Sebelum Kabut Membuat Kita Lupa Cara Melihat 

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika kebohongan tidak lagi datang sebagai kebohongan. Ia mengenakan pakaian hukum, berbicara tentang hak asasi manusia, mengaku membela orang tertindas, dan berdiri dengan wajah seolah-olah berada di pihak kebenaran. Justru karena itulah ia menjadi berbahaya.

Kebenaran dan kebatilan, dalam banyak keadaan, tidak hadir sebagai dua benda yang mudah dipisahkan. Keduanya bisa dicampur, dibungkus dengan bahasa yang sama, lalu disodorkan kepada publik sebagai satu paket. Di situlah fitnah bekerja: bukan semata-mata dengan menyebarkan dusta, melainkan dengan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar tampak benar.

Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi kata-kata besar. Hukum, demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, keadilan, bahkan pembelaan terhadap kaum tertindas. Semua terdengar indah. Tetapi kata-kata yang indah tidak selalu lahir dari niat yang indah.

Di panggung internasional, misalnya, negara-negara besar dapat berbicara tentang hukum internasional sambil melakukan tindakan yang menimbulkan kehancuran di negeri lain. Mereka dapat mengutuk pelanggaran hukum sembari mengabaikan pertanyaan sederhana: hukum yang mana, dan berlaku untuk siapa?

Inilah paradoks yang membuat ruang publik menjadi keruh. Bahasa moral tetap dipakai, sementara tindakan justru bergerak ke arah sebaliknya. Sebuah invasi dapat disebut sebagai upaya menjaga keamanan. Pendudukan dapat disebut sebagai operasi pembebasan. Kekerasan dapat dibungkus sebagai perang melawan terorisme. Ketika sebuah istilah berubah menjadi selimut bagi kenyataan, masyarakat tidak hanya menghadapi kebohongan, tetapi juga manipulasi makna.

Di titik ini, persoalannya bukan sekadar siapa yang paling keras berbicara. Persoalannya adalah siapa yang mampu melihat hubungan antara kata dan tindakan.

Fitnah tumbuh subur ketika manusia hanya mendengar slogan, tetapi tidak memeriksa kenyataan di baliknya.

Baca Juga  Menjaga Semangat Revolusi: Ketika Slogan Harus Menjadi Keyakinan

Karena itu, melawan fitnah tidak cukup dengan kemarahan. Yang dibutuhkan adalah pencerahan; kemampuan untuk menyingkap sesuatu yang sengaja dibuat samar. Kebenaran membutuhkan cahaya agar dapat dibedakan dari bayang-bayang yang menyerupainya.

Persoalan itu tidak hanya terjadi dalam politik global. Dunia Islam pun menghadapi bentuk fitnah yang tak kalah serius: pertentangan sektarian. Perbedaan mazhab yang semestinya menjadi bagian dari keragaman sejarah dan pemikiran dapat diubah menjadi bahan bakar permusuhan.

Ketika umat Islam saling mencurigai, saling mengkafirkan, atau menganggap perbedaan sebagai alasan untuk saling menghancurkan, yang tumbuh bukan kekuatan agama, melainkan kelemahan kolektif. Perbedaan yang semestinya dikelola dengan pengetahuan justru dipelihara melalui fanatisme.

Dalam konteks yang lebih luas, konflik semacam itu bukan hanya persoalan teologi. Ia juga menyentuh politik, ekonomi, sumber daya, dan kepentingan geopolitik. Kawasan tempat umat Islam hidup merupakan salah satu wilayah paling strategis di dunia. Minyak, jalur perdagangan, posisi geografis, dan kekayaan alam membuatnya menjadi ruang perebutan kepentingan. Karena itu, perpecahan internal selalu memiliki konsekuensi yang jauh melampaui perbedaan pendapat.

Namun ada persoalan yang lebih dekat: bagaimana fitnah bekerja di dalam diri manusia sendiri.

Manusia sering kali melakukan kesalahan, lalu menciptakan alasan untuk membenarkannya. Setelah tindakan keliru terjadi, pikiran bekerja keras mencari pembenaran. Kita menyusun argumen agar kesalahan tampak masuk akal. Kita mencari teori untuk membuat hati lebih tenang. Kita membangun filsafat kecil di sekeliling tindakan yang sebenarnya kita tahu keliru.

Barangkali inilah salah satu kelemahan manusia yang paling tua: bukan hanya melakukan kesalahan, melainkan kemudian menciptakan pembenaran atas kesalahan itu.

Di sinilah ruang publik menjadi semakin berbahaya. Seseorang dapat meneriakkan kecintaan kepada hukum, tetapi tindakannya justru merusak hukum. Seseorang dapat mengaku membela suatu nilai, tetapi perilakunya membuka jalan bagi penghinaan terhadap nilai tersebut. Slogan dan tindakan berjalan ke dua arah yang berbeda, sementara masyarakat dipaksa memilih berdasarkan slogan.

Baca Juga  Imam Khamenei tentang Invasi Modern dan Pentingnya Menjaga Harapan Bangsa

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan mekanisme semacam ini dengan ungkapan yang tajam:

وَ لَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ وَ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ فَيُمْزَجَانِ فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلِي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ

“Sebagian diambil dari yang ini dan sebagian dari yang itu, lalu keduanya dicampurkan. Pada saat itulah setan menguasai para pengikutnya”

Gambaran itu terasa sangat dekat dengan zaman kita. Sedikit kebenaran diambil dari sini. Sedikit kebohongan diambil dari sana. Keduanya dicampur hingga batasnya menghilang. Yang benar kemudian tampak mencurigakan, sedangkan yang salah memperoleh wajah yang meyakinkan.

Media sosial mempercepat proses tersebut. Potongan informasi dapat beredar tanpa konteks. Pernyataan lama dapat dipisahkan dari latar belakangnya. Sebuah fakta dapat ditempelkan pada kesimpulan yang sama sekali berbeda. Dalam hitungan menit, sesuatu yang belum tentu benar dapat dipercaya jutaan orang hanya karena dikemas dengan baik.

Maka, kemampuan membedakan menjadi semakin penting.

Bukan berarti setiap perbedaan adalah fitnah. Bukan pula berarti setiap orang yang berbeda pendapat sedang menipu. Justru karena dunia begitu kompleks, manusia membutuhkan ketelitian untuk membedakan kritik dari provokasi, perbedaan dari permusuhan, fakta dari propaganda, dan keberanian dari kecerobohan.

Gagasan ini kemudian menyentuh tugas yang lebih dalam: menjaga kejernihan pikiran.

Di tengah banjir informasi, orang yang paling berbahaya bukan selalu mereka yang tidak mengetahui apa-apa. Kadang justru mereka yang mengetahui sedikit, tetapi merasa mengetahui semuanya. Mereka mudah mengambil satu potongan kebenaran, lalu menggunakannya untuk membenarkan keseluruhan pandangan.

Karena itu, pencerahan bukan sekadar berbicara lebih banyak. Ia adalah keberanian untuk menunjukkan batas antara satu hal dan hal lainnya. Menyebut sesuatu sesuai kenyataannya. Mengembalikan kata kepada maknanya. Menolak mencampurkan kebenaran dengan kebatilan hanya karena campuran itu lebih mudah dijual.

Baca Juga  Ilmu Adalah Tambang yang Tak Pernah Habis: Mengapa Imam Khamenei Menjadikan Sains sebagai Fondasi Kemandirian Bangsa

Sebab ketika kabut semakin tebal, manusia tidak terutama membutuhkan suara yang paling keras. Ia membutuhkan cahaya.

Dan mungkin, di zaman ketika kebohongan semakin pandai berbicara seperti kebenaran, tugas paling mendesak kita bukan memenangkan setiap perdebatan. Melainkan menjaga kemampuan untuk tetap melihat.

Sebab sekali manusia kehilangan kemampuan membedakan, ia tidak perlu lagi dipaksa untuk tersesat. Ia akan berjalan sendiri menuju arah yang ditunjukkan oleh kabut.

Bagikan:
Terkait
Komentar