Perlawanan yang Tumbuh dari Keyakinan

KHAMENEI.ID– Ada sebuah pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: apakah kemajuan manusia harus dibayar dengan meninggalkan agama? Dalam sejarah modern, pertanyaan itu kerap dijawab seolah-olah sudah final. Agama, kata mereka, boleh tinggal di ruang batin; sebagai keyakinan pribadi, doa, atau upacara, tetapi jangan dibawa terlalu jauh ke dalam kehidupan bersama. Politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pembangunan harus berjalan dengan logika yang terpisah dari iman.

Gagasan itulah yang dipandang sebagai salah satu fondasi penting peradaban Barat modern: memisahkan agama dari kemajuan. Seseorang boleh beragama, tetapi agama tidak semestinya menentukan arah kehidupan sosial. Kemajuan, dalam kerangka itu, justru dianggap mungkin bila agama disisihkan dari urusan publik.

Namun sejarah tidak selalu berjalan sesuai dengan teori yang dirancang manusia.

Di Iran, sebuah republik lahir dengan membawa agama ke tengah panggung politik. Ia tidak datang dengan janji bahwa kemajuan hanya mungkin melalui sekularisasi. Sebaliknya, agama justru dijadikan sumber orientasi bagi kehidupan bernegara. Dari sinilah muncul benturan yang lebih besar daripada sekadar perselisihan politik. Yang dipertarungkan adalah sebuah cara memandang manusia: apakah iman hanya urusan ruang privat, atau dapat menjadi tenaga yang menggerakkan masyarakat?

Dalam pandangan itu, keberadaan Republik Islam Iran sendiri dianggap sebagai semacam sanggahan terhadap tesis bahwa agama dan kemajuan harus dipisahkan. Negara itu bukan hanya bertahan, tetapi juga berusaha membangun kekuatan, memperluas pengaruh gagasan, dan menanamkan keyakinan bahwa agama dapat hadir sebagai kekuatan sosial-politik.

Di titik ini, sebuah ayat Al-Quran memperoleh makna yang lebih luas:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik?” (QS. Ibrahim: 24)

Baca Juga  Ketika Kebohongan Memakai Wajah Kebenaran

Pohon tidak tumbuh dalam semalam. Ia membutuhkan akar yang menancap, batang yang bertahan, dan waktu yang panjang untuk menjulang. Angin dapat mengguncang dahannya, musim dapat mengeringkan sebagian daunnya, bahkan badai dapat mematahkan rantingnya. Tetapi selama akarnya tidak tercabut, pohon itu masih mempunyai alasan untuk tumbuh kembali.

Begitu pula sebuah gagasan. Ia dapat ditekan, dicemooh, bahkan dikepung, tetapi belum tentu mati.

Karena itu, istilah resistensi atau perlawanan dalam wacana politik Islam tidak semata-mata menunjuk pada tindakan menghadapi musuh secara fisik. Ia mengandung gagasan yang lebih panjang: mempertahankan keberadaan, keyakinan, dan orientasi ketika berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Perlawanan, dalam pengertian ini, bukan sekadar keberanian untuk menyerang. Ia terutama adalah kemampuan untuk tetap berdiri.

Dalam sejarah modern Iran, tekanan dari negara-negara Barat dipahami sebagai bagian dari usaha untuk membendung model politik yang dianggap menantang tatanan dominan. Sanksi, tekanan politik, isolasi, dan berbagai bentuk permusuhan dilihat sebagai rangkaian upaya untuk membuat sebuah sistem menyerah atau setidaknya kehilangan daya hidupnya.

Tetapi ada paradoks yang menarik. Tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan justru dapat melahirkan daya tahan baru. Sebuah bangsa yang merasa terus ditekan akan mencari cara untuk bertahan. Dari sana lahir pengalaman, jaringan, solidaritas, dan identitas politik yang semakin mengeras.

Dalam konteks yang lebih luas, gagasan tentang front perlawanan kemudian tidak lagi dipahami hanya sebagai persoalan satu negara. Ia menjadi istilah untuk menggambarkan munculnya gerakan-gerakan yang menganggap dirinya sebagai bagian dari perjuangan melawan ketidakadilan, dominasi, dan hegemoni kekuatan global.

Tentu saja, setiap proyek politik dapat diperdebatkan. Tidak semua klaim tentang keadilan otomatis menjadi adil hanya karena mengatasnamakan agama. Begitu pula setiap kekuatan yang mengaku melawan dominasi tidak dengan sendirinya terbebas dari kesalahan. Tetapi di balik semua perdebatan itu terdapat satu pertanyaan yang layak direnungkan: mengapa gagasan tertentu mampu bertahan meski berkali-kali ditekan?

Baca Juga  Semakin Dihormati, Semakin Rendah Hati: Jalan Melawan Kesombongan

Jawabannya mungkin terletak pada akar.

Sebuah gerakan yang hanya dibangun oleh kepentingan sesaat mudah runtuh ketika kepentingan itu berubah. Tetapi keyakinan yang telah menemukan tempat dalam kesadaran manusia memiliki daya hidup yang berbeda. Ia dapat berpindah dari pidato ke ingatan, dari ingatan ke generasi, dari generasi ke tindakan.

Karena itu, perlawanan tidak cukup hanya dengan kekuatan. Ia membutuhkan alasan untuk terus bertahan.

Al-Quran menyebut dua hal yang berjalan beriringan: mengajak dan istiqamah. Dalam ayat yang berkaitan gagasan tersebut disebutkan:

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ

“Karena itu, serulah manusia kepada jalan itu dan tetaplah istiqamah” (QS. Asy-Syura: 15)

Di sinilah makna perlawanan menemukan kedalamannya. Mengajak tanpa keteguhan mudah berubah menjadi slogan. Sebaliknya, bertahan tanpa arah hanya melahirkan keras kepala. Keduanya membutuhkan satu sama lain: keyakinan yang memiliki tujuan dan keteguhan yang memiliki alasan.

Barangkali itulah pelajaran yang lebih luas dari sebuah pohon. Kita sering terpukau pada tingginya batang, rindangnya daun, atau buah yang tampak dari kejauhan. Padahal yang membuatnya bertahan justru bagian yang tidak terlihat: akar.

Sebuah bangsa, gerakan, bahkan seorang manusia pun demikian. Ketika dunia berubah cepat dan tekanan datang dari berbagai arah, pertanyaan terpenting bukan selalu seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Bisa jadi pertanyaan yang lebih menentukan adalah: seberapa dalam akar yang kita tanam?

Sebab pada akhirnya, yang menentukan apakah sesuatu akan tumbang bukanlah seberapa keras angin bertiup, melainkan seberapa dalam ia berakar.

Bagikan:
Terkait
Komentar