Amerika di Teluk Persia dan Jejak Panjang Permusuhan terhadap Revolusi Iran

KHAMENEI.ID – Kekuatan militer sering datang dengan sebuah alasan yang terdengar mulia.

Menjaga keamanan.

Melindungi perdamaian.

Menstabilkan kawasan.

Tetapi sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang lebih sulit: apakah kehadiran kekuatan asing benar-benar menciptakan stabilitas, atau justru membawa konflik baru?

Pertanyaan itulah yang dikemukakan Imam Ali Khamenei qs ketika berbicara tentang kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk Persia. Dalam pidatonya di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Imam Khamenei memperingatkan bahwa kawasan Teluk tidak sedang bergerak menuju keamanan ketika kapal-kapal perang Amerika semakin banyak hadir di sana. Sebaliknya, ia melihat kawasan itu sedang berubah menjadi sebuah ruang yang dipenuhi kemungkinan ledakan.

Sebuah gudang mesiu. Satu percikan dapat mengubah ketegangan menjadi perang yang jauh lebih luas.

Bagi Imam Khamenei, persoalannya bukan hanya tentang satu insiden di laut.

Ia melihat kehadiran militer Amerika sebagai bagian dari sebuah sejarah yang lebih panjang: sejarah permusuhan Washington terhadap Revolusi Islam dan Republik Islam Iran.

Revolusi 1979 telah mengubah sebuah hubungan yang sebelumnya sangat erat.

Sebelum revolusi, Iran berada dalam orbit strategis Amerika Serikat. Rezim Pahlavi merupakan salah satu sekutu utama Washington di kawasan.

Kekayaan Iran, posisi geografisnya, kekuatan militernya, dan perannya di Teluk Persia memiliki arti besar dalam strategi kekuatan Barat.

Kemudian revolusi terjadi.

Dan sebuah negara yang sebelumnya menjadi salah satu pilar kepentingan Amerika di kawasan memilih jalan politik yang berbeda.

Di sinilah, menurut Imam Khamenei, permusuhan mulai menemukan bentuk yang semakin terbuka.

Ia menyebut berbagai tindakan yang, dari perspektif Revolusi Islam, menjadi bagian dari sebuah “dakwaan sejarah” terhadap kebijakan Amerika Serikat: dukungan terhadap rezim Pahlavi, tekanan terhadap revolusi, dukungan terhadap kelompok-kelompok yang menentang pemerintahan baru, pembekuan aset Iran, tekanan ekonomi, hingga dukungan terhadap Irak selama perang.

Baca Juga  Ketegasan dan Kasih Sayang Imam Ali: Harmoni Dua Sifat yang Tampak Bertentangan

Semua itu, dalam narasi Imam Khamenei, bukanlah peristiwa-peristiwa yang berdiri sendiri.

Ia melihatnya sebagai mata rantai.

Satu demi satu.

Tekanan berubah bentuk, tetapi tujuannya tetap sama: membatasi, melemahkan, atau mengubah arah Revolusi Islam.

Di tengah perang Iran-Irak, ketegangan kemudian bergerak ke Teluk Persia.

Kehadiran kapal-kapal perang Amerika semakin memperbesar risiko konfrontasi langsung.

Dalam pidatonya, Imam Khamenei memperingatkan bahwa dunia tidak boleh hanya melihat kawasan Teluk sebagai persoalan regional.

Jika sebuah konflik melibatkan kekuatan militer besar, dampaknya dapat melampaui batas geografis.

Perang memiliki kebiasaan buruk: ia jarang berhenti sesuai rencana mereka yang memulainya.

Satu tindakan dapat memancing tindakan berikutnya.

Satu serangan dapat melahirkan pembalasan.

Dan sebuah konflik lokal dapat berkembang menjadi krisis internasional.

Di sinilah muncul pertanyaan yang diajukan Imam Khamenei dengan nada tajam: haruskah dunia percaya pada pidato tentang perdamaian, atau melihat tindakan yang terjadi di lapangan?

Pertanyaan itu menyentuh persoalan klasik dalam politik internasional.

Negara-negara dapat berbicara tentang perdamaian sambil meningkatkan kekuatan militernya.

Mereka dapat menyatakan komitmen terhadap keamanan sambil mengirim lebih banyak kapal perang.

Mereka dapat berbicara tentang stabilitas sambil menciptakan situasi yang membuat kesalahan kecil menjadi sangat berbahaya.

Karena itu, bagi Imam Khamenei, tindakan lebih penting daripada retorika.

Sejarah tidak hanya mencatat apa yang dikatakan para pemimpin.

Sejarah juga mencatat apa yang mereka lakukan.

Namun ada satu penegasan penting dalam pidato tersebut: kritik terhadap kebijakan pemerintah Amerika tidak berarti permusuhan terhadap rakyat Amerika.

Imam Khamenei secara tegas membedakan antara pemerintah dan masyarakat.

Yang menjadi sasaran kritiknya adalah para penguasa dan kebijakan yang mereka jalankan, bukan rakyat Amerika sebagai sebuah bangsa.

Baca Juga  Mengenal Kebenaran Tanpa Mengultuskan Tokoh: Pelajaran Besar dari Imam Ali tentang Bashirah

Pemisahan ini penting.

Dalam politik, pemerintah sering berbicara atas nama rakyat. Tetapi rakyat tidak selalu mengetahui, menyetujui, atau memiliki kendali penuh atas setiap kebijakan yang dilakukan pemerintahnya.

Karena itu, konflik antara dua pemerintahan tidak seharusnya berubah menjadi kebencian terhadap dua bangsa.

Pesan ini justru menunjukkan salah satu prinsip yang lebih luas dalam pemikiran Revolusi Islam: melawan kebijakan dominasi tidak sama dengan membenci manusia yang hidup di negara dominan.

Musuhnya adalah penindasan.

Bukan manusia berdasarkan kebangsaannya.

Persoalan berikutnya adalah Makkah

Imam Khamenei juga menghubungkan tragedi berdarah yang menimpa jamaah Iran dalam peristiwa Haji 1987 dengan situasi politik yang lebih luas di kawasan. Dari sudut pandangnya, tragedi itu bukan sekadar insiden lokal, tetapi harus dilihat dalam konteks hubungan antara kekuatan regional dan kebijakan Amerika Serikat.

Beliau mempertanyakan bagaimana sebuah tragedi besar yang menewaskan ratusan jamaah dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.

Bagi Imam Khamenei, darah para korban membawa pesan yang tidak dapat dihapus oleh propaganda.

Kekerasan mungkin dapat diberi berbagai nama.

Tetapi korban tetap meninggalkan pertanyaan.

Siapa yang bertanggung jawab?

Mengapa kekerasan terjadi?

Dan siapa yang memperoleh keuntungan dari situasi tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi bagian dari kritik lebih besar terhadap politik kekuasaan di Timur Tengah.

Wilayah ini terlalu sering diperlakukan sebagai papan catur.

Kekuatan besar menggerakkan strategi.

Negara-negara regional menjadi bidak.

Dan rakyat biasa sering menjadi pihak yang membayar harga paling mahal.

Mereka kehilangan rumah.

Mereka kehilangan keluarga.

Mereka hidup di tengah perang.

Sementara keputusan besar dibuat jauh dari tempat bom jatuh.

Pesan Imam Khamenei terhadap Amerika Serikat dan Teluk Persia pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang permusuhan antara dua negara.

Baca Juga  Perubahan Dimulai dari Diri: Mengapa Bangsa Besar Tidak Lahir dari Keluhan, tetapi dari Tekad 

Ia adalah kritik terhadap sebuah cara berpikir dalam politik internasional.

Cara berpikir yang menganggap kehadiran militer sebagai jawaban utama terhadap persoalan politik.

Cara berpikir yang percaya bahwa keamanan dapat dibangun dengan kapal perang.

Cara berpikir yang menganggap kepentingan negara kuat lebih penting daripada kekhawatiran masyarakat kawasan.

Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuatan militer mungkin mampu mengendalikan situasi untuk sementara.

Ia tidak selalu mampu menciptakan perdamaian.

Perdamaian membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: kepercayaan, keadilan, penghormatan terhadap kedaulatan, dan pengakuan bahwa tidak ada negara yang berhak menjadi penguasa bagi bangsa lain.

Itulah inti peringatan Imam Khamenei.

Teluk Persia mungkin hanya sebuah kawasan di peta.

Tetapi ketika kekuatan besar membawa persenjataan dan persaingan geopolitiknya ke sana, seluruh dunia dapat merasakan akibatnya.

Dan karena itulah, pertanyaan tentang keamanan tidak boleh hanya ditujukan kepada negara-negara kecil.

Pertanyaan yang sama harus diajukan kepada mereka yang datang dengan kapal perang sambil mengaku membawa perdamaian.

Bagikan:
Terkait
Komentar