agar mampu memahami makna wahyu secara mendalam.
Proses itu berlangsung di tengah masyarakat yang seluruh sistem nilainya dibangun di atas tradisi jahiliah: fanatisme kesukuan, dendam turun-temurun, penindasan terhadap yang lemah, kekerasan, serta dominasi hawa nafsu.
Dalam suasana seperti itulah, benih-benih masyarakat baru mulai tumbuh.
Pohon yang Tumbuh dari Celah Batu
Untuk menggambarkan kekuatan generasi pertama Islam, Imam Ali Khamenei mengutip ucapan Amirul Mukminin Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah:
«وَإِنَّ الشَّجَرَةَ الْبَرِّيَّةَ أَصْلَبُ عُودًا وَأَقْوَى وَقُودًا» e
“Sesungguhnya pohon yang tumbuh di alam liar memiliki batang yang lebih kokoh dan kayu bakar yang lebih kuat.”
Menurut beliau, perumpamaan ini sangat tepat untuk menggambarkan para sahabat awal Nabi. Mereka tumbuh bukan dalam kenyamanan, tetapi di tengah tekanan yang keras. Justru karena ditempa oleh kesulitan, akar keimanan mereka menjadi semakin dalam.
Imam Ali Khamenei mengibaratkan mereka seperti pohon yang tumbuh menembus celah-celah batu karang. Badai sebesar apa pun tidak mampu mencabutnya karena akarnya telah menghunjam jauh ke dalam.
Selama tiga belas tahun di Makkah, Rasulullah ﷺ tidak membangun istana, tidak membentuk birokrasi, dan tidak mendirikan institusi negara. Yang beliau bangun adalah manusia.
Madinah: Saat Pendidikan Menjadi Fondasi Negara
Setelah hijrah ke Madinah, fondasi itu mulai melahirkan masyarakat.
Namun, menurut Imam Ali Khamenei, pembentukan umat (ummah building) tidak selesai hanya dengan berdirinya pemerintahan Islam. Justru di sinilah tugas yang lebih besar dimulai.
Selama sepuluh tahun di Madinah, Rasulullah ﷺ menjalankan dua misi secara bersamaan: membangun negara dan membina manusia.
Beliau mengutip firman Allah swt:
«هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”
(QS. Al-Jumu’ah [62]: 2)»
Imam Ali Khamenei memberikan perhatian khusus pada frasa يُزَكِّيهِمْ (menyucikan mereka).
Menurut beliau, Rasulullah saw tidak sekadar menyampaikan hukum-hukum agama. Beliau mendidik setiap individu, menyucikan hati mereka, memperbaiki akhlaknya, dan membentuk kepribadian mereka satu demi satu.
Barulah setelah itu datang tahap berikutnya:
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.”
Dalam penjelasan Imam Khamenei, hikmah bukan sekadar pengetahuan tentang halal dan haram. Hikmah adalah kemampuan memahami hakikat kehidupan, melihat realitas dengan pandangan yang benar, serta menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Dengan hikmah, seseorang tidak hanya mengetahui aturan, tetapi juga memahami tujuan dari aturan tersebut.
Negara dan Pendidikan Tidak Bisa Dipisahkan
Di sinilah letak salah satu gagasan penting Imam Ali Khamenei.
Beliau menegaskan bahwa Rasulullah saw menjalankan dua pekerjaan besar secara bersamaan.
Di satu sisi, beliau mengelola pemerintahan, menjaga keamanan Madinah, mempertahankan masyarakat Islam dari berbagai ancaman, dan membuka jalan agar masyarakat di luar Madinah mengenal Islam.
Di sisi lain, beliau tidak pernah meninggalkan tugas membina manusia.
Setiap individu tetap menjadi perhatian beliau.
Menurut Imam Khamenei, dua tugas ini tidak boleh dipisahkan. Negara tanpa pembinaan manusia hanya akan menghasilkan kekuasaan yang rapuh. Sebaliknya, pendidikan tanpa tanggung jawab sosial tidak akan pernah mampu melahirkan sebuah peradaban.
Karena itu, keberhasilan Nabi Muhammad saw bukan hanya terletak pada berdirinya sebuah negara, tetapi pada lahirnya manusia-manusia yang mampu menjaga negara itu dengan akhlak, ilmu, dan keimanan.
Membangun Peradaban dari Dalam Diri
Bagi Imam Khamenei, sejarah Rasulullah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari transformasi manusia.
Peradaban Islam tidak dibangun dengan jalan pintas. Ia lahir melalui pembinaan hati, penguatan akal, penyucian jiwa, dan penanaman hikmah yang dilakukan secara terus-menerus.
Itulah sebabnya generasi pertama Islam mampu bertahan menghadapi berbagai ujian. Mereka bukan sekadar masyarakat yang memiliki pemerintahan, tetapi masyarakat yang telah dididik untuk hidup berdasarkan nilai-nilai wahyu.
Pelajaran itu tetap relevan hingga hari ini. Sebuah bangsa mungkin mampu membangun gedung-gedung megah, memperkuat ekonomi, atau mengembangkan teknologi. Namun, tanpa manusia yang memiliki iman, ilmu, hikmah, dan karakter, semua pencapaian itu mudah runtuh.
Sebaliknya, ketika manusia menjadi titik awal pembangunan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, maka masyarakat yang kokoh dan peradaban yang berumur panjang memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Itulah warisan besar yang, menurut Imam Khamenei, ditinggalkan Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam: membangun dunia dengan terlebih dahulu membangun manusia.







