Mereka yang Percaya bahwa Malam Akan Berakhir 

KHAMENEI.ID – Ada masa ketika manusia merasa dunia terlalu gelap untuk diperbaiki. Ketidakadilan datang bertubi-tubi, kekuasaan berpihak kepada yang kuat, dan mereka yang menindas seolah selalu menemukan cara untuk bertahan. Dalam keadaan semacam itu, keputusasaan bukan lagi sekadar perasaan. Ia perlahan menjadi cara memandang dunia.

Sejarah manusia memang panjang oleh kegelapan. Penindasan berganti wajah, tetapi tidak selalu berganti watak. Rezim tumbuh dan runtuh, penguasa datang dan pergi, sementara ketidakadilan berkali-kali menemukan bentuk baru. Karena itu, tidak mengherankan bila seseorang yang melihat dunia dari jarak dekat kadang bertanya: sampai kapan semua ini berlangsung?

Di titik itulah keyakinan tentang Imam Mahdi afs memperoleh maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar keyakinan tentang masa depan, melainkan cara mempertahankan harapan ketika keadaan hari ini tampak menyangkalnya.

Kepercayaan kepada kemunculan Imam Mahdi afs mengajarkan satu hal sederhana sekaligus radikal: kegelapan bukan keadaan terakhir manusia.

Dalam doa dan ziarah yang ditujukan kepada Imam Mahdi afs terdapat ungkapan yang menggambarkan beliau sebagai “tanda yang ditegakkan”, pertolongan dan rahmat yang luas. Di sana juga terdapat penegasan tentang sebuah janji Tuhan yang tidak mungkin didustakan:

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا وَعْدَ اللهِ الَّذِي ضَمِنَهُ

“Salam sejahtera atasmu, wahai janji Allah yang telah Dia jamin”

Kalimat itu pendek. Namun di dalamnya tersimpan pandangan yang besar tentang sejarah. Masa depan tidak sepenuhnya diserahkan kepada kekuatan mereka yang sedang berkuasa. Ada janji yang melampaui pergantian zaman, dan ada arah sejarah yang tidak ditentukan hanya oleh siapa yang hari ini tampak menang.

Namun jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan sekadar kapan kemunculan itu terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana keyakinan terhadap janji tersebut mengubah manusia yang hidup pada masa penantian.

Baca Juga  Dua Arus Perpecahan, Umat Islam Kehilangan Kekuatan

Seseorang yang percaya bahwa fajar akan datang tidak berarti menutup mata terhadap malam. Ia justru mampu melihat kegelapan tanpa menganggapnya sebagai takdir terakhir. Ia tahu bahwa kezaliman itu nyata, tetapi ia juga tahu bahwa kezaliman tidak memiliki hak untuk disebut abadi.

Perbedaan ini penting. Sebab keputusasaan sering kali bermula ketika manusia mengira bahwa apa yang sedang terjadi adalah satu-satunya kemungkinan yang tersedia.

Ketika ketidakadilan berlangsung terlalu lama, manusia mudah menganggapnya normal. Ketika kebohongan diulang terus-menerus, ia mulai terdengar seperti kebenaran. Ketika kekerasan menjadi kebiasaan, hati perlahan kehilangan kemampuan untuk terkejut. Pada tahap tertentu, manusia tidak lagi melawan kegelapan, bukan karena menyetujuinya, melainkan karena tidak lagi percaya bahwa keadaan dapat berubah.

Di sinilah harapan memiliki dimensi moral.

Iman kepada Imam Mahdi afs, dalam pengertian ini, bukan alasan untuk duduk menunggu perubahan dari luar diri. Sebaliknya, keyakinan bahwa dunia pada akhirnya akan bergerak menuju keadilan membuat manusia menolak berdamai dengan ketidakadilan yang ada di hadapannya.

Sebab bagaimana mungkin seseorang berharap akan datangnya keadilan universal, tetapi pada saat yang sama memilih menjadi bagian dari ketidakadilan sehari-hari?

Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan manusia modern. Kita hidup dalam zaman yang penuh informasi, tetapi tidak selalu penuh harapan. Setiap hari layar telepon membawa berita tentang perang, penindasan, korupsi, kemiskinan, kekerasan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Dunia terasa begitu dekat, tetapi justru karena itu bebannya terasa semakin berat.

Kita menyaksikan terlalu banyak tragedi dalam waktu yang terlalu singkat.

Dalam situasi semacam itu, harapan mudah dianggap sebagai sikap naif. Orang yang masih percaya pada perubahan kadang dipandang tidak realistis. Mereka yang berbicara tentang masa depan yang lebih adil dianggap sedang melarikan diri dari kenyataan.

Baca Juga  Jejak Panjang Fikih Politik: Dari Riwayat Menuju Arsitektur Negara

Padahal harapan yang sejati bukanlah penyangkalan terhadap kenyataan. Harapan justru lahir karena manusia berani menatap kenyataan tanpa menyerah kepadanya.

Malam tetap malam. Ia tidak menjadi terang hanya karena seseorang berharap. Tetapi orang yang yakin akan datangnya pagi akan menjalani malam dengan sikap yang berbeda. Ia mungkin tetap takut, tetap lelah, bahkan sesekali goyah. Namun ia tidak menyembah kegelapan dengan menganggapnya abadi.

Begitu pula keyakinan terhadap kemunculan Imam Mahdi afs. Ia menyimpan pesan bahwa sejarah tidak boleh dibaca hanya dari kekuatan para penindas pada satu masa tertentu. Mereka mungkin memiliki kekuasaan, senjata, uang, dan pengaruh. Mereka mungkin tampak begitu kokoh sehingga seolah tidak akan pernah tumbang. Tetapi dalam horizon keyakinan tersebut, semua itu tetap sementara.

Yang abadi bukan kekuasaan manusia, melainkan janji Tuhan.

Karena itu, keyakinan tentang Imam Mahdi afs pada akhirnya berbicara tentang keberanian manusia untuk berharap. Bukan harapan yang membuat seseorang pasif, melainkan harapan yang menjaga mata tetap terbuka dan hati tetap hidup. Ia membuat manusia mampu mengatakan tidak kepada kezaliman, bahkan ketika kemenangan belum terlihat.

Barangkali inilah alasan mengapa manusia membutuhkan keyakinan semacam itu ketika gelombang kegelapan terasa semakin padat. Bukan untuk membuatnya lupa bahwa malam sedang berlangsung, tetapi agar ia tidak keliru mengira malam sebagai akhir dari segala sesuatu.

Sebab setiap malam, betapapun panjangnya, membawa sebuah kemungkinan yang tak dapat dihentikannya sendiri: fajar.

Dan bagi mereka yang percaya kepada janji Tuhan, fajar itu bukan sekadar kemungkinan. Ia adalah janji yang sedang menunggu waktunya untuk menyingkapkan cahaya.

Bagikan:
Terkait
Komentar